Membawa Jawa Dimata Dunia


Agna Wikantara Dwi Hendaru Putra, anak terakhir dari dua bersaudara kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah Eropa.

Pemuda asal Klaten yang kerap dipanggil Agga, yang pada tahun lalu pernah tampil dalam acara sosial Internasional dan perayaan Natal 2016, belum lama ini pada bulan Maret 2017 mengikuti serangkaian acara seminar sosial Internasional. Acara ini diikuti oleh 11 negara bertempat di kota Waldenburg, Stuttgart, Jerman. Ke-11 negara itu yaitu Jerman, Nepal, Hungaria, Ukraina, Brasil, Bosnia, Kirgistan, Kasakstan, Tansania, Georgia dan Tentunya Indonesia. Dalam acara ini seriap wakil delegasi diberkan kesempatan untuk mengenalkan dan mempromosikan potensi kebudayaan dan pariwisatanya.

Termasuk Indonesia, dalam kesempatan itu, Agga mempresentasikan serta mempromosikan potensi pariwisata yang dimiliki oleh Indonesia, wisata yang telah diangkat untuk diperkenalkan diantaranya Candi Prambanan, Sendratari Ramayana, Umbul Ponggok, serta tidak lupa juga sebagai mantan finalis Putra Lurik 2015 untuk mengenalkan kain khas dari Klaten yaitu kain Lurik, dimana kain yang sarat akan makna adat ketimuran khususnya orang Jawa dan filosofi  kehidupan.

Pada hari berikutnya, di moment  pertunjukan seni dari masing-masing negara. Kamis, 9 Maret pukul 21.00 waktu setempat Agga, menjadi pusat perhatian, dari wakil delegasi negara-negara yang datang. Saat sebuah lagu Jawa (Bawa) dilantunkannya sebelum menari Jawa “Gambyong versi Kakung (Putra)”. Terlebih dengan berbalut kostum sederhana penari Jawa yakni Jarit bermotif Batik dan atasan Surjan. Menariknya lagi, Surjan yang dikenakan terbuat dari kain Lurik yang pada hari sebelumnya telah dipresentasikan.

Hal itu membuat atmosfer peserta seminar semakin semarak dan Standing Aplause. “perasaan saya luar biasa campur aduk ketika nembang Jawa dan musik gamelan mulai diputar, rasa-rasanya ingin menangis haru dan bangga bisa diberikan kesempatan untuk mengenalkan Indonesia dengan keragaman dan keistimewaannya ke kancah internasional.

Memang sedari kecil orang tua saya sering mengajak untuk menyaksikan kesenian rakyat seperti Wayang Kulit, Wayang Orang, Tari-tarian dan mungkin itu cara beliau meracuni dan mengajarkan saya untuk bangga dan cinta budaya Indonesia khususnya budaya Jawa hingga sampai saatnya bisa saya dedikasikan hasil didikan beliau di kancah global” ujar pemuda yang kental dengan bahasa Jawanya ini.

Setelah pertunjukan selesai sebuah pertanyaan  dari teman berkewarganegaraan Tansania dilontarkan padanya “Agga, kenapa tarian dari negaramu begitu lemah gemulai (luwes) gerakannya? Jawabnya “jadi tarian dari Indonesia itu banyak ragamnya dan berbeda-beda, namun khususnya di pulau Jawa (Jawa Tengah) di mana saya tinggal tarian dibagi menjadi beberapa jenis yaitu Tari untuk Putra atau Tari untuk Putri, dimana Tari Putra terbagi menjadi Putra Halus atau Putra Gagah, nah Tari yang saya tarikan termasuk Putra Halus dimana setiap gerakannya halus dan lembut”.

Ada satu pertanyaan lagi yang membuat dia dan beberapa temannya tertawa “Agga, lalu apakah menari di club atau diskotik juga sama gerakannya seperti yang kamu tarikan?”. Jawabnya “untuk menari di diskotik ya tentu tidak sama seperti tari tradisional, jangan salah di Indonesia banyak anak muda yang berprestasi bahkan sampai luar negeri untuk mengikuti internatinal dance kompetition karena kelihaiannya dalam menari Modern seperti Break Dance, Hip Hop dll”.

Tak luput dari sorotan kamera, ya setelah usai penampilan banyak teman-teman dari negara lain yang mengambil gambar dan berfoto bersama dan mengamati kostum yang dikenakannya.

 

Penulis:  Agna Wikantara Tinggal di Jerman

Editor : Ihsan Abdulah Nusantara

Tags