Abdul Rasid, Karir Birokrasi Hingga Sang Penantang


Abdul Rasid kepala Badan kesatuan Bangsa dan Politik. Waktoe | dok

Abdul Rasid kepala Badan kesatuan Bangsa dan Politik. Waktoe | dok

JAMBI - Abdul Rasid lahir dan besar di desa Teluk Majelis, kecamatan Kuala Jambi kabupaten Tanjung Jabung kala itu yang sekarang menjadi Tanjung Jabung Timur setelah pemekaran ditahun 1999. Teluk Majelis merupakan  satu perkampungan nelayan yang sangat padat dengan aroma khas hasil laut. Tanjab Timur, 18 Mei

Rumah- rumah panggung menjadi model rumah hunian di kampung Teluk Majelis, karena hamparan perkampungan ini berupa rawa dan langsung berbatasan dengan  laut.

Abdul Rasid dilahirkan dari  Amat Putu, seorang Bapak yang mendidik cukup disiplin. Sejak lahir hingga usia (12) klas 5 SD masih tinggal di Teluk Majelis namun menginjak klas 6 SD harus pindah ke Muara Sabak. Rasid kecil juga digembleng di Madrasah Diniyah di sore hari setelah siangnya di sekolah formal.

SYAMSUAR KASEK SD V MUARA SABAK  MEMILIKI ANDIL BESAR DALAM MEMBENTUK KARAKTER DASAR ABDUL RASID

Dalam perjalanan hidup Abdul Rasid pun diwarnai dengan dinamika hidup pribadi Rasid, pernah jual es lilin keliling kampung untuk mendapatkan uang tambahan agar tak merepotkan  kedua orangtuanya.

Rasid kecil setelah menamatkan SD nya, melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Muara Sabak, sampai lulus dan melanjutkan  SMA di kota Jambi tepatnya di SMA Negeri 6 Jambi yang penuh suka dan duka hingga akhirnya beliau dapat menempuh pendidikan S1.

Abdul Rasid memiliki prinsip mandiri, maka meski orangtuanya dibilang cukup, beliau disaat kuliah tetap melakukan kerja sambilan, mulai narik becak, hingga jadi buruh bangunan.

Disisi lain, religiusnya Abdul Rasid juga tidak diragukan, mengaji, tekun mempelajari agaman dan rutinitas kewajiban beragama tidak dia tinggalkan dan mendoakan serta berbakti kepada kedua orangtuanya menjadi kunci keberhasilannya.

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN TERUS MENDOAKANNYA MENJADI KUNCI KESUKSESAN KITA

Setelah menyelesaikan sarjananya Abdul Rasid menggeluti pekerjaan mulai dari Salesmen dealer hingga bekerja di perusahaan sawit. Upaya dan kerja kerasnya akhirnya menuntun Abdul Rasid menjadi PNS.

Berangkat dari karir di birokrasi, pertama kali ditempatkan sebagai Kasubag di Bappeda Kabupaten Tanjabtim kemudian dimutasi sebagai Sekcam Kecamatan Mendahara Ulu, dengan karir yang ia tekuni diangkat Bupati menjadi Camat Mendahara Ulu lebih kurang 5 tahun, kemudian dimutasi lagi menjadi Camat Geragai.

Abdul Rasid mulai menduduki Jabatan di Eselon II sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Tanjabtim, kemudian di mutasi dibeberapa kedinasan mulai Dinas Perhubungan, kemudian Disperindag, hingga terakhir dimutasi di Badan Kesbangpol hingga sekarang.

Hingga Rasid dewasa, setelah lulus Kuliah, Rasid juga aktif dalam kegiatan Organisasi baik organisasi kemahasiswaan hingga Ormas. Bahkan Rasid juga pernah menjadi kader Partai Amanat Nasional besutan Amin Rais. Hingga kemudian ditinggalkan karena diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ditugaskan di kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Kenangan mendalam disaat Abdul Rasid, menjabat sebagai camat Mendahara Ulu  selama lebih kurang Lima setengah tahun (5,5 tahun) membuat Abdul Rasid banyak dikenal oleh warga mendhul singkatan dari kecamatan Mendahara Ulu.

Abdul Rasid menceritakan suka duka menjadi camat selama itu, dimana dia harus tidur di rumah bedeng (rumah kost) Polindes yang setiap sore harus menyalakan diesel untuk penerangan. Pernah juga tinggal dirumah bapak H. Mustakim yang sekarang dipakai untuk gedung sekolah.

Penyambutan Abdul Rasid di kampung halaman kedua ini,  bisa dibilang sangat baik, tokoh masyarakat terlihat sangat familier. Kades- kades dimasanya  menjabat sangat dekat dengan Abdul Rasid. tanpa diundang, saat tahu Abdul Rasid mampir (singgah, red) mereka menyempatkan diri untuk bertemu dan berdiskusi.

Banyak harapan yang disampaikan ke Abdul Rasid, dalam diskusi tersebut, mulai dari Pembangunan Infrastruktur, Peningkatan Ekonomi hingga soal Pendidikan dan Kesehatan, yang selama ini mereka bilang tidak pernah terbukti apa yang dijanjikan bupati.


WARGA SIMPANG TUAN MASIH TERINGAT GAGASAN ABDUL RASID MEMINDAHKAN MASJID KECIL KELOKASI BARU HINGGA MENJADI MASJID AGUNG SIMPANG TUAN YANG MEGAH DAN BERMANFAAT BAGI BANYAK ORANG.


Abdul Rasid menceritakan diatas mobil dalam perjalanan, bahwa dulu masjid ini kecil dan kondisinya miring, lalu saya ngobrol dengan pengurus dan warga bagaimana kalau masjid dipindahkan dan warga setuju. Kemudian kita mencari tanah, ternyata ada yang menghibahkan tanahnya tak jauh dari lokasi masjid awal. Hingga kemudian berguyur (bertahap) mulailah kita bangun hingga jadilah seperti sekarang ini.

ALKHAMDULILLAH MASJID JADI, CUKUP BAGUS BANGUNANNYA DAN BISA DIPAKAI BERIBADAH DENGAN NYAMAN.

Abdul Rasid juga menceritakan, saat menjabat Camat Mendhul dirinya mengedepankan dialog, berbagai persoalan mengenai konflik agraria sejak dulu di sini ada, bahkan hingga pernah kejadian  waktu dulu saya diancam mau dibunuh.


SAYA TIDAK DENDAM TERHADAP PENGANCAM ITU, KARENA MEREKA ADALAH WARGA SAYA

Dalam upaya memahami keinginan warga masyarakat Abdul Rasid sering kali bertandang ke masyarakatnya, baik itu tokoh masyarakat, tokoh Agama hingga masyarakat biasa.  Dari ketemu dengan mereka maka apa yang menjadi uneg-uneg mereka kita bisa mengerti dan memahami.

Senada beberapa warga masyarakat Mendahara Ulu menyampaikan kepada Kantor Berita Waktoe, seperti yang disampaikan, mantan kades Simpang Tuan, Dia mengatakan kepempimpinan Abdul Rasid saat menjadi Camat sangat membekas, pola dan upaya merangkul kepala desa sebagai mitra kerja dibawah sangat baik. Termasuk merangkul warga masyarakat dan tidak membeda-bedakan suku, agama, jadi kita dianggap sama rata.

Abdul Rasid meski sebentar juga pernah menjabat sebagai camat geragai, sebelum menjabat aebagai kepala BKD,  Dishub hingga jabatan terakhirnya  adalah Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol).

Pengalamannya menduduki jabatan diberbagai bidang di pemerintahan mengasah kepekaan Abdul Rasid dan menjadikan Seorang Birokrat yang utuh dan berdasar pengalaman tersebut, Abdul Rasid dianggap mampu untuk memegang amanat sebagai pemimpin di bumi Sepucuk Nipah Serumpun Nibung.

Abdul Rasid, menempatkan slogan sederhana namun baginya sangat bermakna, "Bersatu", karena dengan bersatu menurutnya, kita bisa berbuat banyak hal dalam membangun kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Bersatu merupakan hakekat dari semboyan kabupaten Tanjung Jabung Timur itu sendiri. Karena dalam sepucuk nipah serumpun nibung tersebut memberikan nilai persatuan, kesatuan, dan kegotong royongan. Jadi Bersatu adalah hakekat dari sepucuk nipah serumpun nibung.

Karena dalam semboyan tersebut, daun Nipah yang merupakan bahan untuk membuat atap diartikan agar tokoh, pemimpin harus dapat mengayomi sedangkan Nibung sendiri yang dipakai tiang bangunan merupakan simbol kesatuan antar suku untuk bersatu membangun kabupaten ini menjadi sejahtera dalam kemakmuran.

Keberadaan suku Jawa, Bugis, Banjar, Melayu dan suku yang lain merupakan satu kesatuan kekuatan yang luar biasa untuk pembangunan Tanjab Timur