Bukit Naga Ukir Sabak, Risalah Peradaban Yang Terlupakan


Pekuburan cina di bukit naga ukir sabak. Waktoe | Ihsan

Pekuburan cina di bukit naga ukir sabak. Waktoe | Ihsan

JAMBI - Masyarakat disekitaran Sabak mengenal Bukit Naga Ukir dari Gapura Dermaga untuk masuk bukit tersebut yang terukir se Ekor Naga. Jika masyarakat melintas dengan perahunya  menuju pelabuhan Muara Sabak dari arah Rano atau  Jumantan, Pangkal Kemang maka akan terlihat gapura dermaga dengan ukiran se ekor Naga, maka masyarakat menyebut bukit tersebut sebagai Bukit Naga Ukir. Tanjab Timur, 12 Mei.

Bukit Naga Ukir sendiri ternyata merupakan komplek pemakaman warga Thionghua yang dulu diyakini sebagai perkampungan Cina dan Melayu, yang dibuktikan adanya pekuburan Cina dan tidak jauh dari lokasi ada pemakaman muslim Melayu. Bisa dibilang makam ini sudah cukup tua ditilik dari beberapa tulisan dibatu nisan.

Salah satu batu nisan pekuburan terbaca tahun 1943, namun diyakini banyak makam makam yang usianya lebih tua.

Disampaikan Abdul Rasid yang di dampingi Suparno mengatakan, diwaktu kecil sering bermain di pekuburan ini.

"Saya dulu waktu kecil sering main di makam ini bersama teman teman, tempatnya bersih, sejuk dan indah dengan makam makam yang tertata rapi, dan ada air yang mengalir dari atas di batuan Napal yang sangat jernih menuju sungai", ungkapnya.

Lanjut Abdul Rasid, dulu dari desa Jumantan, Pangkal Kemang dan dari Rano  kita naik perahu diatas aliran sungai yang sangat jernih menuju pelabuhan Muara Sabak dan itu melewati Bukit Naga Ukir ini.

Jadi kalau kita bersihkan aliran sungainya yang dulu sebagai satu-satunya jalur transportasi saya yakin airnya sangat bersih.Dan, ini bisa menjadi satu destinasi wisata yang menarik dipadukan dengan komplek Bukit Naga Ukir.

Apalagi, kalau kemudian dihidup lagi tradisi Imlek yang dulu sering dilakukan anak keturunan dari warga Cina yang di makamkan disini.

Destinasi ini, tentu akan memberikan income bagi Pemda maupun masyarakat sekitar. Dan, tidak kalah pentingnya dengan pembersihan sungai merupakan bagian dari tata kelola air untuk pemeliharaan ekosistem lingkungan dan mencegah dampak banjir.

Sementara Suparno, mengatakan, makam Cina yang ada di Bukit Naga Ukir dulu Nisannya memakai kayu, namun oleh ahli warisnya yang kaya dibangun dengan semen. Yang miskin masih dibiarkan berupa gundukan tanah.

Dibawah itu, sambil menunjuk aliran sungai yang sudah tertutup ilalang, Suparno mengatakan ada perahu /Jung yang panjangnya kurang lebih 15 meter yang dibuat tanpa paku, jadi menggunakan pasak dan tali ijuk. Namun oleh masyarakat papan papan sudah banyak yang diambil untuk keperluan mereka.

" Jung/Perahu yang terpendam di sungai di Bukit Naga Ukir yang panjangnya 15 meter tersebut bukan dari bahan  kayu disini, tetapi diperkirakan dari negara Cina sana", Ujar Suparno.

Masih kata Suparno, bukit ini dulu bersih karena ada juru rawatnya, sekarang kurang terawat karena sebagian sudah ada yang dipindahkan ke kota Jambi.

Untuk menuju bukit Naga Ukir, akses satu satunya dulu dari sungai, sekarang sudah ada akses dari darat, mobil bisa langsung masuk. Sayangnya akses sungai jadi buntu oleh semak belukar karena tidak dirawat dan diperhatikan.

"Saya berharap  kedepan  jika pak Rasid jadi Pemimpin di Tanjab Timur ada  perhatian terhadap komplek Bukit Naga Ukir, dengan membersihkan aliran sungai dan bisa dijadikan destinasi wisata, warga masyarakat juga dapat merasakannya", Pungkasnya.

Hingga kini belum ada referensi kapan keberadaan pemakaman Cina di Bukit Naga Ukir dan keberadaan perahu Jung yang terpendam di aliran sungai dibawahnya.