Harga Sawit Dalam Tekanan, Sekda: KIta Cari Solusinya


tandan kosong sawit. foto/ ihsan

tandan kosong sawit. foto/ ihsan

JAMBI – Akibat mendapat tekanan dunia di bidang lingkungan hidup dimana sawit dianggap bagian dari perusakan lingkungan  ditambah terjadinya panen raya bunga matahari, dimana keduanya (sawit dan bunga matahari, red) sebagai bahan baku CPO, maka permintaan sawit menurun dipasarkan dunia. Sengeti, Rabu, 5 Desember.

Hal ini disampaikan sekda kabupaten Muaro Jambi, M Fadhil Arief terkait harga sawit yang semakin menurun. Sekda menjelaskan regulasi dari Permentan dan juga surat keputusan dinas perkebunan dan peternakan provinsi Jambi hanya menjamin petani plasma yang bekerja sama dengan perusahaan perkebunan, dimana harga sawit distandarisasi.Namun, tidak begitu bagi petani swadaya.

“Bunga Matahari sebagai saingan CPO kita, maka pemerintah telah berupaya tidak hanya mengandalkan eksport”, terang sekda.

Lanjut sekda, Pemerintah pusat telah berupaya akan dijadikan sebagai bahan baku biodiesel 50 persen minyak CPO dicampur dengan minyak solar, namun aplikasinya masih menunggu.

“Jadi nanti di 2019 minyak CPO akan kita beli”, ungkapnya.

Regulasi jangka pendek, kita sosialisasikan kepada camat camat akan menyampaikan ke petani dimana sawit yang masa panen sudah habis, bisa dilakukan peremajaan (Replanting), karena ada subsidi dari pusat lumayan besar, kata Sekda.

“Untuk dapat subsidi replanting, kepemilikan lahan harus pas, dan kita terapkan mulai dari bibit, semisal di Sungai Bahar sudah mulai berjalan replanting tersebut”, ujarnya.

Sementara ini  kita lakukan koordinasi dengan instansi terkait dan perusahan kelapa sawit agar dapat mengambil buah sawit dari petani terdekat.

“Tetapi petani tidak bisa mengalahkan perusahaan, karena mereka disaat tangki tangkistock penuh hanya bisa mengambil petani dari plasma”,pungkasnya.

Dilema petani swadaya, mereka memilih membiayai perkebunannya dari penyiapan lahan, pembibitan, olah lahan, hingga panen tak mendapatkan tempat untuk menjual sawit. Tidak ada jaminan harga. Berbeda dengan petani plasma yang menginduk ke perusahaan perkebunan yang juga memiliki pabrik pengolahnya, mereka mendapatkan jaminan harga.

Namun, jaminan harga jika diperuntukan untuk membayar hutang dari proses olahlahan hingga pemanenannya pun masih harus menunggu puluhan tahun untuk bisa lunas. Seperti memiliki hutang abadi.