Hasil Penelitian Arkeologi Kapal Kuno Lambur, Awal Menyilau Maritim Nusantara


Arkeologi UI, Ali Akbar mempresentasikan hasil penelitian kapal kuno lambur 1, Muara Sabak Timur, Tanjung Jabung Timur-Jambi. Waktoe/ihsan

Arkeologi UI, Ali Akbar mempresentasikan hasil penelitian kapal kuno lambur 1, Muara Sabak Timur, Tanjung Jabung Timur-Jambi. Waktoe/ihsan

JAMBI - Badan penelitian dan pengembangan daerah menyampaikan dalam seminar hasil penelitian situs perahu kuno didesa lambur 1 kec. Muara Sabak Timur kab. Tanjung Jabung Timur. Dihadiri oleh wakil Bupati Robby Nahliansyah, Suharno perwakilan BPCB provinsi Jambi, para peneliti, Fak Ilmu budaya Unja, Universitas Indinesia, dan Unsur Forkopinda.

Dalam laporannya BPPD Tanjab Timur, mengetahui potensi kepurbakalaan, dan zonasi kepurbakalaan, maka dilakukan penelitian 7 Agustus -31 Nopember 2019 bekerjasama dengan UI (Universitas Indonesia) dan BPCP serta Unja. Anggaran pun memakai sumber dana dari APBD dari Tanjab Timur.

Dalam sambutannya wabup Robby Nahliansyah, menyampaikan penelitian situs perahu kuno di Lambur 1, merupakan situs cagar budaya yang diketahui 2017, dan direncanakan untuk mengungkapnya namun  baru 2019 bisa dilaksanakan.

Wabup berharap Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi  dapat mengungkap cagar budaya dan berefek pada dunia pariwisata. Disamping itu muncul kesadaran lokal sangat penting di era industrialisasi.

Wabup Robby Nahliansyah juga menyampaikan target tahun 2020 sudah ada  terbentuk museum, material perahu kuno, dan barang- barang yang sudah diangkat bisa dikumpulkan. Dengan museum sementara bisa menjadi destinasi wisata budaya dan edukasi.

"Akhirnya Tanjab Timur tidak hanya memiliki destinasi wisata air tetapi juga memiliki wisata budaya dan sejarah", katanya.

Kita nanti bisa bekerjasama dengan museum Jambi dalam menata museum Kapal kuno ini, Litbang kita sudah mengarah kesana ya, pungkas Wabup.

Moderator seminar pun menyampaikan logo Tanjab Timur, gambar perahu dibawah sepucuk nipah serumpun nibung, Perahu sesuatu yang hidup, mulai dari pembuatan, berlayar ada ritual yang dilakukan termasuk pantangan saat berlayar.

Ali Akbar, Arkeolog dari Universitas Indonesia memaparkan, situs ini sudah diketahui sejak 1995 namun 2 tahun yang lalu Bupati dan wabup menemui kami (UI) di Jakarta dan untuk membicarakan kerjasama dalam penelitian mengenai situs kapal kuno.

Departemen Arkeologi UI Ali Akbar, mengungkap kerajaan Sabak, yang  ajaib yang disampaikan  Alhind dalam buku berbahasa arab dan berisi kompilasi cerita yang naskahnya di Museum Turki. Kitab Akbar Alsin dan Alhind kisah perjalanan pedagang ke Cina dan India ditulis Abu Hasan. Kitab-kitab tersebut bercerita disuasana 800- 1000 Masehi dengan adanya kerajaan Zabaj. Kerajaan Zabaj sendiri diceritakan dalam kompilasi cerita tersebut  dipimpin seorang Maharaja.

Ali Akbar juga menceritakan, hasil riset di Lambur,  situs perahu yang berafa di daratan yang berjarak 12 KM dari laut, ternyata situs kuno banyak dijumpai disungai yang nyambung dengan sungai batanghari.

Banyaknya sungai yang kering, dilambur tanahnya tanah liat dan stabil, terdapat banyak situs dekat dengan  lokasi seperti situs perahu Siti Hawa dll.

Perbedaan kondisi vegetasi, berbeda antara bekas sungai lama dan daratan.

Kata Ali Akbar, Ditemukan banyak pecahan keramik dan batu bata kuno, berikut  Sabuk emas ditemukan di Lambur dan sekarang berada dimuseun Siginjai.

Lapisan tanah di Lambur dibagi 2 lapisan yaitu humus dan lumpur,  dengan penemuan Kapal Kuno ini ternyata jenis perahu besar dan lebih menyebut kapal karena panjang 24 Meter,  ujungnya ke barat menuju ke laut.

Usia perahu, abad 1-13, anehnya saat di uji Karbon C 14, Usianya 1500 masehi (analisis Karbon).
Di Lambur sendiri cukup lengkap, karena terdapat 7 perahu yang ditemukan.

"Maka perahu dengan panjang 24 meter bisa berlayar, meluhat teknologie adalah terusan Asia Tenggara", cetusnya.

Kata Ali Akbar, sekarang dilokasi penemuan terdapat  wherehouse untuk menyimpan dan kedepan bisa menjadi moseum. Rencana kedepan ada replika kapal yang juga bisa dibawa berlayar bahkan dengan besaran tersebut bisa sampai ke Eropa,  seperti perahu borobudur (samudra laksa).

Suharno dari BPCB Jambi, saat acara mengatakan permasalahan kapal kuno bagaimana pelestariannya, didalamnya ada perlindungan dan pemanfaatan yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Kalau masyarakat tidak bisa menikmati hasil dari pelestarian juga tidak bagus.

Nofi dari balai Arkeologi Sumatera Selatan, menyampaikan  secara geografis Jambi dan pantai timur Sumatera sama. Perahu kayu yang ditemukan bentuk dasar dari perahu lesung. Dan, kategori Tongkang.

"Yang mengganggu saya adalah terminologi galangan, tempat, bengkel ya, tapi bukan galangan", ungkapnya.

Wendri Warhat, seorang penulis  menyampaikan yang ingin kita tahu hasil penelitian, sebuah kapal yang baru dibangun. Wendri mengkritik penelitian belum bisa memastikan bentuk kapal. Dan ditaksir 24 meter.

Teknologi pasak, tdk hanya di perahu tetapi dirumah.  Kritikan yang lain mengenai uji carbon, Sejauh mana tingkat akurasi Carbon C14 apa yang diukur.

Menurut Wendri, dengan menyilau kapal lambur kita mau apa. Kedepan berangkat dari itu seharusnya kita menyilau yang lebih luas lagi.

Hal pasak ternyata tusuk damar, seperti yang disampaikan Nofi, dan,  fungsi damar dalam tambo tua, tali temali kapal terdiri  dari serat nanas, ijuk, dan sabut kelapa, dengan perekat getah damar.

Galangan kapal, apakah betul ini galangan kapal yang berhubungan dengan industrialisasi. Maka menyilau sejarah harus ada kejujuran.

Masih kata Wendri, Di air hitam laut, disitu tempat pertemuan air selat malaka, laut china selatan, laut jawa dan sungai batang hari (Hitam=tam=pertemuan air laut).

Menanggapi kritikan Wendri, Ali Akbar mengatakan Uji Carbon, sangat akurat dilakukan di Batan. Sedangkan yang diuji hanya terdapat Ijuk dan Kayu, memang tidak sama dan kayu cenderung usianya lebih tua.

"Ini bukan kapal portugis, dalam penelitian tidak ditemukan  dalam tali unsur serat nanas dan serat kelapa", ungkap Ali Akbar.

Ali Surahman senada dengan Wendri mengatakan kapal lambur untuk menyilau peradapan maritim bahkan dunia. Maka diharap ada rekomendasi yang pasti.

Pemda diharapkan membuat FGD, dan ini harus ada imbal balik.

Rajo Muhammad, menyampaikan lahir 1946,  kalau kita membentuk perkumpulan tidak hanya berdasarkan teknologi tetapi harus dari ahli waris yang ada disitu.

Apa sebab perahu di Lambur, kajiannya seperti apa. Rahasia/kerajaan melayu pantai timur, 1500, Sultan Syarif berumur 150 th,  1500-1700,  dengan Benteng 500 depa yang terbuat dari tanah kuning.

Kerajaan (Air Hitam laut), menjajah sampai ke Palembang. Perbatasan palembang dengan Jambi sebetulnya di batu buruk.

Tanjung Jabung adalah tempat ombak  bersabung, jadi banyak kapal tenggelam. Dan,  Rasau/ Nipah adalah laut. Maka perahu tadi (perahu kuno lambur) naik dari laut atau ditarik.

Beberapa audien pemerhati budaya dan sejarah banyak yang berharap dalam seminar hasil penelitian ini juga mengundang yang kontra (memiliki pendapat berbeda) agar menambah kasanah literasi. Dan mereka juga berharap penelitian arkeologi ini sebagai pintu masuk  karena tinjauan dari sisi yang lain perlu  dan dibutuhkan seperti dari disiplin ilmu sosiologi, antropologi, Filologi dan lainnya.