HGN 2018 Muaro Jambi, Masnah: Saya Jadi Bupati Karena Jasa Guru


pemberian kartu Taspen Digital dalam peringatan guru nasional kabupaten Muaro Jambi oleh bupati Masnah Busyro kepada Guru. foto/ Ihsan

pemberian kartu Taspen Digital dalam peringatan guru nasional kabupaten Muaro Jambi oleh bupati Masnah Busyro kepada Guru. foto/ Ihsan

JAMBI – Bupati Masnah Busyro hadir langsung dalam peringatan HUT PGRI ke 73 dan Hari Guru Nasional tahun 2018, yang dihelat di lapangan komplek perkantoran Bukit Contoh Kenang, Muaro Jambi. Sengeti, 28 Nopember.

Masnah Busyro saat  memberikan sambutan, tiba tiba menyampaikan kepada seluruh guru yang hadir sambil menunjuk ke seorang guru. “ Bahwa yang ditengah guru SD Seponjen, Saya Masnah Busyro tidak akan bisa berdiri tanpa jasa bapak dan ibu guru”, ungkapnya.

Masnah menceritakan, Seponjen desa kecil dan termasuk desa Inpres Desa Tertinggal (IDT). Dan, mereka guru guru ini  pahlawan tanpa tanda jasa, tanpa pamrih mengajar.

Masih mengungap masa sekolah, Pak Tasrim itu guru saya yang paling galak, jika saya tidak bisa hafal maka saya dipukul, ada juga ibu Nirmala, ibu Rus, dan mereka tidak pernah berubah memanggil saya dengan kata Nak, kata Masnah.

Masnah juga berharap kepada  Bakri anggota DPR-RI dan terpilih lagi memperjuangkan kesejahteraan bapak ibu semua.

“Habis kata kata saya dan saya terharu”, ujarnya

Lanjut Masnah, Ada APSI (Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia kabupaten Muaro Jambi), Pengawas  sekolah harus  aktif dan selalu berkomunikasi, begitu juga Kasek.

“Akan kita kumpulkan dan kita ajak untuk memecahkan berbagai masalah, bagaimana berbenah dunia pendidikan Muaro Jambi”, pinta Masnah.

Dalam sambutannya  Irwanisah plt kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam sambutannya, mengajak bagaimana meningkatkan profesionalisme guru menuju pendidikan abad 21, profesional membangun dan mengembangkan diri, sosial, dan tanggungjawab demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagaimana Guru mampu meningkatkan dan menggunakan teknologi untuk perkembangan pendidikan serta menanamkan nilai dan karakter. Peran guru dituntut memberikan generasi kedepan dengan menanamkan karakter agar tidak tergerus teknologi.

Pemerintah mengeluarkan regulasi permendiknas 15/2015 tentang beban guru, kedisiplinan sangat dituntut, disemua sekolah menggunakan finger print dan bisa dibeli dari dana bos.

Bakri DPR RI komisi V, saat diberi kesempatan untuk berbicara didepan para guru, merasa terharu ketemu guru, bisa jadi DPR karena jasa guru. Ada hikmah bahwa saya harus berjuang selama 10 tahun di bidang infrastruktur dan berniat akan berjuang dalam fungsi anggaran untuk meningkatkan kesejahteraan guru.

“Ada 100 san sekolah akan direhab, karena tahun 2019 pos ada di kementrian PUPR, saya akan berjuang karena saya di bagian anggaran”, ujar Bakri

 Saya, juga mengapresiasi Masnah Busro yang  berjuang dalam hal kesejahteraan guru ditilik hingga kini semakin meningkat, ujarnya.

Namun acara belum selesai, banyak guru guru yang sudah meninggalkan tempat acara dan hingga pihak panitia pelaksana menghimbau agar para guru kembali ke tempat duduknya.

Dari hasil penelusuran kantor berita Waktoe diperoleh informasi dari beberapa guru yang menyatakan kekecewaannya terhadap panitia dalam hal ini PGRI.

Karena setiap tahun acaranya hanya duduk dan mendengarkan. “Ini HUT PGRI kenapa tidak dilakukan upacara sebagai bagian dari perjuangan guru”, ujar guru.

Diketahui, Pemerintah Kabupaten Muarojambi menggelar peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke 73 Tingkat Kab. Muarojambi.  Acara ini dilaksanakan di lapangan Bukit Cinto Kenang, Sengeti di Perkantoran Kab. Muarojambi. Dan, Bupati Muarojambi, Masnah Busro.

Selain itu, tampak hadir di lokasi acara SKPD, Unsur Forkompimda, Ketua PGRI Kab. Muarojambi, Kepala Dinas Pendidikan Kab. Muarojambi, Kepala Sekolah serta ribuan guru dari sekolah-sekolah yang ada di Kab. Muarojambi.

Menyoal Guru Yang Bubar

Kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muaro Jambi, Irwanisah saat ditanyakan mengenai anggota PGRI  yang meninggalkan acara dalam peringatan HUT PGRI ke 73 dan HGN 2018, disaat bupati dan jajaran Forkopinda masih berada di tempat acara, mengatakan  sangat menyayangkan guru bubar padahal  bupati masih ada ditempat, inginnya setelah acara selesai mereka bubar.

“Kita akan mengingatkan kembali ke masingmasing sekolah kepada ketua PGRI dan meneruskan ke kecamatan agar kejadian tersebut tidak terulang”, ujar Irwanisah.

Kata Irwanisah, konsep peringatan tersebut, dinas Pendidikan berupaya mendisiplinkan  perilaku yang lebih tertib dan bersih, maka  kita siapkan kantong sampah, Alhamdulillah sudah baik meskipun masih ada sampah sampah yang dibuang sembarangan namun secara garis besar peduli tertib dan menjaga kebersihan, sudah mampu dijalankan.

“Banyak Guru yang membuang sampah dikantong kantong plastik yang kita sediakan”, tegasnya

Mengenai komplain guru yang menginginkan adanya upacara bendera saat peringatan  HUT PGRI dan HGN, Irwanisah menyambut baik keinginan guru yang ingin merubah perayaan.

“Kedepan minta ketua PGRI untuk duduk bersama menampung aspirasi dan inovasi dalam  HUT PGRI dan HGN 2019”, ujarnya.

Terkait gagasan finger print, munculnya fenomena yang berdampak terhadap sertifikasi berawal dari absensi guru, maka dibutuhka satu alat ukur untuk mengetahui kedisiplinan guru .  “Pembelian alat tersebut secara regulasi boleh dianggarkan dari dana BOS karena diperbolehkan”, terangnya.

Dan, kami berharap  ada dukungan dari bupati, karena yang paling efektif finger print, bahkan kedepan bisa  terkoneksi dengan Kominfo.

“Ada beberapa guru dedikasi kedisplinanya rendah, maka dengan finger print berharap tidak  menular ke guru yang lain, dan mereka yang malas bisa disiplin lagi”, ucapnya

Finger print direncanakan untuk guru SD dan SMP, nantinya data-data  sertifikasi sudah tidak ada lagi Kong kalingkong guru dan kepala sekolah.