JIFFINA : Furniture dan Kerajinan Salah Satu Industri Prioritas Nasional


Suasana saat konferensi pers jelang opening JIFFINA 2019 di JEC, Senin (11/3). Foto : Dewi Ratih | waktoe.com

Suasana saat konferensi pers jelang opening JIFFINA 2019 di JEC, Senin (11/3). Foto : Dewi Ratih | waktoe.com

Waktoe.com - Pemerintah Indonesia telah menetapkan industri furniture dan kerajinan sebagai salah satu industri prioritas nasional. Hal ini antara lain didasarkan dari ketersediaan bahan baku berupa kayu, rotan dan bahan alami lainnya yang cukup berlimpah di Indonesia, banyak menyerap tenaga kerja serta sebagai penghasil devisa yang potensial.

Nilai impor yang tumbuh lebih kencang dari nilai ekspor membuat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia 2018 tumbuh 20,15% menjadi US$ 188,63 miliar sementara nilai eskpor
hanya tumbuh 6,65% menjadi US$ 180,06 miliar.

Ketua Committee JIFFINA 2019, Endro Wardoyo menjelaskan Forum JIFFINA Jawa-Bali bersama dengan JIFFINA International Perkasa terus mematangkan persiapan ajang pameran mebel dan kerajinan B2B (business to business) terbesar di Indonesia di daerah, Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia (JIFFINA). Sebagai bagian dari sosialisasi menuju 4th JIFFINA 2019 sekaligus untuk mendapatkan dukungan penuh dari para pelaku industri mebel dan kerajinan Indonesia.

“JIFFINA telah terbukti menjadi salah satu pameran yang efektif menggaet pengunjung dan buyers luar negeri, bahwa dengan mengikuti pameran JIFFINA 2019 para pelaku industri di Indonesia memiliki kesempatan  untuk memperluas pangsa pasar ekspor mereka,” ujarnya, Senin (11/3/2019) dihadapan awak media di JEC.

Pameran JIFFINA, sambung Endro berhasil ikut mendorong pertumbuhan industri mebel dan kerajinan Indonesia ditengah
kelesuan pasar Mebel dan Kerajinan dalam negeri dampak dari membludaknya mebel import. “Banyaknya buyers luar negeri yang akan hadir pada pameran JIFFINA 2019 ini, membuat optimis akan kesiapan Committee Jiffina 2019, untuk itu para peserta pameran dapat mempersiapkan produk dan design terbaiknya mengingat trend akan permintaan mebel dan kerajinan Indonesia untuk pasar global semakin baik. Keunikan desain yang didukung oleh nilai budaya lokal menjadi nilai jual tinggi bagi produk mebel dan kerajinan Indonesia di pasar internasional,” sambungnya.

Mencermati kondisi pasar dunia saat ini, Indonesia dengan comparative advantages yang dimiliki seperti ketersediaan bahan baku yang berlimpah, pertumbuhan tanaman (pohon) yang lebih cepat, tenaga kerja, semestinya dapat diubah menjadi competitive advantage, sehingga kedepan berpotensi menjadi salah satu pemain utama industri furnitur di dunia.

“Pameran Jiffina 2019 ini, memiliki peran penting berpotensi untuk dikembangkan menjadi market leader dalam penguatan pasar domestic, guna merangsang industry kreatif di Indonesia, khususnya dalam bidang design yang terkait dengan furniture, kerajinan, interior dan perhotelan di Indonesia,” terangnya.

Sedangkan pungkas Endro nilai produk ekspor yang berasal dari industry furniture dan kerajinan Indonesia rentan menurun, yang disebabkan oleh isu politik, biaya logistic yang tinggi, kenaikan upah buruh regional (UMR) serta tingkat produktivitas yang menurun. Pameran sendiri baru akan digelar pada tanggal 13-16 Maret 2019 di Jogja Expo Center (JEC).