Karhutla Terjadi, Dimanakah Sumur Bor BRG


Sumur Bor Badan Restorasi Gambut. Waktoe/doc istimewa

Sumur Bor Badan Restorasi Gambut. Waktoe/doc istimewa

JAMBI - Sumur bor yang dibangun oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) yang menelan biaya Milyaran rupiah di beberapa kabupaten di provinsi Jambi sepertinya belum ada manfaatnya. Pengakuan di beberapa stakeholder di kabupaten Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur saat terjadinya kebakaran hutan dan lahan tidak menemukan sumur- sumur buatan BRG. Jambi, 17 Oktober.

Firmansyah kepala Dinas Lingkungan Hidup kab. Muaro Jambi kepada Kantor Berita Waktoe menyampaikan  program BRG tidak pernah memberitahukan di tingkat kabupaten (Dinas Lingkungan Hidup, red) jadi keberadaan sumur BOR kita tidak tahu.

"Kita Nol Informasi soal program sumur BRG", ujarnya.

Kata Firmansyah, Kita tidak mengetahui titik koordinat karena memang tidak ada koordinasi.

Diketahui, Badan Restorasi Gambut (BRG) sejak awal tugas pada tahun 2016 hingga 2018 tercatat telah membuat 437 unit sekat kanal, 294 unit sumur bor, 125 hektare lahan yang berhasil direvegetasi dan 42 kelompok masyarakat yang telah mendapatkan bantuan revitalisasi sosial ekonomi masyarakat.

Selain itu mereka juga telah memasang 13 unit teknologi pemantauan tinggi muka air (TMA) di lahan gambut secara realtime melalui Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (SIPALAGA) di Jambi. Disamping itu ,BRG terus melakukan kegiatan-kegiatan penyiapan dan pemberdayaan masyarakat sekitar gambut melalui Program Desa Peduli Gambut (DPG).

Untuk Provinsi Jambi sendiri, program DPG di tahun 2017-2018 dilakukan BRG bersama para mitra pada 28 desa/kelurahan yang berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, dan Muaro Jambi.

Tidak jelasnya keberadaan sumur BRG juga di sampaikan Salah satu pejabat di BPBD Tanjab Timur (25/9), Dimana pada saat proses pemadaman api kebakaran diseluruh titik api, tidak menemukan sumur yang dibangun oleh BRG.

"Selama kita dilapangan dalam upaya pemadaman kebakaran hutan, kita tidak menemukan sumur yang dibangun BRG," Ucapnya.

Sementara itu Didy Wuryanto kepala Pokja Anggaran dan Hukum Sekretariat Badan Restorasi Gambut  saat di konfirmasi balik menanyakan siapa yang sudah melakukan pengecekan keberadaan sumur bor dari BRG.

"Mas yang ngecek Sumur- sumur tidak berfungsi itu siapa?," Tanyanya.

Didy Wuryanto menyampaikan  Jumlah sumur bor di Provinsi Jambi total 294 unit, seluruhnya dibangun tahun 2018 oleh BRG melalui Dinas Kehutanan Provinsi Jambi

Jika ditemukan sumur yang tidak berfungsi, bisa saja Memang sumur tidak berfungsi atau Sumur Tidak/belum difungsikan.

Kriteria Sumur BRG harus keluar air  dan itu dicek selama 6 jam  dan air sumur bening bukan lumpur.

Jika ada sumur-sumur yang tidak keluar air maka itu yang tidak dibayar BRG. Walaupun bekas-bekas pipa masih tertinggal. Bisa dihitung yang dibayar BRG sumur-sumur di Tanjabtim sekitar 200 unit.

Kata Didy Wuryanto, Guna memfungsikan sumur tersebut,  kan,... masyarakat perlu uang operasional untuk Bahan bakarnya. 

"Saya masih cari nama tempatnya. Yang jelas dari citra satelit, ada wilayah yang BRG bangun sumur sebagian kecil tetap terbakar karena semua sumur-sumur belum dioperasikan," Ujarnya.

Memang dikeluhkan oleh Tim Karhutla dibeberapa wilayah karena pompanya tidak sesuai dengan diameter sumur-sumur yang dibangun BRG melalui Dishut Provinsi Jambi.

Ditambahkan, Dari Data di Tanjabtim dibangun 214 sumur bor, dilengkapi dengan Satu Pompa Air untuk 10 Sumur Bor. Untuk Spesifik nama desa, saya juga menunggu Tim Survey yang sedang ground check ke lapangan. Dimana posisi sumur-sumur tersebut dan masuk wilayah admin mana.

" Bahwa Masyarakat dan petugas sudah mati-matian kerja di lapangan namun api ini sulit diprediksi sedangkan biaya operasional terbatas, sehingga yang kita selamatkan belum bisa sepenuhnya," Ungkap Didy.

Di Tanjabtim, laporan tim lapangan, sumur bor sebarannya di Kecamatan Dendang 122 unit, di kecamatan Mendahara Ulu 25 unit, Kecamatan muara Sabak Barat 58 unit

Sumur siap memuncratkan air (berfungsi). Pompa sudah tersedia. Namun biaya operasional yang ditunggu mereka sebab harus beli BBM, angkut-angkut pompa, harus berjalan jauh karena daerah gambut, tidak bisa naik motor, kemudian kalau gambut terbakar yang terbakar di dalamnya bukan permukaan yang sekali semprot mencegah api meluas. Masyarakat perlu biaya operasional.

Sumur BRG siap dimanfaatkan
kecuali ada yang faktor alam tanah yang  dibor rontok ke dalam, maka harus dirawat secara teratur dan BRG sedang check di lapangan mana yang perlu diperbaiki dikit-dikit.

Kita BRG bekerjasama dengan Pemprov Jambi sampai 2020
tetap kita akan buat sumur bor,  bangun sekat kanal dan revegetasi penanaman kembali di lahan gambut yang sudah terbasahi.

"Sumur yang sedang dibuat di Jambi, sudah jadi 20 unit dari rencana 180 sumur yang akan diselesaikan di tahun 2019," pungkasnya.

Sementara itu Supriyanto kades Catur Rahayu kecamatan Dendang kab. Tanjung Jabung Timur  yang terhitung paling banyak menerima bantuan sumur Bor BRG melalui selulernya mengatakan, (17/10), sumur BRG tidak semua bisa dimanfaatkan karena terkendala medan.

"Sumur yang ada akses jalannya kemarin saat kebakaran bisa dimanfaatkan oleh Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk pembasahan namun yang ditengah belukar tidak bisa karena terkendala akses jalan yang tidak ada," Cetusnya.

Kata Supriyanto, sumur yang disemak belukar kemarin juga ikut terbakar dan kita akan lakukan perbaikan, tetapi masih menunggu dana perbaikannya.

Infonya ada dana pemeliharaan, namun hingga saat ini dana belum turun.