Libur Pilkada Kawasan Wisata Selo Ramai Dikunjungi Wisatawan


Gunung Merbabu

Gunung Merbabu

JATENG - Kawasan Desa Wisata Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali pagi ini terlihat ramai pengunjung. Baik pengunjung wisatawan lokal yang hendak menikmati suasana liburan di Wisata Alam Puncak Gancik , Puncak New Selo maupun para pendaki luar kota yang hendak mendaki Gunung Merbabu via basecam Selo. Hal tersebut dapat dilihat dari ramainya arus lalu lintas dilokasi wisata yang terletak diantara lereng Gunung Merapi dan Merbabu itu. Boyolali, 27/6/2018

Hari libur dalam rangka Pilkada serentak 2018 yang juga masih dalam suasana Libur sekolah dimanfaatkan para wisatawan menikmati suasana dataran tinggi diantara lereng Gunung Merbabu dan Merapi tersebut. Status Gunung Merapi yang masih berstatus Waspada tak menghalangi para wisatawan untuk datang. Meskipun lokasi basecamp pendakian Selo maupun Wisata alam Puncak Gancik letaknya sangat dekat dengan puncak Gunung Merapi yang berjarak sekitar 4 Km.

Suwandi, salah satu dari sekian banyak pemilik shelter basecamp pendakian di Desa Selo menuturkan bahwa Status Waspada Gunung Merapi tidak menghalangi para wisatawan maupun para pendaki Gunung Merbabu. Namun  Suwandi kembali menambahkan bahwa sesaat setelah erupsi freatik pertama Gunung Merapi pada hari Jumat 11 Mei 2018 pukul 07.40 waktu setempat, hampir semua pendaki Gunung Merbabu mendadak turun karena ketakutan terhadap erupsi freatik pertama Gunung Merapi yang tiba-tiba pagi itu. Namun setelah erupsi freatik Gunung Merapi yang pertama tersebut, Wisatawan puncak Gancik, New Selo  maupun pendaki Gunung Merbabu kembali normal bahkan cenderung ramai pengunjung saat liburan lebaran dan sekolah kemarin.
Disisi lain jalur pendakian Gunung Merbabu terpantau padat. Dari mulai basecamp Selo lama maupun basecamp Selo baru sampai pos 1 banyak ojek motor pendakian yang lalu lalang mengantar pendaki ke Pos 1. Dari pos 1 sampai pos 2 jalur pendakian, nampak para pendaki berjubel antri dijalur pendakian mengingat dijalur antara pos 1 dan pos 2 tersebut cukup sempit untuk dilewati berpapasan. Dari pos 2 sampai pos 3 sama halnya demikian dengan jalur antar pos 1 ke pos 2, masih ramai pendaki. Dari pos 3 sampai pos 4 (sabana 1) terlihat banyak tenda-tenda pendaki berjajar, suasana cukup ramai. Banyak para pendaki bermalam di Pos 4. Dari pos 4 sampai sabana 2 tenda-tenda pendaki lumayan ramai namun tidak sebanyak di Pos 4 (sabana 1). Kemudian, dari Watu lumpang menuju Puncak Kenteng Songo (3142 Mdpl) tidak terlalu banyak pendaki dan sedikit sekali pendaki yang bermalam di Puncak tertinggi Gunung Merbabu tersebut, rata-rata para pendaki summit ke puncak kenteng Songo saat sunrise tiba dan bermalamnya di Sabana 1 dan Sabana 2. Demikian juga pantauan saat menuruni jalur pendakian dari Sabana 2 menuju Pos 1 masih banyak lalu lalang pendaki, baik yang akan naik ataupun yang akan turun.

Sungkem Tlompak, Tradisi Masyarakat Lereng Merbabu

gunung merbabu

Bertepatan dengan lima hari setelah lebaran, masyarakat lereng Gunung Merbabu di Dusun Keditan, Desa Pogalan, Kabupaten Magelang , Jawa Tengah melaksanakan Sungkem Tlompak. Waktu disesuaikan dengan kalender Jawa.

“Selain untuk menghormati leluhur, menjaga mata air, Sungkem Tlompak juga sebagai sarana berhalalbihalal antarwarga desa,” 

Sungkem Tlompak biasanya dipimpin oleh pemuka masyarakat desa tersebut.

Tradisi ini dilakukan di sumber air Tlompak Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Desa Pogalan.  Warga setempat mempercayai bahwa di sumber mata air Tlompak dijaga oleh sosok spiritual yang dikenal dengan nama Prabu Singobarong.

Pelaksanaan tradisi ini juga turut diiringi oleh warga Pogalan yang menggunakan kostum tarian tradisional setempat. Selain itu, warga Gejayan juga menyambut dengan mengenakan pakaian tarian tradisional seperti Topeng Ireng, Geculan Bocah, dan Gupolo Gunung. 

Warga menjelaskan tradisi tersebut telah dilakukan oleh masyarakat setempat sejak tahun 1932 setelah terjadi paceklik yang membuat masyarakat tidak dapat menanami lahan pertanian sayuran mereka dan kesulitan air karena kemarau berkepanjangan. Warga setempat juga mempercayai bahwa aliran air dari sumber air Tlompak merupakan jalan mereka mendapatkan berkah dari Tuhan bagi pertumbuhan pertanian setempat.

warga mengemukakan pentingnya masyarakat melestarikan tradisi tersebut karena bermanfaat memperkuat semangat kekeluargaan warga antardusun, melestarikan lingkungan khususnya mata air, dan membangkitkan semangat berkesenian rakyat.

Tags