Lindungi Burung Hantu, Pemerintah Desa Perlu Terbitkan Perdes


Tyto alba burung hantu jawa. Waktoe | dok

Tyto alba burung hantu jawa. Waktoe | dok

SOLO – Jenis burung predator tikus (Tyto Alba) yang membantu petani dari ancaman hama tikus, gelisah dengan masih banyaknya perburuan burung hantu ini. Klaten, 4 Februari.

Habitat binatang Tyto Alba alias burung hantu kian sempit. Selain masih maraknya aksi pemburuan liar, binatang yang dikenal membantu petani karena gemar memangsa hama tikus itu kian mendesak untuk dilindungi, minimal perlu dikeluarkannya peraturan desa. Apalagi di berapa lahan pertanian di Klaten mulai diserang hama tikus.

Seruan itu disampaikan Anjar Kurniadi Kepala Seksi Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Bidang Perkebunan dan Penyuluhan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klaten (Selasa, 04/02/20).
“Di Klaten saat ini sedang gencar dikembangkan burung hantu sebagai predator tikus," Ujarnya.

Contohnya banyak rumah burung hantu atau rubuha yang dibangun di areal pesawahan guna mengurangi populasi tikus.  Hal ini sudah bagus. Tapi akan lebih baik lagi jika pemerintah desa bisa melindungi habibat burung hantu ini dengan menerbitkan peraturan desa alias perdes dengan maksud melindunginya dari pemburuan liar.

Anjar beralasan terbitnya perdes perlindungan burung hantu lebih mudah dilakukan. Dari sisi jangkauan juga lebih menyasar di lingkungan desa sendiri.  Di banyak daerah burung hantu banyak diburu dengan alasan diperjual-belikan.

Saat dikonfirmasi tentang aturan daerah terkait perlindungan burung hantu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Klaten Srihadi menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Klaten sudah memiliki perda tentang perlindungan satwa.

“Saat ini Pemkab Klaten sudah memiliki Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2018 tentang Perburuan Burung, Ikan, Satwa Liar dan Satwa Liar lainnya.  Kalau spesifik terkait Tyto Albae belum ada” jelas Srihadi.

Namun terkait perburuan liar burung hantu Srihadi hanya bisa mengajak masyarakat untuk menjaga keberlangsungan burung predator tikus itu.  Hal itu penting sebab Tyto Albae membantu petani mengendalikan hama tikus.

Saat ini menjalarnya hama tikus di Klaten disikapi petani dengan gerakan gropyokan.  Contohnya petani di Barepan, Cawas, Klaten, para petani dipimpin langsung Kepala Desa Barepan  Irmawan Andriyanto bekerja-sama dengan TNI setempat.

"Gropyokan ini harus dilakukan rutin dan berulang kali agar hama tikus ini bisa berkurang. Gropyokan hama tikus ini adalah salah satu langkah untuk mengatasi serangan hama tikus pada tanaman padi. Gropyokan tikus ini tidak lain untuk pengendalian hama tikus yang akan mengancam tanaman padi.  Padahal petani baru sekitar  satu bulan padi itu ditanam ,” kata Irmawan Andriyanto di sela-sela aksi gropyokan tikus pekan lalu.

Tyto Alba, Serak Jawa Pemburu Tikus

Serak Jawa (Tyto Alba) merupakan spesies burung berukuran besar (34 cm), mudah dikenali sebagai burung hantu putih.

Wajah berbentuk jantung, warna putih dengan tepi coklat. Mata menghadap kedepan, merupakan ciri yang mudah dikenali. Bulu lembut, berwarna tersamar, bagian atas berwarna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar pada bulu. Ada tanda mengkilat pada sayap dan punggung. Bagian bawah berwarna putih dengan sedikit bercak hitam, atau tidak ada. Bulu pada kaki jarang-jarang. Kepala besar, kekar dan membulat. Iris mata berwana hitam.

 Paruh tajam, menghadap kebawah, warna keputihan. Kaki warna putih kekuningan sampai kecoklatan. Jantan-betina hampir sama dalam ukuran dan warna meski betina seringkali lebih besar 25%. Betina dan hewan muda umumnya punya bercak lebih rapat.

Serak jawa (Tyto Alba) yang umum didapati di wilayah berpohon, sampai dengan ketinggian 1.600 m dpl.

Di tepi hutan, perkebunan, pekarangan, hingga taman-taman di kota besar. Sering bertengger rendah di tajuk pohon atau perdu, berbunyi-bunyi dengan memilukan, atau bersahutan dengan pasangannya. Sewaktu-waktu terjun menyambar mangsanya di permukaan tanah atau vegetasi yang lebih rendah.

Sering pula berburu bersama dengan anak-anaknya. Aktif pada malam hari. Namun, terkadang aktif pada senja hari dan dini hari, bahkan sesekali bisa dijumpai sedang terbang pada siang hari.

Pada siang hari, Tyto alba biasanya berdiam diri pada lubang-lubang pohon, gua, sumur, bangunan-bangunan tua atau pada tajuk pepohonan yang berdaun lebat. Beberapa jenis, khususnya Tyto, mampu menempati tempat buatan manusia yang mirip dengan lubang pohon. Sarang Gagak dan burung pemangsa lain yang sudah ditinggalkan, juga merupakan tempat pilihan.

Hanya sedikit atau tidak ada usaha sama sekali untuk memperbagus konstruksi pembuat sarang sebelumnya. Celah batuan juga digunakan oleh beberapa jenis burung.