Manuver politik Calon Penguasa Sabak, Romi Haryanto hingga Penantangnya


Pilkada serentak 2020 kab. Tanjung Jabung Timur provinsi Jambi. Waktoe| Ilustrasi

Pilkada serentak 2020 kab. Tanjung Jabung Timur provinsi Jambi. Waktoe| Ilustrasi

JAMBI - Petahana yang bisa dibilang sudah aman untuk melaju dalam pilkada 2020 dengan dukungan 17 kursi (57 persen) terusik dengan munculnya surat mandat untuk Liaison Officer (LO) atau petugas penghubung ke KPU yang mengurusi Silon dari jalur perseorangan.

Petugas LO atas nama Darwis ini memegang mandat yang ditandatangani oleh calon pasangan bupati dan wakil bupati Romi Haryanto - Robby Nahliansyah.

Apakah langkah yang dilakukan Petahana ini menandakan adanya keretakan di tubuh partai Amanat Nasional (PAN) dan sebagai plan B apabila ternyata rekomendasi dari PAN diberikan kepada yang lain.

Disampaikan Nurkholis, ketua KPUD Tanjab Timur,  mereka (paslon bupati/wabup) untuk mendaftar harus menunjukan surat rekomendasi dari organisasi tertinggi ditubuh partai ( DPP).

"Mereka harus membawa rekomendasi dari partai saat mendaftar dari jalur parpol", pungkasnya.

Kekuasaan partai yang berada dilevel pusat membuka peluang lobby-lobby karena rekomendasi calon bupati dan wakil bupati dikeluarkan melalui DPP partai masing masing.

Dalam sejarah rekomendasi ditubuh PAN, terjadi  perubahan yang sangat cepat dan didetik detik akhir penutupan pendafataran, rekomendasi yang sudah keluar bisa dibatalkan dengan munculnya rekomendasi baru.

Mungkin inilah yang diperhitungkan oleh Romi Haryanto, karena melihat ketidakpastian (jaminan rekomemdasi, red) sehingga juga akan menempuh jalur perseorangan.

Sementara pihak penantang (partai) mulai dari PDIP, Nasdem, Gerindra yang melaksanakan penjaringan mendapatkan dua calon  pendaftar bupati atasnama Markaban, dan Eko Mulyono, Juber dan dua pendaftar wakil bupati Ainur Rafiq dan Mustakhim.

Untuk nama yang terakhir diatas (Mustakim, red) merupakan kader partai Golkar yang tidak melakukan penjaringan namun memastikan kursi wakil milik Golkar jika berkeinginan berkoalisi.

Dibeberapa kesempatan, Mustakim selalu menyatakan setelah berkonsultasi dengan ketua DPD Golkar (Juber) dan mendapatkan restu sebagai cawabup,  hanya mau mendampingi Markaban.

Dengan bermodal 4 kursi dewan, partai Golkar yang sudah memploting kursi cawabup, tinggal menunggu tambahan  dua kursi untuk bisa memenuhi syarat pendaftaran Paslon.

Ada PDIP, Nasdem dan Gerindra dengan mendapatkan perolehan 3 kursi dewan dan 2 kursi untuk Nasdem dan 2 kursi untuk Gerindra. Partai Golkar juga bisa berkoalisi dengan Hanura dan PBB yang masing masing mendapat 1 kursi.

Jika PDIP merekomendasikan cabup dari kader yakni Markaban tentu sudah ada kejelasan paslonnya Markaban dan Mustakim karena keduanya diduga sudah saling sepakat. Tinggal Gerindra, Nasdem, Hanura dan PBB akankah berdiri sendiri atau bergabung.

Petahana Resah Hingga Berencana Lewat Jalur Independent

Lokomotif Partai Amanat Nasional yang selama ini telah mengusung  Romi Haryanto sebagai bupati Tanjung Jabung Timur terdengar bergejolak.

Gejolak Internal partai ini diduga dipicu tidak harmonisnya hubungan Romi Haryanto sebagai bupati dan juga sebagai ketua DPD PAN Tanjab Timur terhadap A. Bakri ketua DPW PAN provinsi Jambi.

Dari kasak kusuk dilapangan hal ini dimulai dari Pilpres 2019, Romi Haryanto tidak taat terhadap instruksi partai yang mendukung Prabowo Subiyanto dan Sandiaga Uno yang secara resmi didukung oleh PAN.  Namun, hasilnya Tanjab Timur dimenangkan oleh Jokowi dan Ma'ruf Amin.

Dugaan kedua, adanya gerakan lima bupati di provinsi Jambi yang melakukan pertemuan di Kerinci untuk mendukung cawagub yang notabene orang luar dibanding mendukung internal partai yang mendorong A. Bakri (ketua DPW PAN Jambi) sebagai Cawagub.

Tidak harmonisnya hubungan A. Bakri dengan Romi Haryanto inilah yang menyulut konstelasi politik di internal PAN Tanjab Timur goyah. Dengan demikian diprediksikan rekomendasi partai diperkirakan bisa saja tidak jatuh ke tangan Romi Haryanto sebagai inchumbent.

Keretakan internal PAN pun diperkuat dengan beredarnya Surat Pernyataan Dukungan (form resmi KPU) yang dipakai bagi cawabup untuk jalur independent yang beredar untuk mendukung Romi Haryanto dan Robby Nahliansyah berikut lampiran fotocopy KTP sebagai syarat dukungan.

Dan, Hal itu juga diperkuat dengan terbentuknya Liaison Officer (LO) atas nama  Darwis yang mewakili Romi-Robby sebagai calon perseorangan.

Namun dugaan keretakan tersebut dibantah oleh A.Bakri ketua DPW PAN Jambi, kepada Kantor Berita waktoe (9/1). " Saat dipertanyakan apakah terjadi keretakan, A.Bakri menjawab " Tidak ada friksi, nggak, nggak kita baik kok, kita ngobrol makan-makan dan minum bersama tidak ada masalah".

"Yang jelas dia pernah menyampaikan sampai dengan hari ini akan maju bupati disana  menggunakan partai PAN, jika ada issu terkait dengan beliau itu sah sah saja, karena semuanya itu belum pasti ya", pungkasnya.

Namun, beberapa warga yang diwawancarai waktoe mengatakan Kapital (Uang) masih mendominasi proses pemilihan di Tanjab Timur.

Salah satu warga (67) yang tidak bersedia namanya dicantumkan, mengatakan selama pemilihan bupati di Tanjab Timur, calon yang memiliki "uang" hanya dari Melayu dan Bugis.

"Kalau SDM yang pandai banyak tetapi yang memiliki uang hanya sedikit, maaf kalau bicara suku hanya dari Melayu dan Bugis, calon yang memiliki uang, untuk calon dari Jawa sangat terbatas", pungkasnya.