Dilema Bau Busuk PKS


Bau busuk yang menyebar hingga radius kiloan meter dianggap biasa, karena tidak ada pengaduan dari masyarakat. Pabrik-pabrik kelapa sawit mulai berdiri seiring dengan pertumbuhan kebun kelapa sawit yang sudah mulai panen, penanaman hingga panen membutuhkan waktu 3 hingga 4 tahun lamanya. Jarak tempuh yang dekat perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengolahannya, tentunya akan memangkas biaya operasional bagi tengkulak sawit, dengan begitu harga sawit ke petani pun menjadi lebih kompetitif. Semisal salah satu Pabrik kelapa sawit itu berdiri sejak bulan Mei 2017, berkapasitas produksi 45 ton perjam selama rata-rata produksi Sepuluh (10) hingga Duabelas (12) jam perhari, jadi total kapasitas pabrik penghasil CPO ini mampu berproduksi rata-rata 450 ton perhari. Pabrik kelapa sawit itu kurang lebih sekitar Delapan (8) bulan ini, masih dalam tahap pembangunan, pembenahan disana sini namun sudah melakukan produksi, termasuk dalam hal pengolahan limbah. Dari hasil pantauan dilapangan, instalasi pengolahan limbah PKS pun masih proses pembangunan, hingga menyebabkan pengolahan limbahnya diduga belum memenuhi standar. Apalagi soal standar baku mutu lingkungan bisa dipastikan masih jauh dari yang dibakukan. Instalasi pengolahan limbah pabrik ini terdiri dari Tujuh (7) kolam dimana kolam Satu (1) dan Dua (2) yang diperuntukan untuk pendinginan, selanjutnya kolam Tiga (3) untuk pengasaman, pengeluaran gas-gas beracun, kemudian kolam Empat (4) hingga Enam (6) untuk airobik bakteri dan kolam terakhir untuk penjernihan dan pengendapan sebelum dialirkan keluar/ ke sungai setelah memenuhi standar baku mutu lingkungan. Seorang manajer operasional saat ditemui dikantor menyampaikan selama ini limbah belum bisa dikeluarkan karena belum memenuhi standar baku mutu lingkungan. " Kita belum keluarkan limbah ini, karena belum memenuhi standar baku mutu lingkungan" Lanjutnya, mengenali model instalasi kolam yang hanya terbuat dari tanah, hal ini disebabkan karena modal untuk pembuatan kolam dari semen membutuhkan biaya mahal. "Biaya pembuatan kolam akan mahal mas, jika harus disemen" tegasnya. Sistim instalasi pengolah limbah masih terbuat dari tanah, jadi limbah langsung meresap ke tanah dan bahkan sudah overload banyak yang meresap kekanan kiri permukaan kolam. Apalagi disaat musim hujan, limpasan air dari kolam kolam pun langsung mengalir ke perkebunan milik warga. Pabrik kelapa sawit dengan standart produksi diatas memiliki 100 karyawan tetap dan sekitar 120 karyawan tidak tetap yang rata~rata sebagai tenaga bongkar muat. Pabrik kelapa sawit kebanyakan limbah padatnya dipakai lagi untuk bahan bakar, seperti limbah sepet atau kulit setelah diambil minyak/CPO nya, limbah ini dinamakan fibre dipakai untuk bahan bakar, begitu juga cangkang atau batoknya juga dipakai utk bahan bakar. Namun, bahan bakar ini pun ditempatkan di lahan terbuka dan diduga juga terjadi pembusukan dan dimungkinkan terdapat cairan leachet/ lindi yang berbahaya bagi lingkungan hidup. Banyak pabrik-pabrik yang juga belum dilengkapi Klinik kesehatan dan tenaga medis. Ditambahkan, "kita belum ada klinik maupun tenaga medis, jika terjadi sesuatu dibawa ke Puskesmas karena jaraknya dekat". Tenaga kerja sudah kita ikutkan Asuransi BPJS baik ketenagakerjaan maupun kesehatan, jadi jaminannya sudah ada. Namun saat disinggung jika terjadi kecelakaan kerja atau ada yang sakit? Ya, untuk emergency kita ada P3K, pungkasnya. Persoalan limbah pengolahan kelapa sawit memang masih menjadi problem besar, beralasan sistim instalasi pengolahan selama ini sudah lama dan bahkan sejak penjajahan Belanda. Dan alasan lainnya adalah Limbah PKS bersifat organik tidak membahayakan lingkungan. Untuk bau busuk yang menyengat, selama ini masyarakat tidak ada yang komplain ke pabrik. Pemerintah dalam hal ini dinas Lingkungan Hidup bidang pengendalian dan pengawasan lingkungan hidup, seringkali mengiyakan apa yang selama ini terjadi dimana bau busuk itu sudah biasa, dan selama ini memang bau, tidak masalah karena tidak ada pengaduan dari warga. "Limbah pabrik kelapa sawit limbahnya organik, jadi tidak masalah terhadap lingkungan", ujar pejabat Lingkungan Hidup. Lanjutnya, pendirian pabrik kelapa sawit tidak ada masalah, sudah sesuai dengan aturan yang berlaku, meskipun kondisinya demikian, jelasnya. Anehnya, pabrik ini sudah beroperasi meskipun proses pembangunannya masih berjalan. Hal inilah yang menyebabkan pengolahan limbahnya masih dibawah standart. Jangan heran saat berkendaraan terbuka di Jambi bau tidak sedap terasa sekali, hal ini disebabkan dari bau hasil poduksi Kelapa Sawit, dan Karet namun bagi pabrik yang mengolah limbahnya sebenarnya bau tersebut dapat diminimasilir. Menengok Bisnis Sawit, tandan buah segar yang dibawa dari petani oleh para tengkulak yang sudah bekerja sama dengan pihak pabrik, sampai dipabrik ditimbang dan selanjutnya dimasukan ke loading ramp. Kualitas hasil minyak CPO yang didapatkan sangat dipengaruhi oleh kondisi buah, pengolahan dipabrik hanya berfungsi mendapatkan minyak dan meminimalisir kehilangan minyaknya. Tandan yang sudah ditimbang dimasukan kedalam lori lori untuk masuk kedalam sterilizer sebuah bejana uap air untuk proses perebusan dengan tekanan 2,2 hinga 3,0kg/cm persegi. Proses perebusan untuk menghilangkan enzim enzim yang berpengaruh pada kualitas minyak. Maksud dari perebusan juga mempermudah buah lepas dari tandannya, dan memudahkan pemisahan cangkang dan inti dengan keluarnya air dari biji, dengan waktu sekitar 90 menit dengan kekuatan 280 kg/cm persegi dengan kekuatan ini mampu menghasilkan kondesat 0,5 persen minyak ikutan . Tandan yang direbus masuk kedalam threser dengan hoisting care. Jika ada buah yang belum lepas maka di sini dibanting agar terlepas. Kemudian dibawa oleh fit coneyar ke digester bertujuan memisahkan brondolan dari tangkal tandan. Pengolahan Minyak Dari Daging Buah, Buah yang lepas yang dibawa fruit conveyor masuk didalam digester dan peralatan pengaduk, agar buah terlepas dari biji dengan menggunakan uap air dengan temperatur stabil. Setelah terlepas dimasukan kedalam pengepresan scew press agar minyak keluar dari biji, dari proses ini di peroleh minyak kasar ampas dan biji. Setelahnya dilakukan pemisahan kandungan pasir dan dilakukan penyaringan baru dimasukan kedalam crude oil tank. Ampas dan biji karena masih mengadung minyak maka dilakukan penambahan air panas untuk melancarkan penyaringan. Air yang tercampur dengan minyak masih melalui tahapan pemisahan setelah terpisah maka dimasukan lagi ke crude oil tank. Tahapan berikutnya adalah memurnikan minyak yang dialirkan dari oil tank menuju oil purfer yang memisahkan kotoran/solid yang mengandung kadar air. Tahapan berikut dialirkan ke Vacum drier memisahkan air pada batas standart. Ampas kempas yang terdiri dari serabut dan biji dipanaskan dengan uap air agar kandungan air dapat diperkecil. Selanjutnya ada pemisahan fibre dan biji dengan blower,. Biji dikeringkan dengan tekanan uap hinga mencapai 7 persen dengan tingkat pengerinmgan sekitar 50 persen. Untuk pemrosesan lebih lanjut menjadi minyak inti sawit (palm kernell oli / PKO) Limbah kelapa sawit diantaranya adalah kotoran/padat terdiri dari tandan kosong pelepah cangkang sedangkan limbah cair terjadi pada in house keeping, limbah ini dapat dimanfaatkan, namun akan ada limbah berikutnya . Potensi limbah dapat menjadi penambah unsur hara seperti TSP, UREA Dan KCl. Limbah PKS merupakan limbah organik namun dapat mengalami degradasi maka perlu diketahui karakteristiknya, seperti balance sheet ekstraksi minyak kelapa sawit menghasilkan limbah air dalam satu (1) ton CPO yang diproduksi adalah 2,5 ton , dengan demikian berpotensi mengotori air permukaan. Konsep zero emision dapat diterapkan karena konsep ini diharapkan industri tidak menghasilkan limbah dalam bentuk apapun. Zero emision meniru konsep siklus berkelanjutan alam, dan manusia dan tidak mengeploitasi sumber daya alam secara terus menerus. Dari sudut lingkungan konsep eliminasi zero emision meruopakan solusi akhir dalam mnegatasi pencermaran lingkungan yang mengancam ekosistem. Dengan demikian industri dan pola industrinya menjadi peduli lingkungan (eko produk) dengan demikian emisi gas dan limbah padat dan cair akan berkurang. Terjadinya ekspansi dan diversifikasi industri yang berdampak pada kebutuhan tenaga kerja. Strategi pencegahan pencemaran dapat mengurangi biaya investasi dan perbaikan lingkungan. Dan memperlambat terjadinya degradasi lingkungan dengan konsep daur ulang. Sedangkan pengelolaan limbah cair dengan sistim kolam stabilisasi biasa untuk memenuhi kadar baku mutu lingkungan yang disyaratkan. Tahap awal dengan segregasi aliran, pengurangan minyak ke tangki pengutipan minyak dan penurunan suhu limbah dari 70 -8- derajat ke 40- 50 derajat dengan bak pendingin. Kapasitas 45-50 ton produksi perjam air limbah yang diolah 700 m kubik perhari. Dampak ekologi meningkatnya level co2 (karbon diaoksida) di atmosfir, hilangnya kenaekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan tropis, serta plasma nutfah, hilangnya sejumlah sumber mata air, sehingga memicu kekeringan dan peningkatan suhu dan gas rumah kaca yang mendorong terjadinya bencana alam, berkurangnya kawasan resapan air sehingga saat musim hujan akan mengakibatkan banjir. Kehancuran habitat flora dan fauna yang mengakibatkan konflik antar satwa maupun konflit satwa dengan manusia. Akibat habitat yang telah rusak, hewan tidak lagi memiliki tempat yang cukup untuk hidup dan berkembang biak. Sementara limbah industri kelapa sawit mengakibatkan dampak ekologi berupa mencemari lingkungan karena akan mengurangi biota dan mikroorganisme perairan dan dapat menyebabkan keracunan , produksi melepaskan gas metan (CH4) dan CO2 yang menaikan emisi penyebab efek rumah kaca yang sangat berbahaya dan limbah gasnya meningkatkan CO2 dan mengakibatkan polusi udara. Industri kelapa sawit hanya menghasilkan 25-30 persen produk dasar yang terdiri dari berupa Crude Palm Oil (CPO) sekitar 20-23 inti sawit 5-7 persen, sisanya menghasilkan limbah baik limbah cair, padat dan gas. Limbah cair berupa palm oil mill effluent (POME), air buangan kondensat (8-12 persen), air pengolahan 13-23 persen . limbah akan menjadi bencana jika tidak dikelola dengan baik. Limbah cair berwarna kecoklatan dan mengandung padatan rterlarut dan tersuspensi berupa koloid serta residu minyak dengan kandungan biological oxygen demand (BOD) yang tinggi. Bila limbah cair ini dibuang ke perairan akan berpotensi mencemari lingkungan karena akan mengurangi biota dan mikroorganisme perairan dan dapat menyebabkan keracunan, sehingga harus diolah sebelum dibuang. Standar baku mutu lingkungan limbah yang dihasikan cpo adalah pH 6-9, BOD 250 ppm, COD 500 ppm, TSS (total suspended solid) 300 ppm, NH3 –N 20 PPM dan oil grease 30 ppm. Limbah cair yang ditampung dikolam kolam terbuka akan melepaskan gas metan (CH2) dan CO2 yang menaikan emisi penyebab efek rumah kaca yang sangat berbahaya bagi lingkungan, selain itu juga menimbulkan bau yang tidak sedap. Sistim monokultur tanaman kelapa sawit telah merubah ekosistem hutan tentunya akan menghilangkan keanekaragaman hayati. Kelapa sawit setiap hari membutuhkan air sebanyak 20-30 liter/ pohon, dengan demikian secara perlahan perkebunan kelapa sawit dapat menurunkan permukaan air tanah, kelapa sawit juga rakus akan unsur hara sehingga diperlukan pemupukan yang memadai.

Tags