• Tuesday 19-Oct-2021



Batik Tanjab Timur Ditengah Himpitan Kebijakan


Pengrajin batik seharusnya diuntungkan dengan kebijakan pemerintah yang yang menganjurkan pemakaian batik pada hari tertentu, namun hal itu di manfaatkan pihak lain. wakoe.ID - TANJAB TIMUR. Kerajinan batik Tanjab Timur yang sedang di kembangkan oleh para pengrajin yang tersebar di beberapa lokasi, tidak kuasa untuk mengembangkan usahanya. Pemerintah belum hadir sepenuhnya untuk berpihak. Beberapa kebijakan pemerintah dalam upaya keberpihakan dengan batik sebetulnya ada, namun keberadaan oknum yang lakukan manuver untuk kepentingan yang berbeda. Seperti kebijakan pemakaian batik untuk ASN, anak sekolah, sebetulnya kebijakan itu baik, demi mendongkrak UMKM. Termasuk kebutuhan batik bagi Kepala Desa, Perangkat, PKK atau Dharma Wanita. Tetapi kebijakan baik itu dimanfaatkan oleh oknum yang diduga menggunakan desain batik yang kemudian dipesankan ke Jawa untuk di produksi masal. Tentunya batik printing dari Jawa menjadi lebih murah dan ini menjadi pertimbangan bagi pihak yang membutuhkan, disaat batik tulis atau kombinasi desain cap dan tulis produksi Tanjab Timur yang cenderung mahal. Seperti disampaikan oleh Siti Saroh pengrajin batik "Naima Batik". Kita itu kan ada asosiasi pembatik, yang masih menelisik desain batik anggota kami yang di tembak printing di Jawa untuk pakaian dinas ASN, anak sekolah. Dan, kita dirugikan. Memang batik printing lebih murah dari sisi harga tetapi jangan kemudian dipesankan dari Jawa. Keluhan yang lain pun, "Sentral batik bagaimana mau maju, dari pemerintah seringkali salah sasaran, " Ungkap Siti Saroh pemilik Naima Batik. Siti Saroh kepada Kantor Berita Waktoe (28/6) menyampaikan, jika pas ada pesanan kita memiliki 8 Orang pembatik yang ada di Naima Batik. Problem utamanya, sebetulnya peran pemerintah belum maksimal, seringkali pemerintah kabupaten atau desa salah sasaran. Seperti, misalnya, ada pelatihan batik ya, seharusnya yang di undang pembatik pemula atau orang cenderung hobi ke batik, bukan orang yang sudah memiliki usaha mapan di sektor lainnya. Sebetulnya kita sudah terus melakukan upaya upgrade teknis membatik yang baik, dan khususnya saya memiliki desain batik sendiri seperti: Benalu Sawit, Bunga Pedade, Lada, Genjer, Jeruju Kotak, meskipun kualitas desain belum maksimal seperti pembatik yang ada di Jawa. "Saya punya motif batik khas Tanjab Timur juga yakni batik Sumbun," Ungkapnya sambil menunjukan kain batik sesuai motif yang disampaikan. Hobi ya, dengan batik?, Naima atau Siti Saroh mengatakan menggeluti batik, karena dari awal senang menggambar. Dan saat ada pelatihan batik saya tertarik dan mulai fokus untuk membatik, kita juga diajarkan batik cap. Tetapi kita tidak monoton cap, maka juga ada batik tulis. Harapan?, sederhana kata Naima, kita ingin batik Tanjab Timur, di kenal luas tidak hanya di internal Tanjab Timur tetapi masyarakat sekitarnya. Soal harga di Naima batik untuk batik cap dengan isian dua kali warna kita banderol Rp 150.000,- perlembar (2M). Sedangkan batik tulis Rp. 250.000 per potong ukuran 2 meter. Untuk pangsa pasar, pemasaran masih di pemerintahan, artinya personil ASN yang pesan, untuk pasar umum jika ada hajatan di masyarakat biasanya mereka pesan. "Tetapi semua ini masih tergolong kecil, " Pungkasnya

Tags

COPY TO CLIPBOARD SELECT ALL