_


Romlah (60), pengrajin payung lukis produksi asal desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terus melakukan karya pembuatan payung lukis, baik dari kertas maupun dari kain. Meskipun di sisi lain usia yang sudah senja dan anak-anaknya tidak ada yang meneruskan dan lebih memilih usaha lain.

 

Hanya beberapa gelintir generasi muda yang melirik usaha produksi payung hias, hal ini dilihat memang belum menjanjikan secara ekonomi.

 

Produksinya payung  Juwiring ini, termasuk unik sudah semakin luas penggunaannya, sehingga tidak hanya untuk keperluan sehari-hari, tetapi juga untuk upacara adat, upacara kebesaran, kerajaan, dekorasi, dan lain sebagainya.

Kegiatan festival Payung di Solo memberikan dampak yang baik terhadap usaha payung hias. Pesanan mulai meningkat.

 

"Payung lukis tradisional dan hias produksinya asal Juwiring, yang dipamerkan di PFI Solo tahun ini, membawa berkah dan pesanan mencapai 2.000 buah bulan ini," kata Ngadiyaqor (47), perajin  yang lain.



Menurut dia, keunikan payung lukis itu proses produksi masih secara manual, dan tidak ada pada payung-payung modern. Produksinya masih cara tradisional, dan melukis dengan sentuhan tangan perajin.

Bahan baku untuk produksi payung semua ada di sana, dan perajin di Juwiring yang kini hanya tinggal sekitar 20 orang, kesulitan mencari tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan konsomen.