_


Kecamatan Juwiring di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pernah dikenal di nusantara sebagai daerah penghasil payung, seperti halnya Tasikmalaya. Warga di tiga desa di Juwiring, yakni Kwarasan, Tanjung, dan Kenaiban hampir seluruhnya terlibat pekerjaan produksi payung, dari mulai memotong bambu, membuat rangka, menyulamnya dengan benang, hingga melukis payung.

Tapi itu cerita dulu, tahun 1950-an. Saat itu, payung kertas yang diproduksi warga menjadi payung fungsional untuk melindungi dari hujan. Dengan ditemukannya payung berbahan nonkertas yang lebih tahan air dan tahan lama, payung kertas semakin sedikit penggunanya.
Tahun 1970, payung kertas yang dulu digunakan untuk melindungi dari guyuran air hujan dikembangkan fungs inya sebagai payung hias. Heri Wibowo (41) menyebutkan, ayahnya, almarhum Achmad Sumarlan, pensiunan TNI Angkatan Darat adalah orang yang memberi sentuhan inovasi payung kertas dari fungsional menjadi payung hias.
Tahun 1980-1990, payung hias ramai dipesan. Namun dalam perkembangannya, mulai tahun 2000 sampai sekarang payung kembali sepi, kata Heri yang melanjutkan usaha sang ayah dengan bendera Payung Wisnu yang berlokasi di Dusun Gumantar, Desa Kwarasan beberapa waktu lalu.
Saat ini hanya ada 11 perajin payung di tiga desa itu. Jika ditambah pembuat rangka atau jeruji, tercatat 50 orang yang masih setia menekuni produksi payung. Yang lain beralih menjadi pedagang karena hasil membuat payung tidak bisa lagi diandalkan, kata Heri.
Kini, payung-payung Juwiring diproduksi untuk keperluan payung kematian, ritual acara adat seperti ngaben, payung untuk dekorasi pernikahan dan panggung, pesanan kraton, hotel, dan kafe. Bukan lagi payung kertas, tetapi menggunakan kain yang kemudian dicat karena kertas kraf atau minyak semakin sulit ditemukan. "Pasar kami semakin kecil. Contohnya, kalau dulu dekorasi pernikahan butuh 12 payung di kanan dan kiri pelaminan, sekarang paling banyak dua. Banyak yang sudah tidak pakai payung karena dekorasi digantikan bunga," ungkap Heri.
Jejak pembuatan payung di Juwiring telah tertoreh sejak tahun 1800-an. Menurut Heri, saat itu seorang asli Juwiring diminta Kraton Surakarta membuat payung kebesaran. Pengerjaa nnya dilakukannya di rumah dibantu beberapa tetangganya. Dari sini kemudian berkembang menjadi daerah pembuat payung.
Heri sendiri terjun meneruskan usaha sang ayah pada tahun 1994. Saat itu ayahnya sakit, padahal harus menyelesaikan 1.200 payung pesanan ekspor dari Spanyol dan Italia dalam waktu 1,5 bulan lewat sebuah peru sahaan di Jakarta. "Dulu kami sering ekspor ke Belanda dan Amerika Serikat. Sekarang semua produksi sini untuk lokal," katanya.
Perajin lainnya, Romdiyah (48) juga meneruskan usaha ayahnya membuat payung, sejak 20 tahun lalu. Kini, dalam seminggu ia mampu menghasilkan 100 payung dengan harga per buah Rp 5.000. Payung itu kasaran saja, yang sekali pakai rusak, terbuat dari kertas bekas semen, lalu diberi cat saat payung ditangkupkan, sehingga tidak seluruhnya berwarna. Payung ini dipakai untuk acara kematian.
Norman (47) justru baru setahun menekuni pembuatan jeruji payung. Harga satu set jeruji Rp 1.800. Lumayan untuk menambah penghasilan, kata Norman yang membuka warung kelontong di rumahnya.

 Mendengar nama kecamatan Juwiring, rasanya memang tidak pernah terlintas kekayaan dan keunikan didalamnya. Tidak ada yang unik saat hanya menyebut nama lokasi tersebut, tanpa menyusuri secara dalam rekam jejak kultural didalamnya.
Juwiring adalah salah satu kecamatan di kabupaten Klaten yang keberadaannya menarik, karena menjadi sentra pengrajin payung hias sebagai perangkat upacara, peneduh dari terik matahari atau hujan dengan bahan baku bambu.
Para pengrajin umumnya tinggal di desa Kewarasan, Tanjung dan Kaniban. Ketiga desa tersebut memiliki warga yang tergantung dengan usaha kerajinan payung.
Kerajinan payung hias ini merupakan seni warisan pada era 1800-an, para pengrajin menjadikan payung hias sebagai tulang punggung ekonomi dan pernah menjadi bagian utama dalam kehidupan di tiga desa tersebut.
Usaha kerajinan payung hias Juwiring tersebut masih ada tanda-tanda kehidupan. Langganan masih ada dimana-mana termasuk langganan besar, keraton Solo dan keraton Yogyakarta.
Tinggal 11 Pengrajin
Waktu kadang menjadi penanda kehancuran, degup kemajuan mulai menggerus kerajinan payung hias Juwiring. Pelan-pelan payung produksi pabrik besar mulai menggerogoti keberadaannya.
Sisa-sisa kedigdayaanya masih terasa di tiga desa tadi, meski tak semarak beberapa tahun silam, kini hanya tinggal 11 perajin. Kemana lainnya? Sebagian besar banting setir menjadi pedagang dan petani atau pengrajin sangkar burung.
Salah seorang pengrajin mengatakan bahwa alasan utama dia masih bertahan adalah karena merasa warisan leluhur yang harus diteruskan dan dilestarikan. Kepercayaan keraton menjadi spiritnya.
Pemilik sanggar payung wisnu mengaku saat ini masih mampu memproduksi 300 unit per bulan, dengan harga berkisar antara 50.000-3,5 juta/unit. Harga per unit tergantung dari ukuran, kalau yang kecil biasanya di jual per kodi dengan harga 100.000. Karya seni asal Klaten ini pun melanglang sampai Bali bahkan menjadi bagian utama dalam ritus Ngaben. Tak ada payung Juwiring ritus itu tak lengkap.
Ada juga pengrajin yang menggunakan bahan dasar kertas semen dalam membuat payung hias, meski rangkanya tetap menggunakan bambu. Seminggu mereka bisa menghasilkan lima kodi.
Proses pembuatan payung hias cukup sederhana, proses paling rumit hanyalah saat memberi ornamen atau melukis bagian atas payung yang terbuat dari kertas semen. Tetapi beberapa pengrajin lebih sering memasarkan payung buatannya tanpa hiasan. Produk tanpa hiasan biasanya dipakai oleh produsen besar.
Meski keberadaanya mulai terpinggirkan, juwiring tetaplah memiliki sebuah catatan sejarah. Bahwa di wilayah ini dulu amat beken dengan payung hiasnya.
Data dan fakta, Warisan seni budaya sejak 1800, Tiga desa di Juwiring masih memproduksi payung hias, Produksi masih dipesan Keraton Jogja dan Solo, Ritus ngaben di Bali tak lengkap tanpa payung Juwiring, Tinggal 11 perajin karena banyak yang beralih profesi