_

Ketupat Dalam Tradisi Warga Klaten

HNCK8306-730x487

JATENG - Grebeg Ketupat 2018 yang berlangsung di hari ke-tujuh lebaran  (Jumat,22/06/18) bertempat di Bukit Sidoguro Komplek Wisata Rowo Jombor yang  dibuka Bupati Klaten Sri Mulyani berjalan sangat meriah dan tertib. Klaten, 22/6/2018

Aksi pengunjung yang biasanya berebut dan saling melempar ketupat tidak lagi terjadi.  Masyarakat berebut menaiki 29 gunungan ketupat yang ada selanjutnya berbagi dengan ribuan pengunjung lain yang mengantri di bawah. Himbaun Bupati Klaten Sri Mulyani kepada pengunjung agar tertib dan tidak berebut ketupat ternyata cukup ampuh.  Apalagi hadirnya sosok anoman menjadikan suasana kian menarik sebab  anoman yang diperagakan warga menaiki gubungan ketupat dan membagi-bagikan buah dan ketupat dengan tertib sehingga warga tidak berebut sekaligus  menjadi obyek bidikan para fotografer.

Bupati Klaten Sri Mulyani mengatakan agar seluruh pengunjung bisa berebut ketupat lebaran dengan tertib dan tidak saling melempar. Selain itu Sri Mulyani menjelaskan gelaran Grebeg Ketupat 2018 menjadi bagian promosi wisata apalagi Rowo Jombor yang  saat ini kian cantik dan bersih sehingga menarik untuk dikunjungi.   Terkait pesan idhul Fitri Bupati Klaten berharap masyarakat untuk selalu menjaga amal ibadah dan amal sholeh sekaligus tidak lupa mengucapkan selamat hari raya Idhul Fitri 1439 Hijriyah.

Ahmad Salamun (87) salah satu pengunjung pedagang Pasar Gaten, Ngawen, Klaten saat bincang dengan awak media menjelaskan bersama pedagang lain berkunjung ke Bukit Sidoguro untuk menyaksikan grebeg ketupat.  Ada hampir 150 orang menyewa  sepur mini untuk berwisata ke Rowo Jombor.  Hanya pengunjungnya kata wanita tua itu yang saling berdiri sehingga yang tua seperti saya kata Ahmad Salamun tidak bisa melihat prosesi acara karena masyarakat yang berjubel.

Pengunjung yang lain Sunarti (55) warga Trunuh, Klaten Selatan sengaja mengajak anak dan cucunya sebanyak 5 orang untuk berlibur ke SIdoguro dan makan di warung apung Rowo Jombor.  Anak dan cucunya kata Sunarti penasaran bagaimana sesungguhnya prosesi grebeg ketupat.  Sunarti menjelaskan terkait acara dikemas sangat menarik selain ada sendratari Roro Jongrang dan maskot sosok anoman yang membagi-bagikan ketupat kepada masyarakat menjadi acara berlangsung tertib.

 

Guyub warga dalam tradisi Kupat Syawalan

 

Seperti tradisi syawalan di desa-desa Kecamatan Delanggu yang masih bertahan sampai saat ini yaitu Tradisi Bakdo Kupat. Tradisi desa yang rutin diadakan sepekan setelah tanggal 1 Syawal dalam penanggalan Islam Hijriah dengab menggelar prosesi Kenduri Kupat.

Kenduri kupat rata-rata masih bertahan didesa-desa seputaran Delanggu. Kenduri kupat diadakan pagi hari ba'da shalat subuh di joglo pendopo desa-desa tiap kesatuan Rukun Warga.

 

Di Kebonsari (Dukuh Kerron, Dukuh Kaibon, Dukuh Tegalsari) Desa Delanggu, Tradisi tersebut diadakan secara meriah. Dari prosesi Kenduri Kupat pagi hari dan dilanjutkan Halal Bihalal warga satu dusun. Tradisi Halal Bihalal didesa Kebonsari dikemas juga dengan acara bersih desa yang puncaknya digelar pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk setiap tahunnya.

 

Sesepuh pedukuhan di Kebonsari Miyoto Suwarno menuturkan bahwa Tradisi Kupatan diikuti semua keluarga dalam kesatuan rukun warga dipedukuhannya. Satu kepala keluarga wajib menyajikan hidangan Makanan Ketupat dalam kenduri kupat. Dalam satu keluarga rata-rata membawa 25 buah ketupat untuk dibawa dalam tradisi kenduri tersebut. Ketupat dari Janur (daun muda Kelapa) yang dimasak Ibu-Ibu desa umumnya saat ini  dibeli di Pasar tradisional Delanggu. Ketupat itu sendiri dimasak oleh Ibu-ibu didesa dengan masih menggunakan cara tradisional dengan memakai kayu bakar, pungkas Bapak Miyoto Suwarno menerangkan tradisi desa yang masih rutin digelar tahunan tersebut.

 

Dalam kesempatan lain berbincang dengan Bapak Sri Mulyono selaku Kepala Desa Delanggu menambahkan bahwa, Tradisi Kupatan di Desa Delanggu masih rutin digelar tiap tahunnya di setiap kesatuan Rukun Warga diwilayahnya. Sri Mulyono menuturkan bahwa Filosofi Ketupat itu sendiri yang menguatkan warganya untuk terus mempertahankan tradisi desa yang luhur tersebut. Secara lebih rinci Sri Mulyono menjelaskan satu persatu filosofi Ketupat yang dipercaya warga masyarakat didesanya. Seperti bentuk anyaman ketupat yang memiliki arti kompleksitas warga masyarakatnya yang harus direkatkan dengan tali silaturahmi. Lalu arti kata Janur Ketupat itu sendiri memiliki makna Jatine Nur yang berarti Hati nurani. Dilanjutkan makna bentuk ketupat Papat Kiblat Lima pancer. Diakhir perbincangan Sri Mulyono berharap tradisi didesanya tersebut masih tetap disetiap kesatuan Rukun Warga diwilayahnya dipertahankan, agar tradisi luhur dan silaturahmi warga didesanya bisa bertahan.

Penulis Eksan Hartanto/ Yoyok Haryo

Editor Abdulah Ihsan
views