_

Gora Swara Nusantara, Berproses Srawung Mencintai Negeri

HNCK8306-730x487

Cara yang berbeda, yang dilakukan Gora Swara Nusantara tidak hanya pementasan tetapi berproses, srawung berkenalan (nyedulur banyu) dan berkesenian yang mereka menyebutnya berbudaya. Mengutamakan Srawung tidak memandang status, namun tidak meninggalkan kualitas karya.

Ratusan pelaku seni di Klaten, jawa Tengah, yang terkumpul dalam komunitas Gora Swara Nusantara, menggelar serangkaian gladi/ pentas seni kolaborasi, sebagai cara mereka mencintai negeri. Bertepatan dengan peringatan hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei, Gora Swara menampilkan pagelaran bertajuk Arjuna Wiwaha.

Saat pagelaran peringatan hari Kebangkitan Nasional, semangat mencintai negeri Indonesia, sebagai bangsa yang demikian kaya dengan kebudayaan dan kebhinekaan, menjadi roh dasar gerakan para anggota Gora Swara Nusantara. Tak heran, dalam setiap penampilan dan pagelaran, beragam komposisi bentuk seni dan pelaku dikemas secara kolaboratif. Seni tari dan gerak, seni karawitan, seni lesung, seni jimbe, seni hadroh, seni paduan suara, dan lain-lain, ditata secara apik dan menarik. Kolaborasi seni dan pelaku dari berbagai latar belakang profesi, geografis, dan status merupakan pendekatan reflektif bagaimana kaya dan bhinekanya bangsa Indonesia.

Koordinator gora swara nusantara, wening swasono menyampaikan, pagelaran peringatan hari Kebangkitan Nasional merupakan tapakan awal menuju puncak pagelaran Gora Swara di tanggal 28 Oktober nanti. Yakni, pada peringatan hari Sumpah Pemuda. Secara historis, Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 memang menjadi pijakan terbangunnya semangat kebangsaan para pelaku sejarah Indonesia melahirkan sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Para pelaku seni di Gora Swara Nusantara mencoba menterjemahkan dan menawarkan kembali semangat kebangsaan dan cinta negeri ini kepada generasi terkini.

Sementara, saat pagelaran peringatan Harkitnas, tampilan Gora Swara Nusantara memberikan kesan tersendiri bagi warga negara asing, yang kebetulan menonton sepanjang pagelaran. Menurut Patrick, warga negara Jerman ini, melalui pagelaran yang ditampilkan, demikan menegaskan betapa kaya dan bhinekanya bangsa Indonesia. Banyaknya perbedaan ternyata mampu menjadi sebuah kekayaan, saat masing-masing menyadari peran masing-masing.

Begitu juga, kesan yang disampaikan oleh Koordinator seni Paduan  Suara dari GKJ Ketandan, Indiyah Jawi Hastuti, yang menarik di Gora adalah persaudaraan, lintas iman, lintas profesi, lintas strata ekonomi, saling menghargai dan paseduruannya yang tidak bisa dilupakan. Hal senada pun juga disampaikan OMK Rayon Klaten yang baru terlibat ditahun 2017, ternyata asyik ketemu dengan teman teman hadroh, ketemu karawitan, pokoknya asyik, aksi nyata pluralisme.

baca juga: http://waktoe.com/contentFoto.php?id=2017051551216,

 

Mereka Yang Ada di Belakang Layar

Roh  Arjuna Wiwaha, yang diambil sebagai tema pagelaran, memberikan gambaran, dari sejarah, menuju perwujudan yang proporsional dan presisi di jamannya, dalam bahasa Jawa bisa dipadankan Nut Jaman Kalakone. Perbedaan segala latar belakang sudah ada, sedang ada dan akan selalu ada. Bertitik tolak dari berbagai perbedaan tersebut secara sadar sepakat untuk menjalin, menganyam dan membangun kebersamaan untuk mewujudkan situasi dan kondisi harmoni kehidupan, baik secara sosial-ekonomi budaya dan alam.

Tidak Gampang, Kata yang diucapkan salah satu pegiat yang bertugas mengkoordinir latihan, Kebulatan tekad untuk Srawung yang dibangun, tetap saja ada loncatan-loncatan egoisme. Merasa super, merasa bisa, pun mewarnai proses yang dilakukan. Membaurkan kaum akademisi, seniman profesional, dengan masyarakat awam, memotivasi di sisi lain dan menurunkan ego di sisi yang lainnya pula.

Belum lagi urusan pendanaan, kemandirian saling subsidi, pun berlaku di Gora Swara, Latihan yang berpindah pindah, membawa alat-alat yang harus membutuhkan transportasi, dan konsumsi yang harus dipersiapkan semuanya gotong royong.

Dalam tapakan awal Gora Swara di Harkitnas, disaat Ujian Sekolah juga menjadi persoalan, harus berhitung agar anak-anak yang terlibat tidak terganggu. Maka hanya sekitar 8 kelompok seni dari berbagai penjuru kampung yang dilibatkan. Meskipun jika dihitung  sekitar 20 (duapuluh) kelompok seni di puncak acara (hari Sumpah Pemuda) yang terlibat. Waktu yang hanya satu bulan dimaksimalkan, rata rata ketemu latihan dimasing masing kelompok sekitar 3 (tiga) Kali, terangnya.   

Yang terlibat di dalam Gora Swara Nusantara, melakukan berbagai langkah, mengumpulkan dan berkumpul untuk srawung secara aktif dari masing-masing komponen yang mandiri-mardikeng, melakukan seleksi permasalahan primer dengan tidak mengesampingkan sekunder, menyusun kerangka dan menyusun bangunan yang mempunyai kwalitas dan esensi, filosofi, artistik, fungsional (multi daya-guna).

Agus Bimo, Penulis Cerita yang juga seniman Janthur, menyampaikan, ini sebagai perwujudan, implementasi mengembalikan lagi semangat kebersamaan.  Kalau dulu bangkit, sekarang tinggal memelihara, mewujudkan betul- betul,  Gora sendiri dari bahasa Jawa Kuno, berarti  suara yang dahsyat, yang mempunyai kekuatan yang besar, swara ya suara. Yang ditawarkan adalah, kalau yang terlibat ini ada guru, petani, pencari pasir, buruh bangunan dan lainnya, bisa berkumpul kenapa tidak elemen-elemen di seluruh bangsa ini melakukan hal yang sama, sebagai cita-cita hidup yang harmoni.

Dari latar situasi kondisi alam, ekonomi, sosial-budaya, politik, agama-kepercayaan dan segala permasalahan yang ada dalam personil, pelaku, penggerak seperti halnya dalam Negara dan bangsa NKRI. Dengan kata lain jagad NKRI, seisinya. Sekarang ini kebangkitan nasional harus lebih ditekankan dan diwujudkan secara nyata. Perbedaan yang sudah disepakati menjadi kesatuan-kemanunggalan dalam suh NKRI. Perbedaan dengan segala unsur dan aspeknya adalah kenyataan bagian dari bahan baku bangunan mozaik, puzeel atau lego (multi media dan demensi) NKRI.

Kesadaran penuh akan situasi dan kondisi Negeri, Gladi awal yang di sepakati dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, akhirnya komunitas Gora Swara Klaten mengerucutkan dalam karya budaya. Kesadaran-kesadaran dimana, sadar keberadan bermacam kwalitas dan esensi sebagai  bagian integral NKRI, Seni salah satu wujud komponen Budaya, Bersatu, menganyam dan membangun bentuk gelar seni yang bersifat srawung (kolaborasi), Mengasah-mengasuh berbagi kawruh adalah proses bangunan kokoh budaya lokal yang berefleksikan Nasional.

Tajuk Arjuna Wiwaha, terinspirasi dari satra kakawin Harjunawiwaha digubah oleh empu Kanwa jaman Erlangga sekitar abad XI ( th. 1028 – 1035 ), dipakai roh babaran gelar budaya Bangkit – Guyub.

Diceritakan, Suralaya terancam oleh kesaktian dan keserakahan raksasa yang bernama Niwatakawaca. Harjuna yang mempersiapakan diri untuk Baratayuda, bertapa di gunung Indrakila. Berhasil meper nafsu, menjadikan pribadi tak terkalahkan oleh beberapa godaan baik dari penjilmaan para dewa maupun utusan raksasa (bidadari, bantah dengan pertapa dan adu titis busur panah dengan Kirata). Karena kwalitas itulah Harjuna mendapatkan kepercayaan oleh para Dewa untuk memusnahkan Newatakawaca dan memporak-porandakan kerajaaannya (Manimantaka), dimana kenyataannya adalah sentral dan sarang keangkaraan murka.

Dari latar sastra inilah terdapat point,  Nusantara yang kaya akan kemajemukan termasuk alamnya, akan terbebas dari ancaman apabila semangat kebersamaan mempertahan, ngrukti dan mengolah dengan budi ksatria, sudra nan pandita.

Ending pagelaran, Penyusunan peta NKRI dari tiga bagian waktu, Timur, Tengah dan Barat. Analog adalah, menganyam, merajut, menyusun,  membangun, ngrukti dan menggunakan bersama dengan berbagai nilai kehidupan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis ihsan abdulah nusantara

Editor ihsan abdulah nusantara
views