_

Insiden Meriam Giant Bow, Anggota DPR RI Komisi I Minta Perketat Pengontrolan Alutsista TNI

HNCK8306-730x487

Waktoe.com - YOGYAKARTA, Insiden meriam giant bow yang menewaskan 4 prajurit TNI AD dan beberapa luka-luka saat Latihan pendahuluan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Tanjung Datuk Natuna Provinsi Kepulauan Riau, Rabu (17/05) lalu, mendapat tanggapan dari anggota Komisi I DPR RI Sukamta. “Kita sampaikan rasa berduka cita yang dalam atas insiden ini. Semoga keluarga yag ditinggalkan diberi ketabahan. Semoga arwah para prajurit yang gugur dalam tugas Diterima di Sisi Tuhan Yang Maha Esa," ujarnya, Kamis (18/05) kepada waktoe.com.

Belum ada juga kejelasan penyebab insiden ini. Namun menurut Sukamta, setidaknya ada 2 kemungkinan penyebab insiden tersebut. "Bisa karena kerusakan teknis senjatanya yaitu Giant Bow bermerek Chang Chong ini, atau bisa karena kesalahan teknis prajurit yang mengoperasikannya, human error," katanya.

Atau bahkan, lanjut Sukamta bisa jadi juga kombinasi keduanya, kesalahan teknis senjata yang ditambah human error karena panik. "Kecelakaan yang menimpa TNI sudah beberapa kali terjadi, pesawat jatuh, helikopter jatuh, dan lainnya. Bisa jadi faktor penyebabnya karena human error atau memang alutsistanya. Belakangan juga terjadi rudal C705 terlambat meledak saat uji coba di KRI Banjarmasin September 2016," tambahnya.

Melihat beberapa kejadian tersebut, dia mendorong kepada pihak TNI untuk menginvestigasi kejadian-kejadian itu secara komprehensif dan memberikan keterangan secara resmi apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. "Apapun hasil investigasinya, evaluasi dan peningkatan kualitas prajurit dan alutsista menjadi suatu keharusan dan keniscayaan. Kita harus tingkatkan skill, kedisiplinan dan kesejahteraan TNI. Senjata yang digunakan prajurit TNI berbahaya semua, seperti meriam giant bow ini yang konon memiliki kecepatan proyektil 970 meter per detik. Maka harus dioperasikan dengan skill dan mental yang tidak main-main," katanya.

Selain itu masalah pengadaan alutsista, Sukamta meminta agar diperketat pengontrolan kualitasnya. "Kita terus mendorong peningkatan alutsista TNI, tidak hanya kuantitasnya, aspek kualitas juga harus diprioritaskan. Lebih baik memiliki jumlah alutsista tidak banyak tapi berkualitas dari pada punya alutsista tidak banyak tapi berkualitas daripada punya alutsista banyak tapi tidak berkualitas, karena alutsista yang tidak berkualitas membahayakan diri kita sendiri," tegasnya.

Penulis CH DEWI RATIH KPS | ch.dewiratih@gmail.com

Editor CH DEWI RATIH KPS
views