_

Membangun Instalasi Air Hujan Untuk Minum, Kenapa Harus Beli

HNCK8306-730x487

waktoe.com – KLATEN, mengkonsumsi air hujan biasanya hanya untuk mandi, mencuci dan kebutuhan kakus/wc, namun dalam beberapa tahun terakhir masyarakat Bunder, desa Jarakan – Bandungan kecamatan Jatinom, kabupaten Klaten, menempatkan air hujan bagaikan emas. warga memelihara air hujan didalam bak-bak tampungan yang berada di rumah masing masing dengan perlakuan yang baik. apalagi sejak di belajari tentang masalah air di kampus kandang hujan. Klaten 28/2/2017

Mbah Sunar menyampaikan, kami awalnya malu jika ada tamu dan kami akhirnya memberikan minum teh, tidak berani bilang kalau ini dari air hujan, “kami selalu bohong bahwa air ini dari air tangki (beli), bukan air hujan”. Namun ternyata air hujan jauh lebih baik dibanding air yang lainnya, hal ini setelah ada pembelajaran di kampus kandang Hujan di kampung Bunder juga, sebutnya.

Lanjut, Mbah Sunar, Air hujan ini selalu kita ukur dengan alat, PH dan TDS ternyata baik, selanjutnya air kita proses dengan hidrolisa (alkali), hal ini bertujuan untuk memisahkan asam dan basa, maka silahkan diminum basanya, asam bisa di pakai macam macam pula, saat disinggung kenapa yang harus diminum basa, dengan wajah polosnya menjelaskan, dimana tubuh manusia 70 (tujuhpuluh) persen terdiri dari air, dan kandungan asamnya sudah banyak dengan berbagai pola makan dan pola hidup, maka kita minum basa ini untuk menormalkan kondisi tubuh.

baca juga : http://waktoe.com/mbah-sunar-warga-bunder-menganggap-air-hujan-itu-seperti-emas/

 

Di beberapa rumah warga memang terlihat sudah banyak yang memakai alat yang dibuat dikandang hujan, mereka tidak hanya memakai alatnya saja tetapi mereka memahami betul akan masalah air. Bahkan masalah pemanenan air hujan (ngundhuh banyu udan : bhs Jawa), terus dipublikasikan melalui berbagai kegiatan dan sarasehan, dan bahkan bersih bak tampungan, memelihara kedungpun dilakukan warga Bunder secara mandiri untuk memberikan pengertian baik diinternal warga maupun keuar daerah.
editor : Ihsan Abdulah Nusantara

Penulis Ihsan Abdulah Nusantara

Editor
views