_

Nasib Monyet Dalam Perburuan Di Bukit Sinyo, Karanggede

HNCK8306-730x487

Tidak ada monyet/ kera di perbukitan Kenyo/ Sinyo, bukit yang terdapat makan anak penjajah Belanda ini, dikaki bukitnya hidup 3 desa yang meliputi desa Sendang, Karangsalam, dan desa Dologan.

Penyerangan terhadap enam (6) warga Lansia di tiga desa, oleh Monyet ekor panjang, mengagetkan banyak pihak, asal muasal hewan omnivora ini. Tak ayal, praduga-praduga pun bermunculan. Namun monyet/ kera ini hidup sendirian, masyarakat yang menjadi korban pun mengakui hanya ada satu, tidak ada gerombolannya.

Karena korban gigitan monyet ini terus bertambah, sudah terdapat enam (6) orang per (08/06/2017), pihak desa beserta para pemburu melakukan perburuan terhadap monyet.

Namun, belum ada yang menemukan atau melihat monyet. Kondisi lingkungan yang berbukit dan rapatnya pohon menyulitkan proses perburuan.

Tidak hanya masyarakat lokal, pihak kepolisian atau TNI, pemburu dari luar Boyolali pun ikut terlibat.

Seperti Wahyu beserta rekannya, dari Solo mengatakan sudah beberapa hari ikut berburu monyet bersama pemburu dari Klaten, Semarang, Salatiga, namun tidak menemukan jejak monyet di sini.

“Kondisi medan yang sulit mas, jadi kita tidak mungkin menyusui tebing yang curam, berbagai cara dengan membuat perangkat  pun sudah kita lakukan, namun juga tidak kelihatan”, pungkasnya.

Terlihat juga perangkap seekor monyet yang berada di dalam kurungan yang diletakkan dekat tebing dan rerumpunan bambu, namun juga tidak menghasilkan.

Kapolsek Karanggede AKP Margono, mengatakan, awalnya kita mendapatkan laporan dari warga dan dimintai bantuan untuk memburu monyet yang telah melakukan penyerangan terhadap warga. Berbagai cara sudah kita lakukan dengan mengerahkan personil, namun nihil hasilnya.

“Disini tidak ada monyet/ kera, dimungkinkan monyet ini lepas dari peliharaan orang atau dilepas, soal bahan baku makanan di sini banyak, ada ketela, jagung, kacang dan buah pisang milik warga”.

"Jadi kalau akibat kelaparan, dimungkinkan tidak", terangnya.

Hal senada juga disampaikan kepala desa Sendang, Huri, sejak kejadian ada korban penyerangan, kita lakukan patroli yang terbagi dalam tiga (3) shiff, pagi, siang dan malam. Rata-rata lima (5) hingga Tujuh (7) orang, untuk dari ke-enam korban yang paling parah kakinya hampir putus, jadi masih di rawat di rumah sakit, jelasnya.   

Nasib Primata semakain mengenaskan, kekejaman pelatihan monyet, untuk topeng monyet, dengan mengantung kaki monyet dengan posisi kepala dibawah selama berbulan-bulan, Ada juga yang menjual daging  dan otak monyet yang berasalans sebagai obat.

Di dunia terdapat sekitar 200 jenis primata (bangsa kera dan monyet) dan 40 jenis atau hampir 25 % diantaranya hidup di Indonesia. Namun sayangnya 70% primata Indonesia tersebut terancam punah akibat berkurang atau rusaknya habitat primata dan penangkapan illegal untuk diperdagangkan.

Primata mempunyai peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Banyak jenis primata yang menjadi indikator tentang kondisi hutan atau ekosistem yang masih bagus. Primata seperti orangutan, owa, bekantan dan tarsius juga bisa menjadi obyek wisata alam yang menarik, yang akan mendatangkan keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat sekitar habitat primata itu.

Meskipun primata mempunyai banyak kemiripan dengan manusia (catatan: manusia secara taxonomi juga masuk dalam bangsa primata), nasib primata Indonesia semakin mengenaskan. Selain terus menerus kehilangan habitatnya, primata mendapat ancaman serius dari perdagangan primata. Ribuan primata Indonesia setiap tahunnya ditangkap dari alam untuk diperdagangkan. Sebagian besar, lebih dari 95% primata yang diperdagangkan itu hasil tangkapan dari alam

Proses penangkapan, pengangkutan dan perdagangan primata itu seringkali kejam dan penuh dengan tindakan kekerasan. Ada banyak primata yang mati dalam proses perdagangan primata ini.

Kukang yang diperdagangkan itu banyak yang sudah dicabuti gigi taringnya oleh pemburu, ini untuk memberi kesan bahwa kukang adalah binatang yang jinak dan tidak menggigit. Pencabutan gigi itu dilakukan dengan menggunakan alat penjepit (tang) dan kemudian sambil giginya dijepit dengan tang, kukang tersebut diputar-putar hingga giginya lepas. Pencabutan gigi ini seringkali menyebabkan infeksi dan kematian bagi kukang.

Monyet bertubuh kecil sedang, dengan panjang kepala dan tubuh 400-470  mm ekor 500–600 mm, dan kaki belakang (tumit hingga ujung jari) 140 mm. Berat hewan betina 3-4 kg, jantan dewasa mencapai 5–7 kg.

Warna rambut di tubuhnya cokelat abu-abu hingga trengguli,  sisi bawah selalu lebih pucat. Jambang pipi sering mencolok. Bayi-bayinya berwarna kehitamanJenis ini sering membentuk kelompok hingga 20-30 ekor banyaknya, dengan 2-4 jantan dewasa dan selebihnya betina dan anak-anak.

Kra memakan aneka buah buahan dan memangsa berbagai jenis hewan kecil seperti ketam, serangga, telur dan lain-lain. Kadang-kadang kelompok monyet ini memakan tanaman di kebun dan menjadi  hama Dibalik kelucuan monyet yang digunakan untuk topeng monyet itu ternyata menyimpan kekejaman? Monyet yang digunakan untuk topeng monyet itu dilatih dengan cara kejam dan kekerasan. Monyet itu digantung dengan posisi kepala di bawah selama berbulan bulan untuk membuat monyet tersebut menurut. Monyet juga dibuat kelaparan, jika monyet tersebut menuruti perintah pelatih baru monyet tersebut diberi makan.

Di beberapa daerah primata itu dijual dagingnya atau otaknya dengan alasan sebagai obat. Ini adalan alasan yang sama sekali tidak mendasar, karena tidak ada bukti ilmiah yang menyebutkan bahwa daging primata itu bisa menyembuhkan penyakit. Penyajian makanan dari daging primata itu seringkali juga mengerikan karena primata tersebut dibakar hidup-hidup bahkan ada juga yang disedot otaknya dalam kondisi masih hidup!

Sebagian besar primata yang dipelihara oleh masyarakat di rumah itu dalam kondisi yang buruk, seperti mendapatkan makanan yang tidak sesuai, kandang yang sempit atau tanpa teman.

Kebanyakan primata yang dijual itu masih kecil yang masih terlihat lucu, ketika beranjak besar primata itu dianggap tidak lucu lagi dan membahayakan, sehingga seringkali orang melepas primata itu dengan sembarangan atau bahkan membunuhnya.

Karena primata yang dipelihara itu dalam kondisi buruk, sangat rawan terjadi penularan penyakit dari primata ke manusia (zoonosis), seperti hepatitis, TBC, herpes, asma dll.

Kepmen Kehutanan No26/KPTS-II/1994 tentang Pemanfaatan Jenis Kera Ekor Panjang (Macaca Fascicularis), Berik (Macaca nemestrina), untuk Keperluan Ekspor. Yang mana dalam peraturan ini pemanfaatan Macaca fascicularis untuk keperluan eksport harus berasal dari hasil penangkaran.

Justru karena lantaran tidak termasuk satwa yang dilindungi monyet jenis ini paling rentan terhadap ekspoitasi baik diburu, diperdagangkan, dan dijadikan objek tontonan. Ditambah dengan tingkat deforestasi yang terjadi dan penyempitan luas lahan di Indonesia, bukan tidak mungkin Monyet Ekor Panjang akan ikut terancam

Kejadian perubahan perilaku Primata di Bali, oleh Ahli primata di Liverpool John Moores University di Inggris, Serge Wich, mengatakan bahwa penelitian Brotcorne memberikan “contoh baru yang cukup spektakuler tentang fleksibilitas pada perilaku primata dalam merespon perubahan lingkungan.”

Brotcorne mengatakan, hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Primates ini dapat membantu para peneliti mempelajari lebih lanjut tentang psikologi primata. Bagaimana informasi menyebar di antara kelompok, seberapa banyak mereka memahami tindakan mereka sendiri, dan bagaimana mereka merancang masa depan.

Bahkan, penelitian ini dapat menjawab pertanyaan tentang evolusi kemampuan kognitif manusia. “Kemampuan barter dan berdagang tidak terlalu dikenal di antara hewan. Kemampuan tersebut biasanya didefinisikan ekslusif untuk manusia,”ujar Brotcorne.

Dengan menyaksikannya pada monyet, kita dapat mengetahui bagaimana awal perilaku tersebut muncul dalam evolusi garis keturunan manusia.  

Penulis Ihsan Abdulah Nusantara

Editor ihsan abdulah Nusantara
views