_

Ada Pungli Di Saluran Irigasi Klaten, Petani tidak Mendapatkan Perlindungan

HNCK8306-730x487


Akses air irigasi bagi petani mengalami kesulitan, tidak hanya karena merebaknya corporasi privatisasi air, namun di wilayah berkecukupan air, dan masyarakatnya sebagian besar hidup dari bertani,  akses air harus membayar.

Sosok yang kerempeng, kecil, hitam karena sengatan matahari, tetap terus mengayunkan cangkulnya untuk membenahi pematang sawahnya. Memang banyak lubang-lubang kepiting yang membuat bocornya aliran air sawah. Saat tidak ada limpahan air petani harus membayar 50.000 rupiah hanya untuk mengetuk pintu air agar dibukakan.
Air menjadi faktor penting bagi petani, namun disaat aliran air dikuasai orang-orang yang tidak  bertanggung jawab dan petani tidak kuasa untuk mengalirkan kesawahnya, mereka harus merogoh kocek lebih dalam, mereka harus membayar kepada segerombolan  yang menguasai pintu air.
Setiap 1 (satu) patok (2000 an meter 2), petani harus membayar 50.000,- rupiah per aliran, dalam masa tanam padi sebanyak 4 (empat) kali petani ini harus mengairi sawahnya, berarti petani harus mengeluarkan 200.000,- rupiah per masa tanam.
Seperti yang disampaikan Sriyono, petani penggarap di hamparan depan SMP Negeri 2 Klaten, "saat ada limpahan air ndak masalah mas, tapi kalau nggak ada air kita harus bayar 200.000,- rupiah untuk 4 (empat) kali dalam satu masa tanam". Maka blok ini saja jika dihitung harus membayar 6.000.000 rupiah per masa tanam.
Lanjut Sriyono, Blok sawah ini dialiri dari sungai Brintik,  disungai itu ada pintu air yang dijaga dan kita harus bayar ke mereka. jadi blok disini ada 30 patok (60.000 an meter 2). Dengan begitu biaya operasional kita semakin besar, terangnya. Belum lagi blok -blok hamparan sawah yang lain yang diperlakukan sama, dan harus membayar, pungkasnya.
Ditempat terpisah, Petani muda  desa Delanggu, Eksan Hartanta  mengatakan,  Tata kelola air irigasi pertanian di desa Delanggu berpusat dari bendungan Ploso Wareng Kecamatan polanharjo (desa wangen -- belakang PT. TIV Klaten), yang diatur subdit pengairan kabupaten Klaten.  Yang terbagi menjadi beberapa bendungan kecil lagi ke beberapa wilayah desa dan kecamatan dibawah Polanharjo (Delanggu,  kecamatan Wonosari,  Keprabon, dan Segaran). Dengan Ulu-Ulu tiap desa (punggowo desa) sebagai penanggung jawab besaran volume air maupun jadwal pembagian air di tiap desa yang kebagian irigasi.
"pembagian di Blok sawah oleh Darmo Tirto, mereka mendapatkan bengkok dan iuran dari  swadaya petani per panen Rp.20.000,Bagi tiap petani tidak masalah,  karena dari uang itu juga dipakai untuk konsumsi kegiatan gotong royong membersihkan saluran irigasi tiap bulan".
Lanjut Eksan Hartanto, Kendala-kendala irigasi yang tidak lancar, Tidak adilnya pembagian air dari pusat (tergantung berapa besarnya setoran desa untuk penjaga pintu air Ploso Wareng sangat berpengaruh / bisa dimainkan istilah petani nya), Debit air tiap tahun makin berkurang volume nya saat sampai dibawah Polanharjo, pungkasnya.

 

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor IHSAN ABDULAH NUSANTARA
views