_

Afriboy; SPAM Pemusiran Tidak Gagal

Air adalah sumber kehidupan, kebutuhan air bersih sangat penting bagi warga masyarakat, Seperti di desa Pemusiran kecamatan Nipah Panjang, keberadaa SPAM yang tidak optimal sangat merugikan warga

HNCK8306-730x487
Afriboy Kabid Pemukiman dan Perumahan Rakyat Dinas PUPR kabupaten Tanjung Jabung Timur

JAMBI - Pipa distribusi warna hitam berdiameter 3 inchi membentang sepanjang alur perkampungan di Desa Pemusiran, kecamatan Nipah Panjang, kabupaten Tanjung Jabung Timur.Pipa tersebut  sebagai pipa distribusi yang menyalurkan air dari sumur SPAM yang dibangun pemerintah dan selanjutnya di salurkan kerumah warga dengan pipa 0,5 inchi. Sabak, 22/3/2018

Meter Air yang terpasang di depan rumah warga sebagai alat ukur kebutuhan air setiap rumah dan besaran biaya yang nantinya harus dibayar warga.Pemasangan pipa kerumah hingga pemasangan meter air, tidak dikenakan biaya.

Namun, perencanaan itu sia sia belaka, akibat utamanya sumur SPAM tidak beroperasi  maksimal, bahkan sudah hampir 4 bulan tidak hidup.Sejak selesai dibangunnya SPAM, air  hanya hidup 3 kali dalam seminggu, saat pembangunannya pun tidak ada sosialisasi kepada warga Pemusiran.

Karena kondisinya begitu terus akhirnyaa  warga berinisiasi membangun sumur sendiri, dan sumur warga ini rata-rata memiliki kedalaman hingga 98 meter dan mampu mensuplai 8 rumah. meskipun kondisinya hampir sama dengan air SPAM yang hanya  untuk MCK dan untuk kebutuhan minum, masih memakai air hujan atau air galon karena Air dari SPAM berubah warna setelah mengendap. 

Sejak warga mandiri inilah instalasi pipa Spam diputus dan dipakai untuk mengalirkan air bikinan warga .meskipun disaat musim kemarau panjang  warga masih kesulitan untuk mendapatkan air, karena air hujan sudah habis akhirnya sebagian warga  yang tidak mampu beli air galon mengambil air dari sungai Batanghari dengan menempuh perjalanan sekitar 6 jam.

Seperti yang disampaikan Kades Pemusiran Akmal Rauf, menjelaskan warga Pemusiran sangat berharap  mendapatkan air bersih, harapan satu satunya dari saluran SPAM. Warga siap mengelola jika sumur tersebut diserahkan pengelolaannya. 

Akmal melanjutkan, Saluran air bersih ini ada sejak pemerintahan desa dipegang pak Said, bangunan masih memakai kayu, nah kemudian dibangun lagi tahun 2016. Saat pembangunan sumur alatnya jatuh, maka kontraktor bangun lagi, ya, yang dipakai sekarang ini. Jelasnya.

"Karena kondisi debit kecil, dulu warga sempat mengambil air dari  sumur lama  dengan disedot sendiri. Namun setelah ada penertiban dari pemerintah sudah tidak lagi", imbuh Akmal

Afriboy kabid Cipta Karya Dinas Permukiman dan Perumahan Rakyat menjelaskan, keberadaan SPAM (sarana penyediaan air minum) yang dibangun di desa Pemusiran kecamatan Nipah Panjang tidak gagal.

"Saat pembangunan sumur, alat penyedot jatuh ke dasar dan tidak bisa diambil, maka pihak kontraktor akhirnya membangun sumur yang kedua dan sampai sekarang sumur itu yang dipakai".

Sumur disana itu ada 3, sumur lama dibelakang, sumur baru ada dua, jelas Boy.

Tambah Afriboy, SPAM di Pemusiran ini memang belum bisa dioptimalkan karena bIaya operasional besar,  tahun ini diharapkan bisa beroperasi. Sebetulnya sangat standart dan memenuhi untuk dibuat SPAM karena jumlah pelanggannya  ada 250 SR (sambungan rumah), kita akan lakukan sosialisasi dengan masyarakat nanti, pungkasnya.

 

Menyandingkan proyek pemerintah dan Swadaya warga.

 

Pengolahan air bersih di Desa Pemusiran oleh DPU Rantau Rasau kab Tanjab Timur dilokasi  satu komplek dengan SD 84 /10 Pemusiran kec, Nipah Panjang Kabupaten Tanjabtim. Ada 3 bangunan yang berdiri dilokasi mulai Enginering, Pengisian air, Loket Pembayaran.

SPAM tersebut dibangun dengan anggaran APBD tahun 2016 yang menghabiskan dana MIlyaran rupiah, namun dianggap gagal oleh masyarakat desa pemusiran, dugaan kegagalan ini dikarenakan debit yang kecil dan tidak bisa menyuplai air setiap hari, maka dianggap perencanaan yang tidak baik.

Pembuatan sumur mengalami kegagalan dengan alasan alat yang dipakai jatuh, selanjutnya membuat sumur disebelahnya, dan diduga ini tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. SPAM di Pemusiran sesuai spesifikasinya harus mengeluarkan 2,5 liter perdetik untuk menjangkau 250 SR. 

Suraidah, Salah satu Warga yang juga menjadi anggota BPD (Badan Perwakilan  Desa) mengatakan, Karena nunggu lama, dan tidak bisa naik ke warga, maka warga bersama sama membuat sumur sendiri.

Seperti di dusun Adil Akhirnya memakai sumur bor sendiri, satu sumur bor untuk 8 hingga 10 rumah dan masing masing dikenakan biaya Rp. 1.200.000. Pembuatan sumur rata rata menghabiskan biaya 10 juta rupiah.

Lanjut Suraidah, pipa dari sumur ditarik ke masih masing rumah dan kita memakai pompa sendiri-sendiri jadi kita hanya kena beban listrik aja. Harapan kedepan masyarakat desa Pemusiran sangat butuh air bersih, pemerinah bisa bantu air layak untuk minum, minimal untuk MCK, namun air yang dihasilkan SPAM tidak layak konsumsi, program ini gagal.

Saat pemerintahan kades Said, air ini  hanya untuk memcuci, untuk konsumsi air minum kita pakai air hujan atau beli galon ( isi ulang) tetapi akhirnya tidak berfungsi lagi. Semenjak dibangun instalasi baru juga tidak pernah dipakai, warna kuningpun sebetulnya tidak masalah namun persoalanya air yang tidak mau naik, tidak cukup memenuhi kebutuhan warga.

Hasil pantuan kantor berita waktoe, Warga dusun Adil desa Pemusiran terdapat sekitar 15 unit sumur bor mandiri. Sumur pemerintah sedianya untuk satu desa  ada sekitar 300 san rumah yang  terbagi 3 dusun 16 RT dan Satu RT terdapat sekitar 27 KK , penduduk terbesarnya berada di hulu.

Rasit (35), warga setempat mengatakan, waktu mau membangun sumur banyak warga yang tidak mengetahui, tidak ada sosialisasi, tahu tahu dibangun dipasang meter dan sambungan pipa. 

" SPAM sampai saat ini kadang masih beroperasi namun hanya dipakai dusun Tritura saja".

Untuk dusun Adil dimana lokasi SPAM berada sudah tidak memakainya, karena warga cenderung membuat sumur sendiri, "SPAM tidak bisa diandalkan mas", tuturnya

Penulis Ihsan Abdulah Nusantara

Editor Ihsan Abdulah Nusantara
views