_

Akibat Defisit Anggaran, Bea Siswa Untuk Anak SAD Dibatalkan

HNCK8306-730x487
ilustrasi/ Suku Anak Dalam

JAMBI – Akibat terjadinya defisit Anggaran Pembangunan Belanja Daerah (APBD) tahun 2018, setiap anggaran OPD dipotong hingga 40 persen. Sengeti, 4/9/2018.

Pemotongan anggaran bidang sosial terhadap alokasi bea siswa terhadap pelajar SD dan SMP anak anak Suku Anak Dalam (SAD) ikut dibatalkan.

Defisit APBD 2018 sebesar lebih kurang Rp 81 Milyard tergolong yang sangat besar dibanding tahun tahun sebelumnya.

Seperti yang disampaikan Sekda M Fadhil Arief kepada Kantor Berita Waktoe beberapa pekan yang lalu, defisit anggaran tidak hanya terjadi pada tahun ini saja (2018, red) tetapi sudah terjadi tahun tahun sebelumnya, tetapi tahun ini sangat fantastis hingga 81 Milyard Rupiah.

“Kita akan lakukan rasionalisasi Anggaran dan akan ditetapkan dalam APBD Perubahan”, jelas Sekda.

Sementara itu salah satu dampak Rasionalisasi berimbas batalnya pemberian anggaran bea siswa terhadap anak anak dari Suku Anak Dalam yang hidupnya masih dibawah garis kemiskinan.

Seperti yang disampaikan kepala seksi Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Muaro Jambi, Fitri, mengatakan, Anggaran bea siswa untuk SAD dibatalkan.

“Anggaran yang sedianya diberikan untuk SAD harus dibatalkan, dan dianggarkan ulang nanti di tahun 2019”, ujar Fitri

Lebih lanjut Fitri menyampaikan, kebanyakan warga SAD memang masih di bawah garis kemiskinan, mereka yang sudah berbaur dengan masyarakat kebanyakan bekerja sebagai buruh Penderes karet, pemanen sawit namun juga masih ada yang mencari ikan di sungai.

Saat disinggung soal pendidikannya, mereka meskipun sudah ada alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tetapi masih sangat kurang, makanya dialokasikan dana bea siswa.

Lanjut Fitri, data mengenai SAD dinas Sosial tidak memiliki, keterbatasan anggaran operasional yang tidak memungkinkan kita terjun ke lapangan.

Lokasi SAD “diujung langit” sangat jauh, akses jalan masih berlumpur, jadi bisa kita harus menginap di lokasi, kata Fitri.

Untuk masyarakat SAD yang diluar kita tidak bisa mendeteksi berapa jumlah mereka, karena berpindah pindah.

Mereka ini beraliran Animisme, maka kemudian diterjunkan DAI untuk mendampingi, karena mereka tinggal bersama masyarakat yang mayoritas beragama Islam.

“Tidak ada paksaan merek harus memeluk Islam, karena sekitarnya muslim akhirnya kita terjunkan DAI”, jelas Fitri.

Sementara itu Bupati Masnah Busro mengiyakan pembatalan bea siswa bagi anak Suku Anak Dalam, hal ini disebabkan defisit anggaran, dan pilihannya harus dilakukan rasionalisasi.

“Kita akan alokasikan di tahun 2019 nanti”, tegas Masnah BusYro.

 

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views