_

Aksi Pengeroyokan Warnai Gelaran Karnaval di Desa Blanciran, Karanganom

HNCK8306-730x487

Kemeriahan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-72  di Desa Blanciran, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Minggu (20/08) diwarnai insiden pengeroyokan oleh sekelompok peserta karnaval kepada salah satu warga setempat. 
Hal itu terjadi lantaran bunyi suara knalpot sepeda motor dari salah satu oknum peserta karnaval membikin bising hingga terjadi peneguran dari warga setempat, namun naas, warga yang menegur justru terkena sasaran kemarahan dengan cara dianiaya, tidak hanya sampai disitu, salah seorang warga yang berusaha melerai juga ikut menjadi bulan-bulanan penganiayaan tersebut.

Dari beberapa nara sumber saksi kejadian yang berhasil dikonfirmasi terkait kejadian itu mengatakan, salah satu oknum pengeroyokan diketahui ada yang membawa senjata tajam dan aksi pengeroyokan itu didalangi oleh oknum warga yang kerap membuat onar disetiap acara Desa, ada dugaan kejadian itu memang disengaja.

"Kerusuhan itu diprovokasi, kita mengarah ke S, dia sering berbuat onar dimana-mana, kabarnya dia kebal hukum karena saudaranya ada yang jadi petugas, jadi dia nggak punya takut kalau membuat rusuh," Terang salah satu nara sumber warga setempat yang tidak mau namanya disebut.

Kepala Desa Blanciran Bambang Novianto membenarkan kejadian itu, menurutnya gelaran karnaval dalam rangka menyambut HUT kemerdekaan merupakan ivent tahunan yang diselenggarakan atas kerjasama semua pihak masyarakat Desa Blanciran. 

"Pesertanya ratusan orang melibatkan tujuh Dusun, kejadian pengeroyokan itu diluar perkiraan, sebab tahun-tahun sebelumnya nggak pernah ada masalah seperti ini (kerusuhan), ya baru ini terjadi, saya nggak habis pikir, harapanya dengan karnaval ini menjadi hiburan bagi warga tetapi malah terjadi keroyokan", Katanya.

Bambang berharap kedua belah pihak saling meredam permasalahan yang terjadi dengan diserahkanya kepada pihak yang berwajib.

"Sudah kita bawa masalah itu ke Polsek Karanganom, lima saksi sudah diperiksa, saat ini belum bisa berbuat banyak, baru bisa mencegah warga kedua belah pihak untuk tenang dan tidak berbuat lainnya yang bisa menimbulkan suasana semakin keruh dan tambah genting," imbuhnya.

Terpisah, korban pengeroyokan, Ateng (35) ketika ditemui di Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten menerangkan kejadian itu bermula pada saat dirinya sedang berada dirumah ketika acara karnaval berlangsung.

"Saya nonton TV dirumah, dengar ada yang gleyer-gleyer motor nggak saya gubris, pikir saya karnaval ya biasa, tapi setelah mendengar kegaduhan saya keluar rumah bermaksud melerai, kok tiba-tiba saya di massa, saya langsung dipukul kepala saya pakai benda apa saya kurang tahu, kepala saya langsung pusing, saya dipukuli pakai bambu, hanya itu yang saya ingat," Jelas Ateng yang kini menderita luka robek di pelipis, jidat dan bengkak di kepala bagian belakang.

Lebih lanjut, pihak korban melalui perwakilan warga melaporkan insiden pengeroyokan tersebut ke Polsek Karanganom, Minggu (20/08/17) dan tertuang dalam bukti surat tanda terima laporan Polisi Nomor : STTLP/ 04/ VIII/ 2017/ Sek Kra, atas nama Sarmidi sebagai pihak pelapor dan Solikin sebagai terlapor.

Pasca insiden tersebut warga Blanciran berharap agar pelaku pengeroyokan di proses secara hukum tanpa tebang pilih, adil, tidak membeda-bedakan status sosial dan hubungan kedekatan keluarga, karena salah satu oknum pengeroyok diduga ada hubungan keluarga dengan salah satu oknum petugas kepolisian.

Penulis yoyok tri

Editor ihsan abdulah nusantara
views