_

Cuitan Petani Di Hari Tani Nasional

HNCK8306-730x487
Wardiyono pegiat pertanian

JATENG - Senin (24/9),  merupakan hari spesial yakni Hari Tani Nasional atau National Farmer's Day.
Perayaan ini khususnya dirayakan oleh para petani yang ada di seluruh Indonesia.
Mengutip dari laman Serikat Petani Indonesia, peringatan ini lahir pada tanggal 24 September 1960 lalu.
Pada tahun 1960, Presiden Republik indonesia Soekarno menetapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA 1960).
Petani dan Hari Tani, ibarat petani dengan cangkulnya yang tak terpisahkan, karena setiap sektor masyarakat pastilah mempunya hari yang bersejarah dan ataupun hari rayanya tersendiri.
Dalam kebijakan UUPA mengatur tentang hak-hak dan kewajiban kaum tani, mengatur hak atas tanah, hak atas sumber-sumber agraria untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran petani dan bangsa.
Sementara itu penetapan Hari Tani Nasional baru diputuskan berdasarkan keputusan Presiden Soekarno tanggal 26 Agustus 1963 No 169/1963 yang menandakan pentingnya peran dan posisi petani sebagai entitas bangsa.
Seperti yang kita ketahui Indonesia adalah negara agraris nan subur yang terletak di sepanjang garis khatulistiwa, dimana sebagian besar rakyatnya hidup turun temurun sebagai petani.
Nah karena kondisi inilah, Petani ditempatkan pada posisi yang bertanggung jawab memberi makan penduduk Indonesia, disamping masih harus memenuhi kebutuhan untuk diri sendiri dan keluarganya.
Artinya peran petani di Indonesia sangat mulia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Petani sekaligus pegiat pertanian, Wardiyono dari kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, dilansir dari status Facebooknya  mengatakan, Mengikuti sosialisasi Perda no 5 tahun 2016 dan Pergub no 16 tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.
Setelah saya cermati isinya justru memperlemah dan mempersulit posisi petani , karena hampir semua kegiatan budidayanya dijamin, dicukupi dan dilindungi untuk memenuhi target produksi kebutuhan negara tetapi tidak  dilindungi , dijamin dan dipenuhi kesejahteraan Petaninya bagaikan Pahlawan tanpa tanda Jasa.
Makanya sangat susah regenerasinya.
Menurut saya lebih baik pemerintah itu melindungi dan memfasilitasi petani sesuai dengan masalah dan kebutuhanya seperti, petani itu selalu kena hukum pasar, kalau pas beli sarana produksi selalu mahal dan kalau menjual hasil produksinya selalu murah, maka usulan saya  adalah :
1. Mandirikan Petani dengan memberi tehnologi produksi saprotan dan beli hasil produksi bertaninya dengan harga tinggi".
2. Jamin biaya Pendidikan dan Kesehatan keluarga petaninya, agar bisa fokus dalam menekuni kegiatan budidayanya.
Insya Allah kalau pemerintah mau memfasilitasi sesuai dengan masalah dan kebutuhanya petani bisa sejahtera , regenerasi petani akan mudah dan tidak ada masalah karena profesi petani tidak kalah menjanjikan dengan profesi lainya.

 

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views