_

Dugaan Aliran Sesat, Masnah: Mereka Tertutup Masih Sulit Diungkap

Dugaan Aliran sesat dan pendapat masyarakat bagaimana?

HNCK8306-730x487
Bupati Masnah Busro saat penandatangan KUA PPAS Perubahan di Kantor DPRD Muaro Jambi (17/9/2018)

JAMBI – Diduga mengikuti aliran sesat, sekelompok orang yang berada di desa Sekernan menjadi perbincangan publik akhir-akhir ini. Beberapa media yang sudah meliris pun menambah semakin riuhnya perbincangan aliran sesat yang diduga di anut beberapa orang ini.

Saat wartawan kantor berita Waktoe mencoba mendatangi lokasi yang diduga sebagai tempat aktivitas (Masjid) dan ketemu dengan Emil (perempuan paruh baya)  yang mengaku sebagai jamaah masjid menuturkan, “ Kami itu muslim, Islam seperti umumnya Islam pada umumnya”, terang Imel membuka obrolan.

Awalnya Imel tidak bersedia menerima kunjungan media jika hanya sendiri, karena bukan Makhrom, namun karena ada beberapa awak media akhirnya bisa diterima didalam masjid.

Masjid yang berukuran 10 x 10 meter ini, masih proses pembangunan, layaknya seperti masjid pada umumnya, tidak ada hal yang khusus dalam bangunan masjid.

Karena belum jadi, masjid ini masih beralaskan tikar, dan memang belum tertata rapi. Berdiri di atas tanah hibah dari  dari Almarhum (tidak disebutkan nama red) masjid ini digagas sejak 10 tahun terakhir dengan iuran jamaah.

Imel  mengatakan, sebanyak 50 jamaah yang sholat dan mengikuti kajian disini. Yang dimasalahkan banyak orang soal Sholat Jumat.

“ Kalau kami menganjurkan wanita untuk sholat Jumat apa salah, karena perintahnya didalam AlQuran begitu”, ujar Imel

Kalau dimasalahkan, kami jarang bersosialisasi, saya kalau keluar harus mendapatkan ijin dari suami, seperti tadi saya ijin ke masjid ini ke suami, karena sama ustadz /Guru kami disuruh menjaganya.

“ Silahkan masjid dijaga kalau, ada media yang datang, betul ternyata memang saudara datang kesini”, imbuh Imel

Imel pun, menceritakan soal kegiatan kajian Alquran seminggu tiga kali (Senin, Jumat dan Ahad, red) dipimpin oleh Ustadz Gusti.

“Kajian terbuka untuk umum, silakan kalau mau ikut, tapi bawalah alat tulis dan Alquran, biar bisa mencatat tidak lupa”, jelasnya.

Jadi sebetulnya yang dipermasalahkan apa, kita tidak tahu, karena Islam ini terbagi dalam 73 golongan.

Kita kemarin sudah sampaikan dalam penjelasan kepada Camat, dan tokoh yang lain soal Sholat Jumat dan lainnya.

“Banyak orang menghujat tanpa tahu permasalahannya”, keluh Imel.

Selama 10 tahun, kami tidak mengganggu warga, dulu kami izin sama desa dan menurut hadits Nabi Muhammad SAW, pun dimana pun mukmin boleh bersujud.

Saat disinggung soal Ustadz Gusti, Imel menjelaskan, Dia lebih paham soal Alquran, Dia yang mengajarkan kami kepada kami tafsir ayat demi ayat dan latar belakang turunnya ayat tersebut.

Ditambahkan Imel, Jamaah dengan keyakinan dan bimbingan Alquran, akan mendirikan Pondok Pesantren.

Begitu pula, soal warga yang menyudutkan, kami tidak bisa komentar banyak,  karena hak warga untuk beragama diatur Undang-undang. Namun kita menunggu fatwa MUI, jika kalah kita masih bisa banding.

Diperoleh dari berbagai sumber, yang mereka sebut Gusti sebagai “guru”, adalah mahasiswa di salah satu universitas terkemuka di Jambi. Gusti jarang bersosialisasi dikampung dan kecenderungan dirumah dan kuliah.

Pendapat Mereka “Sesat atau Tidak”.

Sementara itu kepala Kementrian Agama kab. Muaro Jambi,Muhammad Ikbal  mengatakan, Aliran sesat itu mereka yang keluar dari Aqidah yang telah ditentukan, kita belum bisa mengatakan itu sesat atau tidak, masih menunggu kajian dan fatwa MUI.

"Sebetulnya kita juga sudah perintahkan kepada penghulu untuk memantau setiap masjid, dan memberikan arahan agar rumah rumah ibadah segera mencari ijin mendirikan bangunan.

"Ditunggu fatwa MUI saja biar tidak ada masalah", tegasnya

“Dikota Jambi ijin mendirikan tempat ibadah gratis, harapannya di kab. Muaro Jambi juga demikian, tetapi silahkan dicek apakah dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu juga memberlakukan demikian”, terangnya.

Serupa Kasi Intel Kejaksaaan Negeri Muaro Jambi, Novan Harpanta, yang sekaligus juga sebagai koordinator Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan Dalam Masyarakat (Pakem)  mengatakan kita hanya menjaga agar keresahan warga mampu teredam.

“Kita masih menunggu Fatwa MUI, bagaimana, itu menjadi keputusan final”, terangnya.

Sementara itu Bupati Masnah Busyro menyampaikan dihadapan media setelah menghadiri Rapat paripurna DPRD dalam penandatanganan dokumen KUA-PPAS mengatakan, menyerahkan kepada MUI sepenuhnya.

“Kita sudah dapat laporan dari Kapolres dan MUI soal dugaan adanya aliran sesat di Sekernan, agak sulitnya mereka tertutup jadi belum diketahui ajarannya seperti apa”, jelas Masnah.

Lanjutnya, Dalam dua hari ini mudah mudahan sudah selesai, sudah terungkap, dan itu kita serahkan ke MUI.

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views