_

Festival Candi Muaro Jambi 2018 Gagal Dilaksanakan

Tidak mendapatkan dukungan anggaran, Festival Candi Muaro Jambi yang sudah berjalan 17 tahun harus terhenti

HNCK8306-730x487
Indra Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga

JAMBI – Festival candi Muara Jambi rutin dilaksanakan setiap tahun. Sudah menjadi agenda tahunan perhelatan seni dan budaya ini dilakukan selama 17 tahun. Namun untuk 2018 batal dilaksanakan.

Pembatalan ini disampaikan Indra, kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Diparpora) kabupaten Muaro Jambi, kepada Kantor Berita Waktoe  (5/9/2018), Untuk agenda Festival Candi tahun ini kita tiadakan.

“Disamping kemarin bertepatan dengan bulan puasa, dan tidak adanya dukungan anggaran dari pusat, provinsi dan daerah, maka festival Candi Muaro Jambi kita tiadakan”, jelas Indra

Lanjut Indra, destinasi wisata Candi Muara Jambi menjadi satu satunya unggulan wisata milik kabupaten Muaro Jambi, disamping ada destinasi wisata yang dikelola mandiri desa dan swasta.

Candi Muara Jambi juga tidak hanya milik kabupaten Muaro Jambi, tetapi juga provinsi bahkan Nasional karena sudah masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), tentunya bisa kita jual sebagai destinasi wisata keluar. Maka dibutuhkan kerjasama dengan pihak pihak lain. Kita ada juga keterkaitan dengan Balai Pengelolaan Cagar Budaya (BPCB) karena ada aturan kegiatan yang tidak bisa kita lakukan, maka kita melakukan koordinasi ekstra.

Dengan bantuan Dana Alokasi Khusus dari pusat untuk membangun jalur pejalan kaki dan motor yang proyek sedang berjalan dan panggung, juga mendapat bantuan dari provinsi Jambi untuk pembangunan parkir.

Skema ke depan untuk mengurai kemacetan yang selama ini terjadi jika ada event tahunan dan hari raya kita akan ajukan untuk pembebasan lahan untuk sentral parkir

“Kedepan sudah tidak ada lagi mobil/motor yang diperbolehkan masuk”, terang Indra.

Zonasi komplek percandian Muara Jambi terbagi dalam tiga kawasan, mulai dari kawasan zona Inti, kawasan zona pengembang, dan kawasan zona penyangga. Nah dikawasan Pengembang dan  penyangga ini tanah tanah dimiliki oleh warga, makanya kita akan cari lahan dan  lakukan pembebasan lahan dulu.

Dengan infrastruktur terbangun harapannya ada multiplayer efek mulai dari peningkatan ekonomi tentunya Restribusi yang akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan kita dapatkan.

 

Dibutuhkan Dukungan 

Problem yang dihadapi dalam membangun kawasan candi Muaro Jambi, belum adanya sinergitas antar stakeholder, ini yang kita hadapi, terangnya.

Sementara selama ini selalu saling melempar tanggung jawab, padahal disitu keterlibatan beberapa OPD ada, mulai dari Disparpora, Kebudayaan yang menginduk di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Perindagkop, Dinas PUPR, dan tentunya warga sekitar.

Seperti persoalan masih banyaknya Jamban (perilaku BABS, red), kita sering lakukan sosialisasi soal Sapta Pesona, saat awal warga ya, ya, namun setelah itu ya, kembali lagi, cerita Indra.

Sebetulnya warga disana (Muara Jambi, red) cukup kreative, namun kembali munculnya kemandirian prosentasenya masih kecil, disisi lain tidak ada anggaran dari pemerintah.

Munculnya keinginan beberapa pegiat candi dari warga Muara Jambi untuk intens berdiskusi dengan pemerintah dalam hal ini Disparpora, Indra menjelaskan, bahwa proses koordinasi menunggu dari provinsi yang biasanya menghadirkan lintas sektoral.

“Kita juga sering mendapatkan masukan dari camat pada saat koordinasi terkait kawasan candi”, sambung Indra.

Lebih lanjut Indra mengatakan, Saya akan mencoba kedepan diskusi dengan warga, meskipun pesimis karena karakter warga masyarakat yang selalu menanyakan anggaran.

“Anggaran di Disparpora per September sudah tidak ada, karena terkena rasionalisasi akibat defisit anggaran”, keluh Indra.

Sementara itu, Ahok salah satu aktifis candi yang juga warga lokal menyampaikan, diskusi sangat penting untuk mengurai masalah, dan bagaimana menjadikan candi Muaro Jambi betul betul sebagai icon.

“Banyak persoalan yang perlu diurai, diselesaikan dan itu harus duduk bersama”, ujar Ahok.

Kata Ahok, janji pemerintah yang akan memberikan sertifikasi kepada  warga peneliti candi saja sampai sekarang tidak terealisasi.

“kami warga sangat peduli dan bertanggung jawab atas kawasan candi, karena kami hidup berdampingan”, pungkas Ahok.

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views