_

Fraksi Gerindra Usulkan Pansus TPA Troketon

HNCK8306-730x487

Tidak sesuai dan jauh dari harapan dalam pengelolaan sampah di kabupaten Klaten, Fraksi Gerindra usulkan dibentuknya Pansus (panitia khusus) untuk mendalami proyek pengerjaan Pengelolaan sampah (TPA) Troketon,Pedan Klaten.

Dalam pandangan umum fraksi Gerindra DPRD kabupaten Klaten, selasa (4/7/2017) berbicara cukup keras soal lingkungan, juru bicara fraksi Gerindra Handoyo Sapto Aji menyampaikan  dimana bidang lingkungan menjadi urusan pemerintahan kategori wajib, perlakuan sampah sangat dibawah standar, semua hanya retorika belaka, kondisi TPA yang berada di Candirejo, Ngawen tidak ada pengelolaan air lindi begitu juga di TPA Troketon, padahal Lindi sangat berbahaya, bakteri coli dan bakteri lainnya sangat mencemari lingkungan yang mengakibatkan keanekaragaman hayati  terganggu dan hilang. Begitu juga TPA Troketon perlu mendapat perhatian serius, alat/ mesin yang mahal sudah akan menjadi prasasti karena tidak bisa difungsikan, dan kami mengusulkan untuk dilakukan Pansus terkait TPA Troketon untuk melindungi masyarakat  yang mendapatkan penyesatan informasi.

Dengan demikian Fraksi Gerindra berpendapat, agar eksekutive serius menangani urusan wajib pemerintahan dan memprioritaskannya.

Ditempat terpisah anggota komisi III yang membidangi urusan lingkungan hidup, Muchlis Febby Anggono mengatakan, setelah sidang paripurna  seluruh komisi-komisi memanggil pejabat/SKPD sesuai dengan bidang masing masing, termasuk soal sampah. Dan Kita sudah tekankan agar dalam urusan sampah tidak main-main. Harus di rencanakan dengan benar, agar masalah tahunan ini tidak terulang. “ Jangan sampai alasan darurat, tetapi menimbulkan masalah/dampah yang lebih parah”.

Dampak leacheat / lindi

TPA yang masih menerapkan sistem open dumping,gerakan Lindi sangat cepat,  maka sudah barang tentu akan berdampak negatif terhadap lingkungan baik terhadap sifat fisik-kimia-biologis maupun berdampak pada kesehatan masyarakat khususnya yang bermukim di sekitar TPA. Pengaruh pencemaran lindi terhadap lingkungan disekitar TPA antara lain dapat berpengaruh pada perubahan sifat fisik air, suhu air, rasa, bau dan kekeruhan. Suhu limbah yang berasal dari lindi umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan air yang tidak tercemar lindi. Hal ini dapat mempercepat reaksi kimia dalam air,  mengurangi kelarutan oksigen dalam air, mempercepat pengaruh rasa dan bau.

 

Terkontaminasinya sumber air tanah dangkal oleh zat-zat kimia yang terkandung dalam lindi seperti misalnya nitrit, nitrat, ammonia, kalsium, kalium, magnesium, kesadahan, klorida, sulfat, BOD, COD, pH yang konsentrasinya sangat tinggi akan menyebabkan terganggunya kehidupan makhluk hidup disekitar TPA. Disamping itu pula tercemarnya air bawah permukaan yang diakibatkan oleh lindi berengaruh terhadap kesehatan penduduk terutama bagi penduduk yang bermukim di sekitar TPA. Lindi yang semakin lama semakin banyak volumenya akan merembes masuk ke dalam tanah yang nantinya akan menyebabkan terkontaminasinya air bawah permukaan yang pada akhirnya akan menyebabkan tercemarnya sumur-sumur dangkal yang dimaanfaatkan oleh penduduk sebagai sumber air minum.

Adanya TPA yang tidak jauh dari kali/sungai, harus diwaspadai adanya pencemaran oleh lindi. Sungai tersebut mengalir dan masih dimanfaatkan oleh sebagian penduduk untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Jika sungai ini tercemar oleh adanya rembesan lindi maka akan berdampak negatif bagi penduduk yang yang masih memanfaatkan air sungai tersebut, baik penduduk yang berada di sekitar TPA maupun penduduk yang berada di hilir disepanjang sungai. Adanya rembesan lindi yang telah mencemari lingkungan disekitar TPA berarti melanggar pasal 29 ayat 1 point f Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang pelarangan pembuangan sampah dengan sistem open dumping. Disamping itu juga telah melanggar Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Penanggulangan Air Lindi

Pelapis Dasar (Liner), diperlukan Pada sebuah lahan urug yang baik, yang bersasaran mengurangi mobilitas lindi ke dalam air tanah. Sebuah liner yang efektif akan mencegah migrasi cemaran ke lingkungan, khususnya ke dalam air tanah. Namun pada kenyataannya belum didapat sistem liner yang efektif 100%. Karena timbulan lindi tidak terelakkan, maka di samping sistem liner dibutuhkan sistem pengumpulan lindi. Oleh karenanya, dasar sebuah lahan urug terdapat, Lapisan-lapisan bahan liner untuk mencegah migrasi cemaran ke luar lahan urug. Dan sistem pengumpulan lindi.

Sistem pelapis tersebut dapat berupa bahan alami (seperti: tanah liat, bentonite) maupun sintetis. Penggunaan bahan liner tersebut bisa secara tunggal maupun kombinasi antara keduanya yang dikenal sebagai geokomposit, tergantung fungsi yang dibutuhkan. Formasi lapisan dan jenis bahan liner ini bermacam-macam tergantung pada karakteristik buangan padat yang ditimbun. Untuk jenis sampah kota, Bagchi merekomendasikan cukup mengaplikasikan sistem singled linerdengan jenis bahan liner berupa clay.

Pelapis dasar yang dianjurkan adalah dengan geosintetis atau dikenal sebagai flexible membrane liner (FML). Jenis geosintetis yang biasa digunakan sebagai pelapis dasar adalah, Geotextile sebagai filter, Geonet sebagai sarana drainase, Geomembrane dan geokomposit sebagai lapisan penghalang.

Sistem pengumpul lindi yang umum digunakan menggunakan pipa berlubang yang ditempatkan dalam saluran, kemudian diselubungi batuan. Cara ini paling banyak digunakan pada landfill,Membuat saluran kemudian saluran tersebut diberi pelapis dan di dalamnya disusun batu kali kosong.

Penutup Akhir berfungsi dari sistem penutup akhir meminimasi infiltrasi air hujan ke dalam tumpukan sampah setelah lahan urug selesai dipakai, mengontrol emisi gas dari lahan urug ke lingkungan, mengontrol binatang dan vektor-vektor penyakit yang dapat menyebabkan penyakit pada ekosistem, mengurangi resiko kebakaran, menyediakan permukaan yang cocok untuk berbagai kegunaan setelah lahan urug selesai digunakan, seperti untuk taman rekreasi dan lain-lain

Tanah penutup yang berfungsi sebagai pelindung dan media pendukung tanaman (top soil). Apabila tanah yang terdapat di lokasi tidak memenuhi persyaratan maka diperlukan perbaikan. Perbaikan ini dilakukan dengan cara mencampur atau mengganti tanah tersebut dengan tanah dari lokasi lain. Tebal lapisan top soil ini adalah 60 cm.

Lapisan di bawah top soil berfungsi sebagai sistem drainase. Lapisan ini menyalurkan sebanyak mungkin presipitasi yang masuk sehingga tidak mengalir ke lapisan di bawahnya. Materi yang biasa digunakan berupa materi berpori, seperti: pasir, kerikil, dan bahan sintetis, seperti geonet. Tebal lapisan ini sekitar 30 cm.

Berikutnya adalah lapisan penahan, materi yang biasa digunakan adalah geokomposit (geomembrane dan tanah liat yang dipadatkan). Ketebalan geomembrane yang dianjurkan adalah lebih besar dari 2,5 mm, sedangkan untuk tanah liat adalah lebih besar dari 50 cm.

Di bawah lapisan penahan terdapat lapisan sistem ventilasi gas. Sistem ini mutlak diperlukan untuk sampah kota, karena sebagian besar sampah tersebut merupakan bahan organik yang dapat diuraikan secara biologis. Dalam kondisi aerob, gas yang dihasilkan sebagian besar berupa karbon dioksida dan methan; oleh karena itu pemanfaatan gas bio tersebut dapat dijadikan suatu alternatif sumber energi.

Lapisan sistem ventilasi gas terdiri dari media berpori seperti pasir/kerikil atau berupa sistem perpipaan. Lapisan terbawah dari sistem penutup akhir adalah lapisan subgrade. Lapisan ini dibutuhkan untuk meningkatkan kestabilan permukaan lahan urug. Selain itu lapisan ini membantu pembentukan kemiringan yang diinginkan guna mempercepat drainase lateral dan mengurangi tinggi hidrolis. Ketebalan lapisan ini biasanya 30 cm.

Selain sistem penutup akhir tersebut, untuk mengurangi limpasan air yang masuk ke dalam lahan urug, dilakukan pengaturan kemiringan, juga dilengkapi dengan drainase permukaan dan penanaman tanaman.  

Penulis ihsan abdulah nusantara

Editor ihsan abdulah nusantara
views