_

Hidup Harmoni Dalam Pesan Waisak 2562 BE

Dalam doa umat Budha dalam Tri Suci Waisak mengharapkan semua Mahluk  mendapatkan pencerahan, kebaikan, terbebas dari penderitaan dapat menjalankan harmoni dalam kehidupan.

HNCK8306-730x487
Bendera Harmoni simbol kebhinekaan dan kerukunan

JAMBI - Situs purbakala komplek percandian Muara jambi menjadi tempat yang istimewa bagi umat budha se Sumatera, pasalnya pada perayaan tri suci waisak 2562 BE/ 2018 ini dilaksanakan di candi terluas se Asia Tenggara, dengan luas hingga 3981 hektar.  Sengeti, 30/5/2018.
Umat budha memiliki kenangan tersendiri terhadap candi yang terletak sekitar 26 KM arah timur kota Jambi  yang berada ditepian sungai Batanghari. Mereka memiliki kenangan kejayaan budha dimasa kerajaan Sriwijaya, hal ini terpampang jelas buktinya berupa bangunan candi -candi bercorakkan Buddhisme dengan kesembilan candi yang ada diantaranya candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi Telago Rajo, Kembar Batu dan Candi Astano.
Umat Budha terlihat berdatangan sejak pagi ghari dikomplek candi dari berbagai vihara, mereka tidak kesulitan untuk memarkir kendaraanya karena sangat luas lokasi parkir yang disediakan oleh pengelola.
Bahkan salah satu umat budha dari aliran Tantrayana mengisahkan, kepercayaan terhadap proses reinkarnasi sangat kuat, "tahun 1013 maha guru kita (Mr Loe) pernah datang kesini, hal ini beliau sampaikan saat datang kesini di 2013 yang lalu, inilah proses reinkarnasi Budha yang selalu datang untuk mengajak kebajikan", cetusnya.
Memasuki gerbang utama, proses pemeriksaan dilakukan oleh petugas keamanan maupun internal panitia dengan memberikan stiker kepada motor dan mobil yang akan parkir di dekat pelataran candi yang dipakai untuk acara. Bagi kendaraan yang tidak memakai stiker khusus akan diminta untuk dikeluarkan atau pihak panitia mencatat nomor mobil atau motor, kecuali kendaraan yang berplat merah atau milik TNI Polri.
Meskipun jalan cukup Jauh, namun para tamu tidak perlu risau, pasalnya diarea tersebut disediakan Bentor (becak motor) yang siap mengantar sampai dekat pelataran hanya dengan 10.000,- rupiah, namun jika ingin berkeliling bisa kena cash hingga 50.000,- rupiah termasuk jasa pemandu (sopir bentor) yang sudah dibekali memiliki kemampuan tentang candi Muara Jambi. Atau jika ingin sambil berolahraga bisa memakai jasa penyewaan sepeda angin yang berjejer cukup banyak disebanjang jalan masuk komplek, penyewaan sepuasnya tidak dibatasi waktu.
Hingga memasuki acara upacaya perayaan Tri Suci Waisak, umat budha menempati lokasi tenda yang telah disediakan bagi masing masing vihara.
Diawali dengan mandi Rupang sekaligus doa pembukaan yang dipimpin oleh Bhiksu Nyanamaitri  yang dikuti puja bakti vihara-vihara yang ada, puja bakti tantrayana Chen Fo Zhong  yang dipimpin Pandita Surya berikut Soka Gakkai dan Vajrayana oleh HE Ngapa Tshering Dhendup Rinpoche.
Dalam kesempatan tersebut, bupati Muaro Jambi, Masnah Busro dalam sambutannya mengajak saling menghormati, rukun dan harmonis sesuai penanaman ajaran budha untuk berbudi luhur serta menanamkan empat pilar kebangsaan.
"kepada pemuka agama Budha,  mampu memerankan diri mengajak untuk menjaga suasana tentram dan membangun bangsa bersama-sama".
Begitu juga yang disampaikan Plt Gubernur Jambi Fachrori Umar yang juga hadir, semoga waisak dapat membawa  ketentraman dan kedamaian bagi umat manusia, waisak ini sebagai momentum merenungkan ajaran Budha, masyarakat budha Jambi yang mengedepankan dalam kehidupannya penuh kedamaian.
"waisak kali ini, budha menganjurkan kebijaksanaan dan menjaga pikiran dan menabur kasih sayang hidup harmonis dan bersinergi membangun bangsa dan negara", pungkasnya.
Sementara itu Dirjend Binmas Budha tidak bisa hadir yang diwakili sekretaris  menyampaikan, waisak 2562 BE sebagai momentum penting mengenang kelahiran manusia agung Sidharta  dan mengingatkan mangkatnya juga. waisak refleksi dan pengimplementasi dharma.
"Mari kita  tingkatkan harmoni dalam kehidupan memperkokoh kehidupan bangsa Indonesia".
Begitu juga pesan waisak yang disampaikan Bhiksu Tanawaro, dihadapan beberapa budhis yang hadir dari Thailand, Buton, dan negera budhis lainnya serta umat Budha menyampaikan, Waisak bukan hanya dilaksanakan pada (29/5) saja tetapi sudah sejak awal bulan, seperti di Bangkok awal Mei Waisak dihadiri 3000 delegasi dunia.
Kata Tanawaro, Waisak memperingati tiga peristiwa penting, kelahiran Sidharta dari  ratu Dewi Mahamaya dikehiningan taman pada purnama, Sidharta  menjadi Budha pada bulan purnama dan dibulan purnama pula Sidharta Gautama mangkat diusia 80 tahun.
Bhinneka Tunggal Ika adalah ajaran Budha dari mpu Tantular yang mengajarkan toleransi dan menjaga keharmonisan, bagaimana melihat secara obyektif kebhinnekaan di Indonesia, sambungnya.

Baca Juga: http://waktoe.com/post/waisak-se-sumatera-dipusatkan-di-candi-muaro-jambi

Baca Juga:http://waktoe.com/post/demi-keamanan-perayaan-waisak-candi-muara-jambi-dijaga-ketat

Baca Juga:http://waktoe.com/post/9-bante-pembawa-api-abadi

Ritual Keliling Candi Dimalam Hari 

Malam waisak dicandi Muarao Jambi menjadi hari yang penting bagi umat Budha karena ini tempat yang sangat istimewa bagi kita semua, penggalang sedharma yang disampaikan Bhiksu Tanawaro.
"Ini bukti pencapaian Swarna Dwipa dijaman Sriwijaya".
Kata Tanawaro, Sidaharta diumur 29 tahun meninggalkan kemewahan hidup dikerajaan,  bertapa di hutan Uruwela bertahun tahun dan merealisasikan kehidupan ke Budhaan. Harmoni dibutuhkan perjuangan  dan harmoni muncul apabila di dalam diri masing-masing keharmonian itu ada.
Berbagai ritual dilaksanakan dimalam hari, Mulai meditasi hingga berkeliling candi yang dilakukan oleh Sangha sambil membawa bunga, yang mengikuti pasukan bendera sebagai simbol kebhinnekaan dan kerukunan.
Pemberkatan air oleh Bhiksu kepada para umat Budha dilangsungkan sebelum pelepasan lampion sebagai simbol doa dan pengharapan.
Pelepasan ribuan lampion pun semarak dan kegembiraan para umat Budha merebak dikeheningan malam selepas meditasi. bahkan masyarakat umum pun ikut bergembira dan berfoto bersama ditengah-tengah lampion yang berterbangan.

Penulis Ihsan Abdulah Nusantara

Editor Abdulah Ihsan
views