_

Kekerasan Seks Terhadap Anak, Nyimas Evi Azizah; Ini Menjadi Penyakit Baru Bagi Anak

Banyaknya Kekerasan terhadap Perempuan Dan Anak, dipicu kondisi Lingkungan dan Medsos

HNCK8306-730x487
Kekerasan terhadap anak

JAMBI – Perilaku menyimpang anak-anak dibawah umur sudah sangat memprihatinkan. Lingkungan dan Keluarga menjadi faktor utama bagaimana mendampingi dan mengawasi perkembangan anak.
Kasus kekerasan seks terhadap anak akan sulit hilang dari mereka, seperti yang terjadi terhadap sodomi siswa SDLB beberapa waktu yang lalu, si anak masih sering mengejek gesekan alat kelaminnya saat mandi bersama, bahkan pernah diketahui oleh orangtuanya memasukan batang ke dubur kucing, demikian Evi memulai ceritanya.
Seperti juga yang terjadi di Sengeti baru baru ini, sekitar pertengahan Agustus 2018,Bunga (nama yang disamarkan, red), siswa Kelas 1 MTSn/SMP yang janjian diajak teman sekelasnya untuk main setelah   magrib kala itu, harus berujung diperkosa anak SMP/MTs.
Saat itu setelah janjian dengan temannya diajak main di komplek perumahan Kejaksaan Negeri Sengeti yang tidak jauh dari rumahnya. Bunga dijemput dari rumahnya kemudian diajak di komplek perumahan Kejari, sampai dilokasi disuruh menunggu karena teman lakinya ini (sebut saja kumbang. Red), akan menjemput teman yang lainnya.
“Kamu tunggu disini dulu ya,  aku jemput teman yang lain”, jelas Ortu bunga menirukan Kumbang, dari menyitir laporan bunga.
Akhirnya si Kumbang datang dengan 4 orang temannya namun Bunga tidak mengenalinya. 
Melihat gelagat yang ada teman Kumbang sebut saja Serangga melakukan perbuatan yang akan memperkosa Bunga.
Melihat itu, Kumbang dan 3 temannya yang lain malah pergi lari meninggalkan Bunga yang diperkosa Serangga .
Bunga setelah diperkosa Serangga pulang kerumahnya dan menceritakan kejadian tersebut kepada orangtuanya. Dan, akhirnya ibu Bunga bersama bunga melaporkan kejadian tersebut ke pihak P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) kabupaten Muaro Jambi yang selanjutnya berkoordinasi dengan pihak Polresta Muaro Jambi untuk diproses secara hukum.
Seperti yang disampaikan Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Sosial Kabupaten Muaro Jambi Nyimas Evi Azizah kepada Kantor Berita Waktoe (7/9/2018), dalam kasus perkosaan dibawah umur ini pelakunya juga dibawah umur, sama sama masih anak SMP.
Saat disinggung adanya gangguan psikologis, Evi menjelaskan belum ada pemeriksaan psikolog, kalau nanti dibutuhkan kepolisian baru akan diterjunkan psikolog, meskipun  sudah diproses hukum.
“Saat itu dianak melakukan perlawanan namun tidak berdaya karena teman yang lain (4 orang, red) malah meninggalkan dia sendirian”, ungkap Evi.
Evi menjelaskan berbagai kasus tentang kejahatan seks yang melibatkan anak dan perempuan di tahun 2018 cenderung meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2017. 
Dari data yang kita miliki untuk periode 2017 – 2018 ini sudah mencapai 36 Kasus, mulai dari KDRT, dan kekerasan seksual anak dan perempuan.
“dari kasus tersebut didominasi diwilayahnya Sekernan dan Kumpeh”, sambung Evi.
Kata Evi, penyebabnya terjadinya kekerasan seks dan KDRT, dari hasil analisa dari pihak P2A adalah faktor lingkungan dan Media Sosial. Jarak lingkungan yang jauh sangat sulit untuk memonitor anak dan perempuan.
Berbagai cara terus kita lakukan dengan berkampanye di desa desa bekerja sama dengan pihak Pemdes, PKK dan lainnya.
“Ini yang menariknya kejadian yang banyak di Kumpeh, kampung halaman Bupati Masnah Busro”, cetus Evi.
Perda no 4/2017 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak, belum bisa maksimal dilaksanakan karena berbagai keterbatasan, disamping anggaran yang terbatas juga tidak adanya tenaga psikolog.
“Kita siapkan Kabupaten layak anak, hingga desa layak anak sebagai motivator”, jelas Evi.
Motivasi utamanya adalah agar kekerasan seks menurun, kita juga bekerja sama dengan seluruh guru BK di sekolah agar bisa mengeliminir kekerasan terhadap anak di sekolah.
Program pendidikan seks usia dini disekolah juga sudah kita lakukan bersama guru BK, semua yang kita lakukan agar kekerasan terhadap perempuan dan anak turun, pungkas Evi.

 

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views