_

Kolaborasi Tokoh Maknai Peringatan Amanat 5 September 1945

HNCK8306-730x487

Waktoe.com - YOGYAKARTA, Memaknai peristiwa bersejarah Amanat 5 September 1945 sejumlah tokoh berkolaborasi dalam "Gelar Seni Revitalisasi Visi Kebangsaan Amanat 5 September 1945" yang bakal dilaksanakan pada hari Selasa 5 September 2017 pukul 19.00 WIB bertempat di Pendapa Gamelan, Jalan Gamelan Kidul No 1 Panembahan Yogyakarta. Pendapa ini merupakan bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah. Pada masa revolusi kemerdekaan tahun 1945 - 1949 tempat ini dulu bernama warung sate "Puas" yang menjadi markas atau tempat berkumpul para pejuang gerilya.

"Tokoh yang tampil antara lain GKR. Mangkubumi, Prof. Mahfud MD, Komandan Korem 072/Pamungkas Brigjend TNI Fajar Setiawan, budayawan Mustofa W. Hasyim, Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro, Pesinden Sunyahni, Akademisi Fajar Sujarwo, pekerja seni Whani Darmawan, KRMT. Indro Kimpling Suseno, penyair Sigit Sugito, Ketua GP Ansor DIY Mohammad Saeffudin Al Ghozali, intelektual muda Muhammadiyah Subkhi Ridho, jurnalis Khocil Birawa, pengusaha Robby Kusumaharta, Mantan rektor UGM Prof. Dwikorita juga akan berpartisipasi, serta masih banyak lainnya, bahkan Pelukis Nasirun akan melukis on the spot di acara tersebut," ungkap Panitia Acara Widihasto Wasana Putra, Senin (04/09).

Ditambahkan Hasto, para tokoh ini nantinya akan berkolaborasi dalam gelaran seni musik keroncong, pembacaan puisi, geguritan, melukis serta orasi kebangsaan. "Amanat 5 September 1945 adalah peristiwa ketika Sri Sultan HB IX dan Sri Paduka Pakualam VIII bersama-sama mengeluarkan amanat yang menyatakan Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman menjadi bagian dari Republik Indonesia," jelasnya.

Bergabungnya dua entitas kerajaan yang jauh sebelumnya telah memiliki kedaulatan politik dan keberadaannya diakui dunia internasional berdampak sangat penting bagi keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru saja diproklamirkan. "Atas dasar amanat itu Presiden Sukarno mengeluarkan Piagam Kedudukan yang berisikan pengakuan Negara atas hak privelege atau status keistimewaan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta," katanya.

Visi kebangsaan Sultan dan Pakualam yang mendukung eksistensi republik penting direvitalisasi kembali secara berkelanjutan dalam rangka merawat ke-Indonesia-an kita berdasarkan Pancasila, UUD 1945, spirit Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI. Mengingat diusia 72 tahun republik, disadari bangsa kita masih punya banyak pekerjaan rumah yakni memperkokoh sendi-sendi kebangsaan kita, melawan radikalisme,  mengatasi kemiskinan, menjaga kelestarian lingkungan dan lain sebagainya. "Kami mengundang masyarakat luas dan kalangan media massa untuk menyaksikan gelaran ini. Disediakan hidangan kuliner khas nuansa ke-Jogja-an seperti angkringan, bakmi jawa, sate kambing dan wedang ronde," pungkasnya.

Penulis IBRAHIM UMAR

Editor IBRAHIM OEMAR
views