_

Langka Gas LPG 3 Kg, Marthadinata; Kita Bersama Agen Terjun Kelapangan Minutoring

HNCK8306-730x487
Warga mencari gas LPG 3 Kg. Foto/ilustrasi

JAMBI - Langkanya gas LPG 3 kg yang dirasakan masyarakat akhir akhir ini, ditanggapi Pemkab dengan melakukan tindakan monitoring dilapangan. Sengeti, 8 Nopember.
Bersama Disperindagkop, Hiswana Migas dan Empat Agen terjun dilapangan memantau keberadaan gas LPG di Pangakalan pangkalan.
Hal ini disampaikan kabag perekonomian Setda Muaro Jambi Marthadinata kepada kantor berita Waktoe (8/11).
Marthadinata menjelaskan kouta gas LPG kedepan kita akan atur seperti dikota Jambi dengan memakai kartu kendali.
Namun, yang berhak menerima LPG 3 Kg ini kan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan datanya ada di dinas Sosial. Jadi kita akan koordinasi dengan Dinsos dulu.
Lebih lanjut Marthadinata menyampaikan, dikabupaten Muaro Jambi ada 4 Agen dan sekitar 125 pangkalan. Ada beberapa desa yang masih kekurangan pangkalan namun kewenangan ijin ada di Agen, kami hanya berfungsi mendata, memonitor dan melaporkan.
Lanjut Martha, menanggapi keluhan harga dipasaran menjelaskan Harga Eceran Tertinggi (HET) di Pangakalan maksimal 18.000,- rupiah. Dan, jika mereka menjual lebih maka domainnya antara pangkalan dan agen.
Kalau harga eceran di tingkat toko pengecer tidak kita atur.
Saat disinggung jumlah gas LPG yang disalurkan, Marthadinata mengatakan, Berapa yang disalurkan kita tidak megang datanya, yang tahu agen.
"Kita memgacu pada SKB 3 Menteri, dimana pengawasan gas LPG, dilakukan dengan pengawasan tertutup.
"Kita cuma melihat mendata dan melaporkan, tidak punya kewenangan eksekusi", jelas Martha
Contohnya, jika kita mendapati pangkalan melebihi harga HET, kita tarik dan kita kembalikan ke Agen karena mereka yang memiliki kewenangan perijinan terhadap pangkalan tersebut.
Hasil pantauan dilapangan, harga eceran gas LPG 3 kg berkisar dari 27.000,- hingga 30.000,- rupiah.
Aziz salah satu warga menyampaikan pernah membeli gas seharga 30.000,- karena adanya hanya itu.
"Mau gimana lagi, kita butuh ya kita beli", terangnya.
Sementara warga yang tidak mau disebut namanya yang juga mengecer gas mengatakan harga dari pangkalan sudah 22.000,- ribu, makanya dia berani menjual 27.000,- rupiah.
"Harga dari pangkalan 22.000 kita jual 27.000,-, rupiah, ya kepotong biaya transport jadi kita untung juga gak banyak", terangnya.
Fungsi kontrol pun dirasa sangat lemah terhadap peredaran gas LPG ini, meski disisi lain masyarakat selalu membeli dengan harga berapapun yang penting Gas ada.

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH. IHSAN
views