_

M Fadhil Arief Ikut Teken MoU Peremajaan Sawit PT Brahma dan KUD Akso Dano

Setelah 25 tahu dilakukan MoU ulang antara PT Brahma dan KUD Akso Dano untuk peremajaan Sawit

HNCK8306-730x487
Sekda M Fadhil Arief

JAMBI – Pemerintah Muaro Jambi dalam hal ini diwakili Sekda M Fadhil Arief ikut menandatangani MoU antara PT Brahma dan KUD Akso Dano dalam hal penandatanganan peremajaan sawit (Replanting).
Penandatanganan program peremajaan sawit rakyat antara PT Brahma Bina Bakti dengan KUD Akso Dano (27/9) di kantor bupati Muaro Jambi dipimpin langsung Sekda M Fadhil Arief. 
Ketua KUD, Amrulloh mengatakan perlu menyebut Batanghari, karena dulu masih pemerintah Batanghari dan dasar MoU juga memakai perda kabupaten Batanghari dan Muaro Jambi karena ini kelanjutan dari penandatangan sebelumnya.
Disejarahkan Amrulloh sebagai ketua KUD Akso Dano, di tahun 1978 di Sengeti diamanatkan berdiri Badan Usaha Unit Desa (BUUD) maka berdirilah KUD Akso Dano (pemikiran yang luas seperti danau, arti, red), dan dalam perjalanan tertatih dulu dari petani  karet.
Kata Amrulloh, Yang hutannya sampai sekarang masih tercatat sejak 1978 masih ada. Bersyukur kehadiran PT Brahma Petaninya hidup pengurusnya numpang hidup. 
Di tahun 1995 ada program PT Brahma membuka kebun inti, maka Pemda Batanghari akhirnya dibuka kebun plasma dan dari Brahma juga  bersedia. Berlanjut ke MoU ditandatangani di kantor camat, dengan lahan 4300 ha, dari lahan yang disiapkan 6000 ha,  dan mulai tanam ditahun 1996, 1997, dan 1998. 
Berdasarkan Perda no 21/99 terkait Plasma ini perda Batanghari yang dipakai. Sejak itu KUD mulai hidup dan   banyak yang bertahan, dan akhirnya 5 tahun mulai kredit KKPA 34 Milyar dengan target 5 tahun yang disediakan dari BNI akhirnya 2008, baru lunas.
Di tahun 2006  itulah petani baru mendapatkan hasil, kemudian dilanjutkan agreement kedua dan dapat kredit 55 Milyard dari BRI.
Lanjut Amrulloh, Sekarang tersedia lahan 6000 ha  dan mampu produksi 10 ton perbulan.
Amrulloh berharap  Harga dapat diperjuangkan sekarang 1450, dan jangan sampai harga dibawah 1500, agar per bulan per 2 ha penghasilan minimal petani diatas 1,5 juta hingga 5 jt, tapi yang banyak kapling tanahnya juga ada yang mencapai 100 jt.
Keluhan dari pihak KUD PU, dalam teknis penanaman biasanya pihak perusahaan menanam dulu baru pinjam bank, jangan  pinjam bank dulu baru tanam karena  akan lama.
“PT Brahma melakukan kegiatan dulu (memberikan dana talangan) baru mencari duit”, ujar Amrulloh.
Akhirnya diakhir tahun ini, hasilnya sudah menurun dan sudah saatnya di replanting (peremajaan).
“Dalam MoU tersebut Perjanjian sudah pas 60:40 bagi hasil produksi, kita akan lakukan penanaman setelah penandatangan selesai”, imbuhnya.
Tandan Buah Sawit (TBS) bisa dibeli Brahma dan dari petani swadaya/ diluar juga bisa diterima dan bisa rekruitment dari non plasma, pinta Amrulloh mengakhiri sambutannya.
Management PT Brahma George Utomo, terkesima terhadap Amrulloh karena angka angkanya Sanga hafal. 
Kata G Utomo, Kita Apresiasi kebijakan pusat atas peremajaan sawit, replanting sawit berjalan baik.
Peran sawit  sebagai komoditas  eksport dan penyedia lapangan pekerjaan. 
Lanjut G Utomo, Eksport sawit Indonesia adalah terbesar di dunia. Agar sawit berkualitas kuncinya dengan program peremajaan hal inipun demi kesejahteraan petani. Dalam penanaman ulang harus dengan bibit unggul dengan begitu hasilnya berkualitas secara berkelanjutan.
“ Ini Kegiatan replanting pertama kali, dan target produksi dari 3 ton jadi 9 ton”, janji G Utomo.
Dari cerita, kami mengharapkan plasma harus lebih baik. Sejak 2013, keterbukaan informasi. Berapa yang dikeluarkan, berapa penghasilan dan berapa yang inti keluarga kita buka, agar tidak ada yg ribut, apalagi di masa pembangunan.
“Biaya kok besar kemana saja ya”, ujarnya.
Jadi ditekankan agar ada keterbukaan dan MoU  tercakup semua tidak ada masalah dibelakang.
Kalau bisa plasma jangan selalu melakukan hal demikian meskipun berbuah sudah dijual. Bagaimana mereka makmur, Yakin ini akan jadi topang keluarga. 
BPBD, sangat baik tidak perlu khawatir BPBD sebagai mitra terbuka dan tidak perlu takut kalau ada pemeriksaan. Sistim basisnya kuat. Kalau boleh tidak terus dari perusahaan tetapi dari pihak bpdp.
Berharap jangan ada demo jika ada masalah. 
Sekda M Fadhil Arief mewakili Bupati Masnah Busyro menyampaikan, intinya pak dibantu terus cetusnya ke Josh Utomo. Sebulan lagi pihak di rumah dinas di Sengeti.
Yang ditanamkan adalah orang yg menjaga silaturahmi dan MoU wujud silaturahmi yang baik. KUD dg PT, dg pemerintah, dg mitra bang.
Disitu kita tangkap, pengetahuan sawit masih kurang maka perlu hadir perusahaan. Orang Jambi tak biasa menabung tetapi belanja baik.
Tanda tanda meningkatnya kesejahteraan, seperti di katakan Amrulloh.
MoU seperti laki bini, sepanjang hak dan kewajiban transparant dan menjalankan kewajiban maka tidak ada cideranya.
Kita tak bisa menghakimi dan sekarang tahu Brahma elok (baik).
Ada petani plasma, bibit tidak tahu, perusahaan agak takut dan difasilitasi meskipun perlakuannya berbeda. Maka ada divisi berbeda. 
Negara bersaing, main gertak, minyak bunga matahari sebagai pesaingnya dan ini dimainkan. Maka pemerintah turun tangan.
Pemerintah berusaha mendorong petani. MoU sama sama tidak dirugikan dan setelah ditandatangi silahkan berkomitmen tetap dan dipatuhi bersama. 
Kalau ada yang jual kebun, tolong dihalangi halangi, karena kalau miskin jadi beban kita. 
Pemerintah akan berlaku adil, jika perusahaan yang salah aku akan berpihak ke petani .
Lebih lanjut saat ditanyakan landasan MoU yang masih memakai perda Kabupaten Batanghari, M Fadhil Arief menjelaskan, akan mengecek terlebih dahulu, apakah masih membutuhkan perda, jika masih maka akan segera diusulkan dalam Prolegda akan tahun 2019 perda bisa diterbitkan.
“Akan kita cek, dan segera buat perda jika masih dibutuhkan”, pungkas Sekda.

 

 

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views