_

Minyak Subsidi Hanya Impian Bagi Nelayan Nipah

Pemerintah tak pernah berikan minyak subsidi terhadap Nelayan Nipah Panjang

HNCK8306-730x487

JAMBI - Bahan bakar minyak untuk kebutuhan para Nelayan di kecamatan Nipah Panjang yang bersubsidi tak bisa terpenuhi. Pemerintah lalai  atas kewajibannya untuk memberikan subsidi terhadap para  Nelayan di Kecamatan Nipah Panjang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Sabak, 24/7/2018.

Para Nelayan ini dibiarkan untuk mencari bahan bakar sendiri, sebagian bahkan ada yang menggunakan jasa pengantar agar mendapatkan subsidi, sebagian membeli dari para pengantar minyak yang memakai sepeda motor, keduanya sudah sama sama mahal karena ada tambahan biaya transport.

Nelayan masih mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM)  bersubsidi jenis solar untuk digunakan melaut. Padahal BBM jenis ini sangat dibutuhkan nelayan yang ada di Kecamatan Nipah Panjang.

Para penjual BBM menggunakan sepeda Motor yang mengambil dari SPBU Muara Sabak, yang tentunya perlu biaya tambahan dan faktor resiko perjalanan yang sangat tinggi karena kondisi jalan yang rusak.

Udin Kadas, satu diantara tokeh nelayan di Nipah Panjang menyebutkan, kebutuhan BBM subsidi untuk nelayan di wilayah Kabupaten Tanjabtim menurutnya saat ini semakin sulit untuk terpenuhi. 

"Kami sebagai nelayan sangat sulit, jadi saat ini kami hanya mengandalkan BBM yang dijual menggunakan  gandengan sepeda motor ngambil dari SPBU di Sabak, tapi kan nelayan tidak terima nelayan subsidi lagi, karena ada tambahan biaya," kata Udin, pada senin (23/7).

Menurutnya sulitnya mendapatkan solar subsidi ini, salah satunya disebabkan oleh tidak berfungsinya Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN) di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Nipah Panjang, serta berhentinya beroperasi Agen Premium Minyak Solar (APMS) di Kecamatan Nipah Panjang sejak satu tahun terakhir.

"Kalau di APMS ini sebenarnya memang lebih murah karena memang Subsidi. Tapi gak tahu juga sejak satu tahun terakhir ini tidak beroperasi lagi. Kalau SPBN memang tidak pernah beroperasi sama sekali," ujarnya.

Dilanjutkan Udin, keluhan nelayan ini sudah sering disampaikan kepada pemerintah namun belum ada respon sama sekali. "Katanya sih mau digedor ke Pertamina namun belum ada sampai sekarang," ujar Udin Kadas.

Sementara itu, Pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Tanjung Jabung Timur, menjelaskan kesulitan memasok BBM bersubsidi di Kecamatan Nipah Panjang terkendala karena tidak adanya Stasiun Bahan Bakar/Bunker (SPBB) yang aktif. 

Kepala Dinas Kelautan Tanjabtim, Ibnu Hayat saat dikonfirmasi  menyebutkan SPBB yang dulu ada kini tidak beroperasi lagi. "Perusahaannya bangkrut, tidak ada yang menggantikan," kata Ibnu Hayat.

Dijelaskan Ibnu Hayat, saat ini tempat pemasokan bahan BBM bersubsidi untuk nelayan yang aktif hanya di Solar Pack Dealer Nelayan (SPDN) desa Teluk Majelis Kecamatan Kuala Jambi. Para nelayan baik dari Nipah Panjang maupun dari wilayah lain bisa mengambil BBM di SPDN tersebut, melalui pengajuan kelompok nelayan. 

"Nelayan bisa ngambil di SPDN teluk Majelis sini, kage saya buat surat pengantarnya. Sangat Boleh, tapi harganya naik karena ada uang transport," kata Ibnu Hayat, pada senin (23/7).

Menurut Hayat, setiap hari sebanyak 5000 liter BBM bersubsidi untuk nelayan dipasok di SPDN tersebut sepanjang ada transaksi, namun ia menilai ini belum mencukupi untuk kebutuhan semua nelayan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. 

Selain itu, dikatakan Hayat, para nelayan di Nipah Panjang juga bisa mengambil BBM pada mobil yang bekerjasama dengan SPBU pengangkut  minyak dari SPBU ke Nipah, meskipun ada tambahan biaya.

"Kalau solar sebenarnya subsidi. Tapi yang bisa disubsidi pemerintah itu apabila ada tempat, tapi kalau tidak ada tempat kaya mana," pungkas Hayat.

Belum diketahui, Delivery Order (DO) yang dikeluarkan untuk para nelayan berada ditangan siapa, atau memang DO ditiadakan karena ketiadaan Bungker.

 

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views