_

Myanmar, Belajarlah dari Indonesia...

HNCK8306-730x487

Waktoe.com-JAKARTA, Upaya Menlu RI Retno LP Marsudi untuk berdiplomasi dan keproaktifan dalam mencari solusi bagi krisis yang menimpa Etnis Rohingya perlu kita apresiasi dan dukung, demikian disampaikan oleh Sukamta Anggota Komisi I DPR RI. 

Menurut Sukamta untuk target jangka pendek, harus segera diupayakan penghentian tindak kekerasan terhadap Etnis Rohingya serta ada jaminan keamanan bagi mereka. Hal ini penting dilakukan agar tidak ada lagi korban jiwa berjatuhan. Selain itu kepada negara-negara sekitar yang kedatangan pengungsi Rohingya, kita berharap agar menerima dan memperlakukannya secara baik. 

"Upaya penghentian kekerasan ini perlu ada target waktu, dan apabila pemerintah Myanmar tidak bisa mencapai batas waktu yang ditentukan, perlu ada evaluasi segera," jelas Direktur Crisis Center For Rohingya DPP PKS ini.

Oleh sebab itu menurut Sukamta upaya Indonesia tidak boleh berhenti dengan menjadi solidarity maker, tetapi harus berkembang menjadi "broker" perdamaian.  'Broker' yang dimaksud Sukamta adalah dengan menjadi mediator solusi yang sistematis dengan melibatkan komunitas internasional.

"Persoalan Rohingya ini telah berlangsung puluhan tahun. PBB menyebut Rohingya sebagai etnis yang paling mendapat perlakuan buruk di dunia. Kami sangat berharap Indonesia bisa mengajak dunia internasional untuk secara serius bisa mendorong Pemerintah Myanmar memberi pengakuan kewarganegaraan bagi Etnis Rohingya dan menjamin hak-haknya. Ini untuk memastikan tragedi serupa tidak lagi terulang", jelas Sukamta.

Menurut Sukamta yang juga Sekretaris Fraksi PKS, Indonesia saat ini memiliki posisi yang cukup didengar oleh Myanmar, hal ini didukung kedekatan kedua negara terlah berlangsung sejak lama. Oleh sebab itu untuk agenda jangka panjang, Indonesia bisa turut mendorong demokratisasi di Myanmar. 

"Indonesia punya pengalaman demokratisasi yang cukup berhasil. Indonesia juga memiliki pengalaman berharga dalam mengelola keragaman etnis dan agama. Konflik berbau SARA yang pernah terjadi di Ambon, Maluku Utara dan Poso bisa diselesaikan dengan dialog antar pemuka agama. Pengalaman-pengalaman ini bisa ditularkan ke Myanmar," jelas Sukamta.

Penulis CH DEWI RATIH KPS

Editor IBRAHIM OEMAR
views