_

Pariwisata Klaten Kena Sentil Fraksi Gerindra

HNCK8306-730x487

Klaten seperti Lembah Beliem (lembah kesuburan), berada Di kaki Gunung Merapi yang memberikan kesuburan, keberadaan sumber mata air yang melimbah dengan kandungan mineral nya.

Salah satu yang menjadi sorotan tajam fraksi Gerindra dibidang Pariwisata. Klaten yang scara geografis diapit perbukitan gunung kidul, Sleman dan Boyolali, ibarat lembah beliem.

Hal ini disampaikan dalam pendangan umum penetapan Rencana Peraturan Daerah tentang Pariwisata  menjadi Peraturan Daerah  dalam sidang  paripurna DPRD kabupaten Klaten bulan Juni yang lalu.

Disampaikan fraksi Gerindra, yang dibacakan Ari Kuswanto, menjelaskan kesuburan tanahnya karena memiliki sumber mata air yang melimpah, pemandangan perbukitan yang indah, memberi bahan dasar yang cukup untuk membangun destinasi wisata yang layak jual, dan sebutan Klaten Kirana Bhumi Kewu sangat layak disematkan.

Keberadan ragam budaya dan seni serta sumber daya berupa seniman yang tersebar di kampung-kampung di daerah Klaten dapat di kelola dan dijadikan mitra dalam mempromosikan destinasi destinasi wisata.

Pengenalan masyarakat lokal dapat dimulai dari sektor pendidikan. Para siswa TK, SD dan SMP tidak perlu di bawa jauh jauh keluar kota atau bahkan sampai ke luar pulau, namun di ajak untuk mempelajari, mengamati dan menceritakan potensi wisata lokal, inilah sebetulnya hakekat study tour.

Nah, keberhasilan mengangkat destinasi dan pengenalan dari pintu pendidikan, tidak terlepas dari koordinasi antar stakeholder, disini peran bupati sangat strategis. Jika dihitung dengan jumlah siswa dari SD sampai SMP sudah berapa ratus ribu yang membelanjakan uangnya di lokal Klaten. Nantinya Gerakan ekonomi yang lain pasti akan ikut, seperti transportasi, kuliner, parkir, hotel, dan merchandise dan lainnya.

Gerindra menilai, penanganan pariwisata kelihatannya memang tidak serius untuk mengerjakan  pariwisata dan top leader / pejabat eksekutive pun hanya simbolik, dan mondar mandir saja tidak jelas planning nya.

Begitu juga perlu perombakan dan penempatan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, jangan hanya menaruh orang sesuai pangkat dan golongan tetapi memiliki skill yang linier dengan bidangnya.

“Ini lho sejak dulu yang menyebabkan Klaten tidak maju-maju, dan kondisi ini ada di setiap kantor atau kedinasan”. Bahkan kita sering mendengar, antar kepala dinas sulit melakukan koordinasi, cenderung saling menjatuhkan.
 

Destinasi Muncul Dari Masyarakat

Banyaknya destinasi wisata di kabupaten Klaten muncul dan berkembang bukan atas support dari pemerintah dalam hal ini kedinasan yang menaungi, namun mereka muncul atas kemandirian, kemauan bersama warga masyarakat meski dengan keterbatasan yang dimiliki.

Seperti Talang River (Kali Talang) di desa Balerante kecamatan Manisrenggo, Bukit Cinta di perbukitan Bayat, Ponggok dengan snorkelingnya dikecamatan Polanharjo, Pesawat di Bandara Adi Sumitro dikawasan pemancingan Janti kecamatan Polanharjo, dan masih banyak destinasi wisata yang dibangun masyarakat lokal, namun seakan kemudian di stempel milik pemerintah kabupaten.

River Borading, tidak jauh dari obyek wisata Air  Cokro, dengan arus air kadang pelan kadang Jeram, denmgan jarak tempuh hingga 10 Km melewati beberapa desa.

Masih banyak obyek wisata lainnya yang ada dan bergerak atas daya dan upaya masyarakat lokal, tidak ada sama sekali campur tangan dari pemerintah  kabupaten.

Umbul Ponggok,  menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di kabupaten Klaten, setiap hari pengunjung sangat banyak dan inovasi terus dikembangkan untuk mampu bertahan  dan memberikan pelayanan prima terhadap pengunjung. Geliat ekonomi masyarakatpun menjadi terbantu, rumah makan, souvenir, parkir, dan jenis jasa lainnya.

Hal serupa disampaikan Jainu, salah satu perangkat desa Balerante, Kami tidak hanya sekedar membangun destinasi wisata “Kalitalang”, namun ada konsep besar yang kami gagas, dan butuh dukungan dari banyak pihak. Konsep yang kami  tuju adalah pemgembangan wisata berbasis mitigasi, konservasin dan pengembangan ekonomi lokal. Dengan adanya sahabat Balerante, kami banyak terbantu, mereka mereka yang iklas membantu kami.

Jainu, dialah pelopor yang mengemas Kali Talang (Talang River) menjadi kawasan destinasi wisata yang menarik, sebelumnya pengunjung hanya melirik Deles Indah, namun rusaknya Deles ada penggantinya.

Jack Donal salah satu warga desa Sidorejo dimana obyek wisata Deles  berada mengatakan, kondisi Deles Indah yang rusak parah harus segera diselesaikan. “Duduk bersama antara Disparbudpora (Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga), pihak TNGM, Keraton Solo dan Desa,  duduk bersama untuk berbagi peran, demi penyelamatan kawasan Deles Indah”, ucapnya.

Sekretaris Fraksi Gerindra, Muchlis Febby Anggono, menilai, Disparbudpora merupakan kedinasan besar dengan empat(4) bidang, bidang Pariwisata, bidang Kebudayaan, bidang Pemuda dan bidang Olahraga, nah selama ini sistim anggaran yang berlangsung selalu saja Bagito “ bagi roto”, tidak melihat komposisi kedinasan, dan skala prioritas.

Visi Misi Bupati cukup jelas, menuju masyarakat yang memiliki daya saing, sektor pariwisata  jika bisa dimaksimalkan akan memberikan dampak ekonomi yang luar biasa pula, maka dianggaran perubahan nanti seharusnya eksekutive berani mengajukan prioritas. Kita akan coba lihat di anggaran kedepan, seperti apa program pariwisata.

Pemeliharaan Tidak Maksimal

Perlakuan dalam pengelolaan Destinasi wisata tidak profesional, banyaknya keluhan yang disampaikan masyarakat saat berkunjung, seperti halnya yang terjadi dirangkaian perayaan syawalan di bukit Sidogura dan Rowo Jombor, karena lokasi wisata ini dilintasi jalan umum yang menghubungkan beberapa desa, banyak warga masyarakat  (tamu) yang akan berkunjung  terkena masalah harus membayar tiket pintu masuk.

Seperti keberadaan Obyek wisata Deles Indah, seluruh bangunan dan fasilitasnya di buat mangkrak, tanpa diurus, namun portal tiket selalu dijaga oleh dinas Pariwisata, semua warga masyarakat yang melalui portal harus membayar tiket masuk yang besarannya Rp. 5000,- (lima ribu) rupiah untuk motor boncengan, masih ditambah kupon bulan dana PMI sebesar 1000 rupiah, hanya warga lokal yang memang tidak membayar. Bahkan di Deles ini pengunjung harus membayar tiket pintu masuk  Deles dan jika naik di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) juga harus membayar lagi sebesar Rp.5000,- per orang. Beda dengan obyek wisata di Kali Talang Balerante yang hanya dikenaklan biaya parkiur motor sebesar 2000 per motor.

Obyek wisata Mata Air Cokro (OMAC) di desa Cokro kecamatan Tulung, pun demikian, investasi mahal hingga 12 (duabelas) Milyard, tidak bergeming hanya menghasilkan Rp. 600 juta pertahun, hal ini tidak sebanding.

Belum lagi, Waterboom yang di gadang menjadi daya tarik wisatawan, menjadi mangkrak tidak bisa di fungsikan karena dianggap berbahaya bagi keselamatan pengunjung, belum lagi kesan kumuh, penataan pedagang yang semrawut.

Dibutuhkan pemikiran yang lebih untuk membangun dan mnemelihara serta merawat destinasi-destinasi wisata di kabupaten Klaten, tidak hanya pungutan tiket namun peningkatannya pun perlu diperhatiakan.

Penulis ihsan abdulah nusantara

Editor ihsan abdulah nusantara
views