_

Polemik Fatwa MUI, Vaksin MR Mubah

HNCK8306-730x487
Imunisasi MR, Ilustrasi

JAMBI – Pemberian vaksin Measles Rubella (MR) menjadi perbincangan hangat karena  vaksin ini dinyatakan haram. Meskipun pernyataan haram ini agak terlambat karena pemberian vaksin sudah dilakukan sebelumnya.
Lembaga Pengkajian Pangan Obat obatan dan  Kosmetika Majelis Ulama Indonesia  (LPPOM MUI) menyatakan vaksin MR Haram, tapi terpaksa boleh digunakan.
Melalui pembahasan panjang, MUI mengeluarkan fatwa mengenai vaksin MR yang telah dipublish melalui laman halal MUI.org oleh LPPOM MUI (20/8/2018).
Fatwa MUI no 33/2018, tentang penggunaan vaksin MR (Merasles Rubella) produk dari Serum Institut of India (SII),  untuk imunisasi  ditetapkan, bahwa penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram, dan dalam hal ini SII menggunakan unsur babi dan turunannya. Penggunaan vaksin MR saat ini hukumnya mubah karena ada kondisi keterpaksaan  (darurat syar'iyah), belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, adanya keterangan ahli yang kompeten dan dapat dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan  akibat tidak diimunisasi.
MUI juga merekomendasikan agar pemerintah segera menyediakan vaksin halal untuk kepentingan masyarakat, produsen wajib menyediakan vaksin dan mensertifikasi halal  sesuai ketentuan perundang-undangan.

Warga Tak Dipaksa Imunisasi


Munculnya Fatwa MUI terkait vaksin Merasles Rubella (MR) Meskipun haram namun di perbolehkan (Mubah), ditanggapi beragam oleh warga masyarakat.
Sekretaris Dinas Kesehatan kabupaten Muaro Jambi Yes Isman mengatakan, pemberian vaksin MR dimulai Agustus yang diperuntukan bagi anak sekolah dan September untuk warga masyarakat. Pelaksanaan vaksin dalam rangka  Indonesia bebas campak dan rubella dan ini juga menjadi Komitmen dunia termasuk Indonesia.
Kondisi di Indonesia sendiri masih banyak terkena virus MR.
“Campak dan rubella menular,  Imunisasi yang ada campak, untuk Rubella selama ini belum pernah ada”, jelasnya.
Kata Yes Isman, imunisasi MR dilaksanakan massal untuk usia 9-15 tahun, untuk wilayah Sumatera Maluku, Irian pada Agustus dan September, untuk pulau Jawa sudah selesai dilaksanakan.
Pemberian vaksin di bulan Agustus khusus menyelesaikan untuk anak anak sekolah dan untuk September di berikan di Puskesmas dan Posyandu bagi warga masyarakat.
Munculnya Fatwa MUI yang menjelaskan haram karena ada unsur Babi meskipun diperbolehkan (Mubah) dalam penggunaanya ini menjadi kendala tersendiri.
Lanjut Yes Isman, untuk pemberian vaksin anak sekolah dasar negeri sudah selesai dan untuk Madrasah tinggal beberapa saja. Jika di kalkulasi sudah sekitar 30,6 persen dari 75.000 anak sekolah sampai hari ini (21/8) sudah disuntik. Total yang wajib vaksin sekitar 110.000 orang dari usia 9 – 15 tahun dan kita menargetkan 99 persen, tervaksim MR agar kekebalannya terlindungi. 
“Jika yang tervaksin MR kurang  dari 99 persen maka bisa menimbulkan wabah”,cetus Yes Isman.
Merasles dan Rubella (MR) ini memang  cukup berbahaya karena bisa menyebabkan kematian dan cacat, gejala Campak dan Rubella ini hampir sama maka vaksinasi sekarang jadi satu, kalau dulu hanya campak saja.
Sasaran sekolah dengan adanya surat edaran bupati tidak yang ditujukan ke Diknas maupun Kemenag, Camat dan Kades. 
“Jadi kita tetap mengikuti fatwa MUI, nanti sebelum pelaksanaan kita akan sampaikan kepada orangtuanya wali terkait Fatwa MUI dan Resiko jika tidak divaksin MR, biarkan orangtuanya wali siswa menentukan sendiri”, pungkasnya.
Ditambahkan Kabid P2P (Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kab. Muaro Jambi Afif Udin mengatakan dari  Kasus 2017, terdapat warga yang terkena campak 2  orang dan rubella 3. Sedangkan 2018 Muaro Jambi  3 orang terkena  campak dan yang terkena  rubella 65 orang.
Sementara itu Kepala Kemenag Kabupaten Muaro Jambi M Ikbal menyampaikan akan menunggu dulu surat resmi dari MUI kanwil Jambi. 
“Kami akan menunggu surat resmi dari kanwil Jambi terkait pemberian vaksin MR di Madrasah”, ujarnya.
Kata M Ikbal, Fatwa MUI ini Mubah jadi berharap ada sosialisasi sebelum pelaksanaan, biarkan warga memilihnya. 
Kita akan lakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan, dan Madrasah dan Pondok Pesantren mengenai vaksin Merasles Rubella (MR) ini, Jangan sampai masyarakat tidak tahu terhadap fatwa MUI.

?

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views