_

Rembang Tebu

HNCK8306-730x487

Petani tebu sebagian sudah mulai memanen, namun panen raya diperkirakan mulai Agustus hingga awal Oktober. untuk memanen tebu tidak sembarang orang bisa melakukan, karena ada teknik tersendiri dalam memanen. Kelompok rembang  (sebutan pemanen tebu) perhari mampu memanen 8 hingga 10 ton, satu kelompok rembang terdiri dari 6 hingga 10 oarang.  Untuk 
ongkos tenaga rembang sendiri per ton sekitar 70.000-80.000 rupiah.

Petani tebu sendiri mendapatkan penghasilan yang berujud Gula rata -rata dalam 1 hektar mencapai 1ton gula, tetapi tidak semua petani membawa gula ke rumah, mekanismenya ada beberapa macam, ada yang jual tebu, ada juga yang hanya menjasakan giling tebu (nggilingke) yaitu dengan cara bagi hasil dengan pihak pabrik gula, dengan perhitungan  petani dapat 64 persen  sedangkan PG mendapatkan  36 persen setelah dipotong biaya produksi.


Seperti yang disampaikan, Wijiyanto (52) petani tebu, desa Srebegan, Kecamatan Ceper, kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kendala dan keluhan yang dihadapi petani tebu soal tenaga  kerja dan pupuk. dimana pupuk sendiri mekanismenya  nggak jelas. Pemerintah dalam hal ini kurang perhatian, petani tebu seolah di anak tirikan. Perkebunan tebu kayaknya nggak dijatah sama pemerintah, nggak ada kejelasanya, katanya disubsidi tapi kita nggak tahu, daftarnya untuk petani, tapi petani yang mana kita nggak tahu.

Lebih lanjut, munculnga Peraturan Pemerintah banyak gejolak, petani jadi bingung. Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan diatas harga lapangan, kita jual dibawah itu, karena ada PPN itu berdampak langsung perolehan petani, seharusnya kita menerima bersih malah kita menerima dibawah itu, pungkasnya. 

Disisi lain, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan optimis mengejar target swasembaga gula konsumsi pada 2019 mendatang. Berdasarkan data Kementan, produksi gula kristal putih ( GKP) atau gula konsumsi lokal sebesar 2,2 juta ton pada 2016, sedikit di bawah target yang dicanangkan yakni 2,3 juta ton.
 

Penulis Ihsan Abdulah Nusantara

Editor ihsan abdulah Nusantara
views