_

RSUD Ahmad Ripin Beri Penjelasan Dugaan Kelalaian Penanganan Pasien

HNCK8306-730x487
Klarifikasi pihak RSUD Ahmad Ripin Muaro Jambi

JAMBI - Penanganan pasien yang akan melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah Ahmad Ripin Sengeti, yang akhirnya janin meninggal dalam kandungan ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit Raden Mataher Jambi. Sengeti, 15 Oktober.

Kasus meninggalnya janin dalam kandungan memang ada kejanggalan kejanggalan bagi masyarakat umum. Hal ini karena kondisi ibu dan janin pada saat masuk di IGD RS Ahmad Ripin sehat dan normal, bahkan 2 (dua) minggu sebelumnya pun dinyatakan sehat dan normal oleh dokter kandungan tempat pemeriksaannya oleh dokter yang sama di rumah sakit tersebut.

Dengan alasan keganjilan tersebut, akhirnya Heri Andira (Ayah kandung) warga RT 07 desa Tunas Baru kec. Sekernan melakukan komplain atas penanganan rumah sakit yang dianggap lalai dan hingga menyebankan kematian janin dalam kandungan istrinya.

Hal tersebut oleh rumah sakit ditanggapi, didepan Heri dan Istri, Komite kesehatan yang dipimpin langsung Direktur RSUD, dr Ilham dan dr Ikhsan, SpOG beserta anggota yang lain menyampaikan kronologi hingga keputusan melakukan rujukan ke rs Raden Mataher Jambi.

Direktur RSUD Ahmad Ripin menambahkan rumah sakit ini kategori rumah sakit pelayanan jadi sangat terbatas tenaga medis (dokter), dan peralatan yang tidak memadai berbeda dengan rumah sakit pendidikan.

"Meskipun type rumah sakit ini type C, namun peralatannya masih sangat minim sekali", ungkapnya.

Jadi karena kondisi tersebut maka  pasien dirujuk. 

Saat rujuk dipastikan menerima atau tidak, dan penanganan berbeda antara bayi dengan anak atau dewasa, untuk ICU nya pun berbeda.

Nah, kalau di Rumah Sakit ini alat belum tentu baik untuk dijadikan penanganan.

Selanjutnya, untuk keberadaan dokter spesialis, Ada aturan bahwa dokter spesialis jam kerjanya sampai jam 14.00, namun pelayanannya 24 jam, jadi tetap terus siap siaga apabila dibutuhkan.

Ditambahkan dokter Ihsan, waktu. Itu dokter umum/dokter jaga yang berada di IGD dan bidan yang melakukan konsultasi.

Terjadinya pendarahan, karena adanya pembuluh darah yang pecah, hal ini terjadi saat pembukaan satu. 

Jadi pendarahan kemarin tidak berpengaruh terhadap ibunya.

"Ibu tidak ada transfusi darah, kan saat penanganan di Mataher?, tanya dokter Ihsan ke Heri dan Istrinya, maka tidak ada kekurangan darah", ungkap Ihsan.

Pendarahan bukan penyebab kematian janin,kata Ihsan menambahkan.

Saat disinggung kenapa tidak dilakukan operasi disini?, Ihsan menyampaikan, Lebih cepat dirujuk dari pada dilakukan operasi disini. Alat kita sudah rusak sejak rumah sakit ini berdiri, jadi faktor resikonya lebih besar ditambah lagi untuk operasi harus ada 3 dokter, yaitu Kandungan, Anak, dan Anastesi.

"Posisi dokter jauh, kita rumah di kota Jambi, jadi banyak memakan waktu untuk bisa tiba di rumah sakit", cetusnya.

Secara detail Akhirnya Ihsan menjelaskan, kondisi awal terperiksa kondisi Janin sehat Detak Jantung Janin (DJJ) 149 permenit.

Kemudian, Hasil uji laboratorium HB 11 gr per persen, leukosit 8,2 RB/mmk dapat disimpulkan pasien tidak anemia dan tidak ada infeksi pada pasien, selanjutnya pasien di pasang infus dan berikan suntikan cefotaxim 1X1 gr (IV). Lalu pada jam 12:00 wib dokter IGD konsultasi dengan dokter spesialis kandungan,

 

"pada saat itu saya (dokter spesialis kandungan)sudah mau pulang, karena dikejar bidan maka tidak jadi dan menyuruh untuk membawa pasien ke ruang poli kebidanan untuk di USG" ungkap dr.ikhsan.

 

Jam 12:45 wib pasien masih di UGD dengan hasil pemeriksaan usia kandungan 38 Minggu, air ketuban cukup dengan plasenta nidasi di fudus uteri dan detak jantung janin 149 kali per menit, dengan observasi pasien dan janin setiap satu jam sekali.

 

Jam 12:00 wib pasien di bawa ke ruangan bersalin dengan kondisi pasien dan kandungan nya dalam keadaan baik, kemudian jam 13:30 wib dilakukan Jontor detak jantung janin hasil nya DJJ 148 kali per menit, artinya ada penurunan detak jantung, jam 14:00 dilakukan lagi post control detak jantung janin dan hasilnya juga terjadi penurunan yaitu 146 kali per menit, namun pada saat itu jam 14:00 dokter spesialis pulang meninggalkan pasien, padahal denyut jantung janin sudah mengalami penurunan dan belum menentukan tindakan lebih lanjut.

 

Jam 14:40 wib dilakukan lagi post control denyut jantung janin hasilnya denyut jantung janin terus menurun yaitu 82 kali per menit, lalu perawat menelpon dokter ikhsan spesialis kandungan dan di sarankan untuk di cek ulang jam 15:00, setelah di cek ternyata hasilnya malah tambah menurun detak jantung janin menjadi 77 kali per menit nya, tanpa diketahui apa penyebab detak jantung janin tersebut menurut.

 

Jam 15:10 perawat kembali menelpon dokter ikhsan spesialis kandungan terkait penurunan detak jantung janin yang sangat drastis, kemudian dokter ikhsan menyarankan untuk di pasangkan oxigen kepada pasien, dan segera di rujuk ke rumah sakit Raden Mattaher Jambi.

 

"Berdasarkan SPO nya, Untuk proses rujukan ke rumah sakit Raden Mattaher Jambi memerlukan waktu dan konfirmasi dahulu ke pihak rumah sakit Raden Mattaher, agar bisa di terima di sana" Samapi Dokter ikhsan.

 

Jam 16:20 pasien dibawa dengan ambulance didampingi dua orang perawat dengan Alat detak jantung janin tetap terpasang, namun sangat di sayangkan di tengah perjalanan menuju rumah sakit Raden Mattaher Jambi, detak jantung janin di dalam kandungan pasien berhenti, dan di pastikan janin telah meninggal.

Setelah adanya penjelasan dari beberapa anggota komite kesehatan, Direktur menanyakan beberapa kali apakah Heri dan Istri paham dan mengerti atas penjelasannya?.

Heri masih dengan penuh emosional mengatakan tidak memahami apa yang disampaikan.

"Intinya saya kecewa, istri saya ditelantarkan dan calon anak saya meninggal", tukas Heri.

Hingga berakhirnya klarifikasi tidak ada keputusan apapun atas kejadian ini.

 

Belum Diketahui, Penyebab Meninggalnya Janin

 

Dokter Spesialis Kandungan yang menanggani Istri Heri mengatakan bahwa kejadian meninggalnya anak yang masih dalam kandungan isteri Heri merupakan kasus yang jarang terjadi. Bahkan terhadap penyebab meninggalnya bayi tersebut, dikatakan oleh Dr Ikhsan sampai saat ini belum tahu.

 

"Kasus ini jarang, bahkan ini 1001 dan penyebabnya sampai saat ini tidak tahu, kemungkinan ada penyakit jantung pada bayi, namun penyebab pastinya saya tidak tahu,"ujarnya saat klarifikasi di ruang rapat RSUD Ahmad Ripin

 

Hal ini berkaitan dengan hasil pemeriksaan awal yang menyatakan bahwa terhadap hasil pemeriksaan, kondisi ibu dan bayi dalam keadaan normal, yang kemudian tiba-tiba menjadi menurun. Berdasarkan yang dipaparkan oleh Dirut RSUD Ahmad Ripin, Dr Ilham, bahwa pemeriksaan awal yaitu Pada pukul 12. 45 wib diperiksa denyut jantung bayi 149x permenit.

 

"Pemeriksaan itu menunjukan normal, kemudian pada pukul 13.30 wib turun menjadin148x permenit, itu masih normal. Kemudian pada pukul 14.00 wib dilakukan pemeriksaan lagi dan itu menjadi 146x permenit, itu juga masih normal,"ujarnya

 

"Kemudian 14.40 selang waktu 40 menit di periksa lagi itu langsung turun menjadi 82x permenit, selang 20 menit lagi diperiksa itu turun menjadi 77x permenit,"sambungnya

 

Selain itu, saat ditanya apakah ada dilakukan Injeksi, Dr Ikhsan katakan bahwa pihaknya ada melakukan Injeksi, dan Injeksi tersebut dilakukan oleh Perawat.

 

"Yang Injeksi adalah perawat itu atas izin dari dokter,"ucapnya.

 

Saat ditanya apakah penyebab kematian bayi karena adanya pendarahan yang dialami oleh sang ibu, Dr Ikhsan katakan bahwa itu tidak. Terhadap pendarahan, Ia juga mengatakan bahwa hasil pemeriksaan pendarahan yang dialami oleh pasien masih normal.

 

"Pendarahan yang dialami itu juga masih normal, apalagi riwayat dari pasien yang juga saat melahirkan anak pertama dan kedua juga ada flek pendarahan. Pada saat di RS Mattaher juga pasien juga tidak ada tranfusi darah, itu juga menunjukkan bahwa pasien tidak kekurangan darah jika dibilang ada pendarahan hebat,"sebutnya

 

Ia juga menjelaskan bahwa, dengan pemeriksaan bisa melahirkan normal, apalagi ini merupakan kelahiran ketiga, Dr Ikhsan katakan proses persalinan lebih cepat, bahkan tidak sampai sembilan jam sudah bukaan normal.

 

"Persalinan normal sesuai SOP itu bidan, bidan konsultasi dengan dokter. Semua tindakan kita dari masuk hingga rujukan kita tercatat di Rekam Medik, kronologi ini di buat tanpa di kurangi, saya tidak menambah dan mengurangi,"tegasnya

 

Selain itu, terkait dengan kenapa proses operasi harus dirujuk ke Rumah Sakit lain dalam hal ini RSUD Raden Mattaher, Dr Ikhsan katakan bahwa butuh waktu panjang untuk melakukan operasi di RSUD Ahamad Ripin.

 

"Pada saat itu, indikasinya terjadi drop. Untuk melakukan operasi disini itu butuh waktu yang panjang. Operasi kandungan itu sesuai SOP harus ada tiga dokter, operasi kandungan itu tim. Kita dokter semuanya stanby di Jambi, kalo kita telpon belum tentu semuanya stanby, apalagi ini sudah sore kejadiannya. Selain itu, kita ungkap saja bahwa fasilitas kita kurang, kita ada alat tapi dalam kondisi kurang baik,"jelasnya

 

"Analisa kita memang lebih cepat di rujuk ke RSUD Raden Mattaher,"sambungnya

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views