_

Salak Sleman Merambah Selandia Baru

HNCK8306-730x487

Waktoe.com - SLEMAN, Salak asal Sleman akhirnya bisa menembus pasar ekspor ke Negara Selandia Baru. Pengiriman perdana buah salak Indonesia ke Selandia Baru tersebut dilakukan pada 23 Oktober 2017 melalui Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta. Ekspor didahului dengan penandatangan kesepakatan protokol ekspor buah salak dari Indonesia ke Selandia Baru oleh Kepala Badan Karantina Pertanian dan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia yang dilakukan di lokasi packing house salak teregistrasi milik Asosiasi Petani Salak Prima Sembada di Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman. Hal ini dimaksudkan agar stakeholder menyaksikan secara langsung proses sertifikasi phytosanitary buah salak berbasis ’in-line inspection’ yang dilakukan Petugas Karantina Tumbuhan BKP Kelas II Yogyakarta.

Badan Karantina Pertanian memberi fasilitas dan turut bernegosiasi dengan Ministry of Primary Industry Selandia Baru untuk mendapatkan akses pasar salak pondoh produk Kabupaten Sleman ke negara itu. "Fasilitas itu diawali dengan pendampingan penyiapan kebun registrasi, rumah kemas (packing house) registrasi, prosedur pelayanan sertifikasi phyosanitary," kata Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan Banun Harpini pada pelepasan ekspor perdana salak, Senin (23/10).

Menurutnya, selain itu juga dilakukan audit lapangan oleh Tim Ahli Ministry of Primary Industry (MPI) Selandia Baru, hingga akhirnya dikeluarkan Import Health Standard (IHS) Fresh Salacca for Human Consumption pada 9 Juni 2017. "Penerbitan IHS oleh Pemerintan Selandia Baru menandakan bahwa buah salak Indonesia dapat masuk ke pasar Selandia Baru sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam IHS, yang pada dasarnya buah salak yang diekspor ke Selandia Baru harus bebas hama dan penyakit (organisme pengganggu tumbuhan, OPT) dan memenuhi standard keamanan pangan Selandia Baru," katanya.

Karena itu, lanjutnya dalam IHS tersebut dipersyaratkan buah salak harus berasal dari kebun yang telah diregsitrasi dan diproses di packing house yang telah diregistrasi dengan menerapkan standar ekspor di seluruh tahapan kegiatannya, baik yang dilakukan di kebun (pengendalian penyakit, pemanenan) maupun di packing house (sortir, pembersihan, grading, packaging, labeling). Ke depan, untuk meningkatkan percepatan layanan ekspor, Badan Karantina Pertanian juga akan menerapkan electronic certification (e-Cert) dalam penerbitan Phytosanitary Certificate. Saat ini, proses penerapan e-Cert dengan Pemerintah Selandia Baru dalam proses finalisasi.

"Keberhasilan Indonesia menembus pasar hortikultura Selandia Baru untuk komoditas unggulan buah tropis khas Indonesia yaitu salak, akan menambah jenis komoditas unggulan Indonesia yang masuk ke negara ini," jelasnya.

Sementara itu Duta Besar Selandia Baru Trevor Matheson dalam sambutannya memberikan sanjungan kepada Indonesia, khususnya Sleman, yang telah bangkit setelah tertimpa bencana alam beberapa tahun lalu. Kini, ia merasa semua elemen telah bangkit, termasuk untuk ekspor yang ditandai pengiriman salak. Dia juga mengaku bangga, salak yang merupakan buah eksotis menurutnya dapat hadir di Selandia Baru, dan dapat dirasakan masyarakat luas di sana. Trevor pun berharap, kualitas salak yang ada selama ini dapat terus dijaga dan malah ditingkatkan untuk peningkatan nilai ekspor.

"Cukup banyak yang belum mengetahui rasa dari buah salak, sehingga kenikmatan yang diakui telah lama dirasakannya itu belum banyak dirasakan masyarakat Selandia Baru. Karena dinilai ekspor ini mengajarkan masyarakat Selandia Baru tentang buah-buah eksotis. Kita harus dukung dan kombinasikan semua daya yang ada, dan kita harus cari cara yang efisien agar komunikasi ekspor impor ini terus terjaga," paparnya.

Kepala Asosiasi Petani Salak Sleman Prima Sembada, Maryono menuturkan, harga salak yang diekspor sendiri memang lebih tinggi dari harga yang ditawarkan pengepul setempat. Jika biasanya petani mendapatkan 4-5 ribu rupiah per kilo, kini mereka mendapat sampai tujuh ribu per kilo. "Untuk salak yang dieskpor memang berkualitas grade B dengan register standar, kecuali untuk yang organik karena akan dijula dengan harga khusus yang biasanya lebih tinggi. Sedangkan, tingkat kematangan salak yang dikirim sekitar 60-7- persen," katanya.
 

 

Penulis CH DEWI RATIH KPS

Editor IBRAHIM OEMAR
views