_

Satpolair Polres Tanjab Timur Tangkap KM Di Perairan Nipah Panjang

Satuan Polisi Perairan Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi Tangkap Kapal Bermotor bermuatan tanpa dokumen Kepabeanan di perairan Nipah Panjang

HNCK8306-730x487
Satuan Polisi Perairan Polres Tanjung Jabung Timur saat memeriksa Kapal bermotor yang tidak memiliki dokumen kepabeanan

JAMBI - Satuan polisi perairan Polres Tanjab Timur,  kembali tangkap kapal bermotor bermuatan kasur dan keramik tanpa dilengkapi dokumen diperairan Nipah Panjang,, Sabak 9/4/2018.
Satuan yang bermarkas Jl. Paduka Berhala no 09 Muara Sabak, saat melakukan patroli menangkap KM Mega Buana 05, saat melintas di perairan Nipah Panjang, seperti yang disampaikan Kasat Polair Maskat Maulana, SH, saat penangkapan seluruh ABK (Anak Buah Kapal) tidak ada, dan tinggal Kapten Kapal yang ada berinisial AR (53), maka Nahkoda Kapal dan Barang bukti kita amankan.
"Jenis muatan berupa kasur/ sprinbad 5 buah dan Keramik 12 Koli tanpa dilengkapi dokumen dari kepabeanan  (Bea Cukai) dan rokok pro mild 2 slop".
Kata Maskat, Kapal masih ditambatkan di depan markas Polair sambil menunggu proses pengembangan lebih lanjut, belum diketahui perusahaan pemilik kapal dan jaringan pasukan barang maupun penerima barang. Kita akan lakukan koordinasi dengan kepabeanan/Bea dan Cukai, karena mereka yang memiliki keahlian di bidangnya.
Mereka kita jerat dengan pelanggaran Undang Undang tentang Kepabeanan no. 17 tahun 2006 disebutkan  dengan ancaman pembayaran pajak dan barang kita kembalikan kepada Pabeanan Batam.
Satuan Polisi Perairan  sendiri dengan kekuatan personil sejumlah 14 personil dengan armada yang kita miliki cukup.
"Ini operasi rutin  dengan cara deteksi dini dan memeriksa seluruh kapal yang melintas di perairan Tanjab Timur tanpa terkecuali", pungkasnya.
Saat disinggung informasi penangkapan narkoba yang bersamaan, Maskat menyampaikan memang ada penangkapan Narkoba namun sebaiknya konfirmasi ke Kasat Narkoba, karena mereka yang membidangi.

Dalam Undang-Undang Kepabeanan  Nomor 17 tahun 2006, dalam pasal 102 dijelaskan,  Anacaman pidana karena melakukan penyelundupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).” 
Begitu juga soal jaringan peredaran jenis  lobster yang marap terjadi , kita belum menemukan dan itu jaringan tersendiri, ungkap Maskat.

Perairan Tanjab Timur dalam hal ini lintasan sungai Batanghari masih menjadi primadona jalur lalulintas kapal kapal barang, akses dermaga dan baiaya yang lebih murah menjadi pertimbangan tersendiri.

Penulis Ihsan Abdulah Nusantara

Editor Ihsan abdulah Nusantara
views