_

SatreskPenyelundupan Baby Lobster Senilai 9 Milyard Digagalkan, Afrito Marbaro: Kita Akan Ungkap Yang Besar

HNCK8306-730x487
Kapolres AKBP Mardiono didampingi Kasatreskrim AKP Afrito Marbaro dan Paiman dari BKIPM Jambi

JAMBI – Penyelundupan Baby Lobster dengan modus baru digagalkan satreskrim polres Muaro Jambi. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers di Mapolres Muaro Jambi oleh Kapolres AKBP Mardiono yang didampingi Kasatreskrim AKP Afrito Marbaro, Kabag Ops Kompol Sopirin dan pejabat dari Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) provinsi Jambi Paiman.Senjn 9 Oktober 2018.
Kata Kapolres, ini modus baru, dimana selama ini mereka (para penyelundup) memakai alat stereofom untuk tempatnya, nah kalau kali ini mereka memakai takemon dengan airasi.
“Jadi toples toples yang sudah dilubangi untuk tempat ikan dimasukan ke takemon dan disuplai oksigen dengan alat airasi”, ungkap AKBP Mardiono.
Disampaikan AKBP Mardiono, berdasarkan kronologi kejadian, satreskrim polres Muaro Jambi sudah mengintai cukup lama terhadap penyelundupan baby Lobster ini. 
Saat itu, Senin,  8 oktober 2018 anggota sat reskrim melakukan patroli rutin di wilayah kecamatan Mestong kabupaten Muaro Jambi sekitar pukul 11.00 WIB, di perjalanan bertemu dengan kendaraan L300 pick up nopol BE 9563 JT, akan tetapi dikarenakan situasi jalan pendakian dan tikungan kendaraan tersebut ditunggu oleh anggota reskrim di depannya namun setelah ditunggu kendaraan tersebut tidak muncul juga dan setelah dicek kembali kendaraan tersebut diparkir di bengkel saudara dodo dalam keadaan terkunci dan supir serta kenek kendaraan tersebut tidak ada lagi melarikan diri berdasarkan keterangan dari Mustofa (warga sekitar) kedua orang tersebut izin untuk mencari makan, hingga saat ini kedua orang tersebut tidak ditemukan dan kendaraan tersebut diamankan di polres Muaro Jambi selanjutnya diserahkan ke Balai Karantina Hewan Jambi.
Lanjut Mardiono, mobil pickup tersebut ditemukan bermuatan satu buah take moon dengan ukuran 1000 liter dan 2 box plastik kuning yang berisikan benih lobster sejumlah 61.200 ekor dengan rincian 58.600 ekor jenis pasir dan 2600 rekor jenis mutiara.
Kemudian ditemukan juga sertifikat kesehatan ikan dan mutu hasil perikanan domestik.
Sertifikat tersebut dikeluarkan 2 oktober 2018 dari Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu serta Keamanan Hasil Perikanan wilayah kerja Bakauheni Lampung kemudian juga ditemukan di bawah kantong plastik besar yang berisikan toples tempat benih lobster ditambahkan satu unit mesin penghasil oksigen. Kapolres AKBP Mardiono menyampaikan kepada media bahwa kerugian dalam kasus ini mencapai 9,18 miliar rupiah karena dihitung dari harga benih Lobster per ekor nya Rp150.000.
Kata kapolres, pasal yang disangka kan terhadap kasus ini yaitu setiap orang dilarang memasukkan mengeluarkan mengadakan mengedarkan dan atau memelihara ikan yang merugikan masyarakat pembudidayaan ikan sumber daya ikan dan atau lingkungan sumber daya ikan kedalaman dan atau keluar wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat 1 jo pasal 88 Undang-Undang nomor 45 tahun 2009 tentang perubahan atas undang-undang nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan dan ancaman hukuman paling lama 6 tahun denda 1,5 miliar rupiah.
Selanjutnya benih Lobster yang sudah diamankan akan dilepasliarkan ke pantai Caringin dibawah Badan Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Serang Banten.
Sementara itu, Kasatreskrim AKP Afrito Marbaro saat dikejar wartawan awal kecurigaan terhadap kasus Baby Lobster, menambahkan, ini pengembangan jaringan.
“Ini rahasia dan kita akan ungkap yang lebih besar”, ungkap Macan Marbaro.

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views