_

Truck Batubara Dilarang Melintas Siang Hari Di Kumpe

HNCK8306-730x487
rapat koordinasi pengusaha batubara dengan perwakilan warga masyarakat Kumpeh Ulu di fasilitasi Pemkab Muaro Jambi. foto: Ihsan Abdulah Nusantara

JAMBI - Sekda saat membuka acara rapat mediasi antara warga masyarakat dengan pengusaha Batubara  Setelah adanya  penutupan jalan yang dilakukan warga dan menghalau truck bermuatan batubara melintas di wilayah Kumpeh dan pemasangan spanduk per 1 Juli hanya boleh melintas dimalam hari terhadap truck batubara. Sengeti, 02/7/2018

Bambang Bayu Suseno langsung menyinggung untuk membuka lembaran baru Perda tentang mengenai jalan khusus bagi perusahaan batubara yang kemarin sempat terhenti karena harga batubara anjlok, sekarang harga batubara sudah mulai naik, jalan khusus ini apakah akan melalui jalan sungai atau jalan darat.

Kata BBS, Problem yang dihadapi sekarang dan mendapat reaksi dari masyarakat Jaluko, Kumpe Ulu, dan Taman rajo  karena warga menganggap  transporter batubara menimbulkan kemacetan, debunya beterbangan kemana-mana yang menimbulkan dampak kesehatan dan  beberapakali menimbulkan kecelakaan lalulintas. Kemacetan yang ditimbulkan transportasi batubara seperti  kereta api berderet sangat panjang  dijam – jam sibuk seperti pukul 06.00 – 09.00 WIB  dan pukul 12.00 - 16.00 WIB serta dampak  kerusakan jalan juga diakibatkan truck batubara.

Beberapa  tuntutan warga,  disampaikan  Bono, Ketua Forum Kades se Kompeh Ulu, menuntut, agar apa yang menjadi tuntutan masyarakat  Kompe Ulu dari kesimpulan rapat koordinasi di desa Muara Kumpeh  yang disaksikan Camat dan Kapolsek Kumpeh Ulu.

“ Kami sudah cukup sabar, dibulan puasa dan lebaran serta hari libur kemarin kami merasakan nyaman karena tidak ada angkutan batubara yang lewat, maka tuntutan kami batubara hanya diperbolehkan lewat dimalam hari”, tuntutnya.

Kami juga menuntut agar bak truck batubara ditutup dengan terpal yang rapi agar debu tidak berterbangan kemana-mana,  tambahnya Bono

Terang Bono, Di Wilayah Kumpeh ada persimpangan jalan Siginjang dan disitu ada lubang yang cukup besar, dan akhirnya truck saat melintas harus kekanan, maka mengakibatkan dari arah yang berlawanan harus berhenti dan menimbulkan kemacetan.

“Pernah terjadi mobil mogok karena rusak, dan itu ditinggalkan sopir karena ketakutan kalau warga marah karena menimbulkan kemacetan yang cukup parah hingga 3 KM”.

“Kami masih menjamin tidak ada anarkisme, dan masyarakat tetap sabar mencari jalan tengah yang terbaik”, jamin Bono.

Senada dari perwakilan ikatan masyarakat kumpeh bersatu, menuntut  dan berharap agar saling menguntungkan baik batubara maupun warga masyaraka,akibat kemacetan dan debu menimbulkan dampak seringnya terlambat hingga mendapatkan sanksi  baik anak sekolah, pegawai puskesmas, karyawan  hingga harus membayar denda akibat terlambat tersebut. Begitu juga ambulance yang membawa orang sakit maupun jenazah tidak bisa jalan  begitu juga geliat ekonomi warga terganggu karena debu, banyak warung warung tak berani buka karena debu dan masyarakatpun enggan untuk belanja.

Disampaikan, adanya jembatan yang dibuat tahun 1992 juga cukup mengkawatirkan  jika dilewati tonase besar hingga 25-30 ton, serta jangan parkir/ stop di atas jembatan jika terjadi kemacetan maka berharap dibuat jalan alternative  yang permanen yang bisa dilalui angkutan batubara, diperparah lagi adanya DO yang berada didekat jembatan tersebut.

Kades Jaluko mengatakan, dari perhitungan kami setiap  hari ada 1000 truck yang lewat, jika ada tumpahan batubara tidak pernah diambil padahal mudah terbakar,  dan sopir seringkali ugal ugalan,  menyopir sambil telpon, ada yang  tidak memakai baju dll.

Kajari Sengeti, Sunanto  yang juga sebagai mediator  pesimis rapat mediasi saat itu tidak terjadi kesepakatan, bahkan hingga bersumpah untuk dipotong kukunya jika bisa selesai.

“Rapat seperti ini bakalan tidak selesai, potong kuku saya jika selesai”, tantangnya sambil berkelakar.

Diperjelas Kajari, seharusnya ada perwakilan kedua belah pihak  untuk menyelesaikan masalah dan menjadi produk hukum. Perwakilan dari masyarakat, Pengusaha, Wakil Bupati, Kejari, Polres dan jajaran OPD yang terkait ditambah tokoh Adat dan Organda.

Namun, Ancaman masyarakat yang akan demo jika tidak bisa diputuskan dan banyak perwakilan berharap hari ini sudah ada keputusan maka rapat koordinasi ditunda untuk makan siang dan sholat, karena warga menunggu dan jika tidak putus eksesnya semakin besar.

Pengusaha BatuBara Tak Terima Dituduh Biang Kerok Kemacetan

Perwakilan Pengusaha Batubara, Edi Gunawan yang didampingi Yakraman pengusaha batubara dari Sorulangun, Musran Muaro jambi, Nurhadi Batanghari menyampaikan, Kondisi kejadian seperti ini sudah kita prediksikan, tentang masalah kemacetan,  penyebabnya karena di Batanghari kita diminta untuk jalan malam hari setelah pukul 19.00 WIB baru diperbolehkan lewat hingga pukul 06.00 pagi, itupun karena negosiasi karena awalnya diatas pukul 21.00 WIB.

“jalan khusus/ alternative kita sudah memikirkan, sudah melalui tinjauan  dan diajukan ke Bupati Batanghari namun bupati tidak mengijinkan.  Prediksinya jika tidak dilalui 24 jam maka akan terjadi kemacetan di Muaro Jambi  yaitu di Kumpeh Ulu, Talang Duku, dan Jaluko”.

Saat terjadi kemacetan seperti ini, yang  disalahkan pihak batubara, padahal masih ada transportasi lain seperti CPO, dan Truck PKS dan yang lainnya, tekan Edi Gunawan.

Kata Edi, waktu koordinasi dengan pihak Gubernur saat itu,  kita sudah mengusulkan akan membuat jalan khusus dan perjanjiannya dua (2) tahun untuk membuat jalan khusus,  dari Mandiangin ke Tepinong lanjut Dusun Muda – Talang Duku namun permohonan kita tidak mendapatkan tanggapan dari Gubernur saat itu.

“Penerapan jalan malam tidak mungkin, karena bisa merugikan pengusaha”, tegas Edi

Ada beberapa yang mengakibatkan kemacetan, disimpang lampu merah ada lubang  besar, dan banyak kendaraan parkir dibahu jalan, dan tikungan Muara Kumpe banyak truck yang mengambil jalur kanan karena kubangan yang besar.

Yakraman menambahkan, dari Sorulangun truck mengisi satu site (90 truck), sampe Batanghari antri menunggu malam baru bisa lewat,  dan malam lewat sampe Muaro Jambi dipagi hari  maka terjadi penumpukan  di Kumpe Ulu.

Maka jangan sampai kita disuruh lewat lagi hanya dimalam hari, karena perusahaan bisa rugi dan banyak yang lari  tetapi kita mengusulkan untuk jam jam sibuk/ krodit seperti pukul 06.00 – 09.00 WIB  serta pukul 12.00 hingga 14.00 WIB  kita tidak lewat.

Lanjut Yakraman, jika ada trafik dijam sibuk tidak boleh jalan, maka harus ada pos untuk mengendalikan  karena dipastikan akan menumpuk dan jangan hanya batubara tetapi juga truck lainnya. Jika dibandingkan muatan batubara hanya 15 ton hingga 20 ton tetapi muatan CPO  dan sawit bisa mencapai 25 hingga 30 ton.

Nurhadi juga menambahkan, jika kita hanya boleh jalan malam, maka stock  batubara akan terjadi masalah, dan kekhawatiran  batubara yang diangkut bisa tercampur dengan benda lain, jika pengaturan trafik tidak benar maka saat dibuka seperti air bah.

Jika sampai tidak bisa lewat dimalam hari, perjalanan bisa memakan waktu satu haru dua malam untuk sampai ditalang duku dan hanya satu rit sopir hanya mendapatkan uang 100.000 - 150.000 dengan begitu dampak perusahaan merugi dan bisa bangkrut dan  berimbas pada  tenaga kerja.

“Ditahun 2009 s/d 2013 kita dihadapkan pada infrastruktur yang jelek, saat itu domain ada dikabupaten namun sekarang ada diprovinsi, maka seharusnya pihak provinsi ada karena jika hanya mengurai masalah disatu titik akan muncul masalah  yang lain, perlunya konsep yang terintegrasi  dan kesepakatan yang diambil berdasarkan kearifan dan kebijaksanaan”.

Diketahui beberapa hari sebelumnya warga Kumpe memasang spanduk di  jembatan yang melarang truck untuk melintas disiang hari  per satu Juli 2018.

Penulis IHSAN ABDULAH NUSANTARA

Editor ABDULAH IHSAN
views