_

Ulah Ganteng Zola Gantung Nasib Jambi

HNCK8306-730x487

Zumi Zola Zulkifli 

JAMBI - Zumi Zola Zulkifli enggan mengundurkan diri dan tetap mempertahankan jabatannya sebagai Gubernur Jambi. Zola lebih mementingkan kepentingan pribadinya sehingga menggantungkan nasib masyarakat Jambi.

Pengamat Sosial Bahren Nurdin, menilai Zola masih egois dan masih punya kepentingan pribadi ketimbang nasib seluruh masyarakat Jambi. Langkah yang paling tepat dalam menyelamatkan Jambi saat ini, Zola harus cepat-cepat mundur dari jabatannya sehingga Pelaksanaan Tugas Gubernur Jambi dapat didefinitifkan dan selanjutnya ada Wakil yang akan mendampingi. 

"Kalau-lah Zola harus menunggu putusan hukum tetap yang masih panjang ini akan semakin membuat masyarakat teraniaya. Yang paling tepat dalam menyelamatkan Jambi ini adalah Zola segera menyatakan mundur," kata Bahren, Rabu 29 Agustus 2018.

Mundurnya Zola dengan cepat membuat masyarakat semakin simpati dan empati kepadanya, dan harusnya Zola juga cepat mundur sewaktu ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, sehingga tidak menjadikan situasi Jambi semakin 'genting' dan banyak kebijakan tak dapat ditegaskan oleh Pelaksana Tugas Gubernur Jambi Fachrori Umar karena Zola.

"Kalau Zola tidak mundur tidak mendapatkan simpati dan empati dari masyarakat, berarti Zola menganiaya masyarakat dua kali," tegas Bahren.

Selain itu, pasca hukum yang menjerat Zola dan Anggota DPRD Provinsi Jambi justru menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin dan Wakil Rakyatnya, ini berpengaruh besar terhadap pemilihan- pemilihan selanjutnya. Meski begitu, roda pemerintahan harus terus berjalan juga jangan sampai hancur.

"Situasi sekarang ini bukan Jambi Tuntas melainkan Jambi Kandas. Sekarang ini bagaimana Fachrori Umar harus mampu melanjutkan Jambi Tuntas," pungkasnya

Tokoh Masyarakat Jambi, Usman Ermulan mendesak, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jambi segera menyurati Kementrian Dalam Negeri untuk memberhentikan Zumi Zola Zulkifli kasus hukum yang menjeratnya.

"Sebagai wakil rakyat, DPRD berhak mendesak Kemendagri menetapkan gubernur Jambi definitif," kata mantan Bupati Tanjung Jabung Barat dua periode itu.

Terpisah, Pengamat Kebijakan Publik, H Nasroel Yasir mengharapkan, peran penting seluruh elemen masyarakat menyatakan sikap mundurnya Zola demi menyelamatkan Jambi kedepan. Pemerintah Provinsi Jambi juga dapat mengumpulkan seluruh elemen masyarakat.

"Para tokoh masyarakat, tua tengganai, organisasi masyarakat, lembaga adat bahkan seluruh unsur Forkompinda, baik itu Bupati dan Walikota mari berkumpul sejenak demi kelanjutan pembangunan Jambi kedepannya," tegas Nasroel.

Barisan Jambi Berduka, Bung Indris menyatakan, semangat besar-besaran yang dijalankan pemerintah dan anggota DPRD di Provinsi Jambi rupanya masih nol besar. 

Buktinya, upaya menuju Jambi Tuntas 2021 terhambat karena jeratan kasus. Masyarakat sudah geram dengan tingkah laku pemimpin maupun wakil rakyat terkait kasus ketok palu sebagaimana yang disebutkan dalam berkas dakwaan Zumi Zola di KPK di persidangan lalu. Bahkan hampir menyeluruh menyeret nama anggota DPRD Provinsi Jambi. 

Akibat itu kesejahteraan dan peningkatan perekonomian rakyat menjadi terganggu. Pihaknya dalam waktu dekat juga segera melakukan aksi damai di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Jambi dan menyegel gedung DPRD Provinsi Jambi.

"Sudah selayaknya itu dikosongkan, jangan coba-coba berani menginjakan kaki di gedung milik kami ini. Kita minta KPK bekerja cepat menyelesaikan kasus tersebut," kata Idris.

Selain itu, putra kelahiran Kabupaten Bungo ini sangat menyayangkan dengan adanya nama anggota DPRD dari daerah pilih (dapil) kabupaten Bungo disebut sebagai penerima duit ketok palu.

"Kita mengharapkan anggota DPRD dari Dapil Bungo sebagai wakil rakyat yang amanah," tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jambi, M Dianto menyebutkan, sejauh ini Pemerintah Provinsi Jambi belum menerima surat pengunduran diri langsung Zola sebagai gubernur Jambi. Pihaknya juga masih menunggu keputusan hukum tetap Zola sampai vonis dari pengadilan tindak pidana korupsi. .

"Final suatu perkara ada pada Inkrah agar bisa diputuskan oleh Menteri Dalam Negeri atau beliau (Zola, red) membuat surat pengunduran diri. Pertimbangan lain ada pada beliau, mungkin beliau masih memerlukan waktu (mundur,red)," kata Sekda.

Selain itu, Sekda mengakui, meski Zola masih dalam penjara KPK akan tetapi Zola masih menerima gajinya sebagai Gubernur Jambi. Meskipun gaji tersebut lebih rendah dari gubernur Jambi aktif.

"Beliau tetap diberikan haknya. Nominalnya kecil," kata Sekda. 

Untuk diketahui, Zola kini menyandang 2 status di KPK berkaitan dengan gratifikasi serta suap ke anggota DPRD Jambi. 

Kasus berawal dari operasi tangkap tangan KPK pada 28 November 2017. Saat itu, KPK menangkap sejumlah orang hingga akhirnya menetapkan 4 orang tersangka yaitu anggota DPRD Provinsi Jambi 2014-2019 Supriyono, Plt Sekda Provinsi Jambi Erwan Malik, Plt Kadis PUPR Jambi Arfan, dan Asisten Daerah 3 Provinsi Jambi Saipudin. Selanjutnya Zola ikut terjerat karena mengetahui dan setuju terkait uang ketok palu tersebut. 

Zola juga menerima gratifikasi sebesar lebih dari Rp 40 miliar. Zumi juga didakwa menerima 177.000 dollar Amerika Serikat dan 100.000 dollar Singapura. Selain itu, Zola juga didakwa menerima 1 unit Toyota Alphard.

Zola disangka melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP. Zola terancam kurungan 20 tahun penjara.

Sebelum menjabat sebagai gubernur, pria berparas rupawan ini dikenal masyarakat setelah berkecimpung di dunia hiburan sebagai aktor.

Suami Sherrin Tharia pertama kali terjun ke dunia seni peran ketika duduk di bangku kuliah. Sinetron pertama yang dibintang pria kelahiran 31 Maret 1980 ini adalah "Culunnya Pacarku" di tahun 2004. Namun namanya baru melejit setelah membintangi sinetron berjudul "Hantu Jatuh Cinta" pada 2006.

Tak hanya sinetron, Zumi juga pernah menjadi bintang videoklip. Mantan Abang Jakarta tahun 2001 ini sempat vakum dari dunia sinetron saat melanjutkan sekolah ke London, Inggris.

Selesai masa studi, Zumi kembali ke Indonesia dan kembali eksis di dunia hiburan. Ia membintangi beberapa film layar lebar seperti Kawin Laris dan Merah Putih di tahun 2009.

Kiprahnya di bidang politik tak lepas dari peran sang ayah Zulkifli Nurdin, yang merupakan mantan Gubernur Jambi periode 1999-2004 dan 2005-2010.

Karier politik Zumi Zola bermula saat ia mencalonkan diri sebagai Bupati Tanjung Jabung Timur pada 2011. Saat pemilihan kepala daerah, Zumi Zola berhasil menang dan terpilih sebagai Bupati periode 2011-2016 berpasangan dengan Ambo Tang sebagai wakil bupati yang didukung oleh PAN.

Pada Pilkada Serentak tahun 2015, Zumi Zola berpasangan dengan Fachrori Umar, terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Jambi untuk periode 2016-2021. Pencalonannya didukung oleh PAN, Partai Nasdem, Partai Golkar, Partai Hanura, PKB, PBB, dan PPP. Pada tanggal 12 Februari 2016, Zola resmi dilantik oleh Presiden Jokowi bersama 6 pasang Gubernur terpilih lainnya di Kompleks Istana.

Karier Zola di bidang politik memang cemerlang. Namun sayang, ayah dua anak itu tersandung kasus dan kini masih menggantungkan nasib masyarakat Jambi.

Penulis : Ramadhani

 

Penulis Tim redaksi

Editor Ihsan Abdullah
views