_

Usman Ermulan Jenguk Korban Selamat Gempa Bumi dan Tsunami Sulteng

HNCK8306-730x487

JAMBI - Korban selamat bencana alam gempa bumi dan tsunami di Palu Sulawesi Tengah asal Jambi mendapat perhatian dan simpati dari seluruh masyarakat.

Pasangan suami istri Aspin (36), Salmah (40),  dan dua orang anaknya Rizki (5) dan Rizka (4), warga asal Mendahara Tengah, Kabupaten Tanjung Jabung Timur itu, sudah menetap selama empat tahun di Palu.

Mereka tiba dengan menggunakan pesawat terbang domestik dari Jakarta tujuan Jambi, di Bandar Udara Sultan Thaha Jambi, Selasa malam sekitar pukul 22.00 WIB, (9/10), langsung menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit milik Pemerintah Jambi kawasan Mayang, Kota Jambi. 

Siang ini, Eks Bupati Tanjung Jabung Barat dua periode, H Usman Ermulan  datang menjenguk. Awalnya Usman masih berada di Jakarta mendapatkan kabar bahwa ada warga Jambi yang selamat, Usman langsung menuju Jambi datang menjenguk.

Mantan Staf Khusus Menteri/Kepala Bappenas RI itu, mengaku turut merasa prihatin dengan kondisi korban jiwa yang selamat itu, Usman juga mengucapkan terima kasih inisiatif Walikota Jambi Syarif Fasha yang sudah membiayai biaya kepulangan.

"Korban itu trauma sekali dengan kejadian bencana itu, semoga korban tabah menghadapi cobaan ini. Serta diberikan kesembuhan dan tetap semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari ," kata Mantan Komisi Keuangan DPR RI tiga periode ini, Kamis (11/10).

Tokoh Masyarakat itu, juga mengatakan masih mencari informasi tentang masih adanya warga Jambi berada di Sulteng untuk dipulangkan ke kampung halaman, dan Usman sendiri siap mengumpulkan dana sumbangan para masyarakat. 

"Kita siap membantu untuk mencari ongkos kepulangan, dengan kawan-kawan," tegas Usman.

Salmah mengatakan, rasa syukurnya tiba di Jambi bertemu kembali dengan pihak keluarga. Ia memastikan diri untuk menetap selamanya di Mendahara Tengah dan tak ingin pagi ke Palu karena trauma dengan kejadian bencana itu, dikhawatirkan akan terjadi.

"Usaha apa saja yang penting bisa untuk makan," katanya.

Pahit kehidupannya selama dua belas hari mengungsi di atas bukit di dekat kantor pemerintah Palu, diceritakan tanpa makan dan minum selama tiga hari, hingga akhirnya ada orang yang menolongnya.

Awal mula, Ia pulang dari berjualan keliling makanan Qitela. Saat itu dia sedang berada diluar rumahnya sekitar pukul 18.00 WIB, suami dan dua orang anaknya berada di ruang tengah. 

Mereka merasa adanya getaran kuat, yang membelah jalan di depan rumahnya. Bahkan sang suami sempat mengalami luka-luka akibat ambruknya bangunan dirumahnya. Lalu, sebelum terjadinya gelombang tsunami yang meratakan seluruh pemukiman di kawasan itu, mereka cepat berlari menyelamatkan diri.

"Kemudian tanah itu menutup kembali dan semua orang berlari. Kami melarikan diri ke lapangan, suami mengendong anak-anak ke bukit di kantor pemerintahan untuk mengungsi tanpa makan dan minum selama tiga hari," tangisnya.

Selama di pengungsian, kedua anaknya menderita penyakit demam dan muntah-muntah karena tak ada yang makanan yang dikonsumsi. Lalu, Ia bertemu dengan seorang anggota TNI Angkatan Udara asal Jambi bernama Sertu Amrin Hakim membantu mereka untuk melakukan komunikasi ke keluarga di Jambi dan mengantarkannya untuk pulang.

Untuk diketahui, gempa bumi dan tsunami di Sulteng yang menyebabkan lebih seribu warga meninggal dunia, dari 2 ribu lebih lainnya terluka, dan 70 ribu lebih jiwa menggungsi.  

Penulis Ramadhani

 

 

Penulis Tim redaksi

Editor Ihsan Abdullah
views