5 Juta Masker untuk Indonesia dari Aice dan GP Ansor


Penyerahan bantuan masker Aice Group dan GP Ansor di PP Ar Robithoh, Krapyak, Sleman, Kamis (19/11/2020) - (foto: Kumalasari/waktoe.com)

Penyerahan bantuan masker Aice Group dan GP Ansor di PP Ar Robithoh, Krapyak, Sleman, Kamis (19/11/2020) - (foto: Kumalasari/waktoe.com)

Waktoe.com - Aice Group dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor mendistribusikan 5.000.000 masker medis untuk Indonesia maju, Kamis (19/11/2020) di PP Ar Robithoh, Krapyak, Wedomartani, Sleman.

Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Korwil Jawa Tengah & Yogyakarta Mujiburrahman menjelaskan bahwa langkah bersama GP Ansor, Aice Group dan KSP ini merupakan bagian kolaborasi pentahelix seluruh stakeholder dalam mempercepat pengentasan pandemi virus ini di Indonesia. Pada saat ini, lembaganya akan memprioritaskan berbagai upaya maksimum untuk melakukan distribusi masker di banyak Posko Pengungsian.

Dirinya menilai potensi terjadinya kerumunan akan makin membesar seiring dengan makin besarnya jumlah warga yang diungsikan ke berbagai Posko tersebut. Bahaya penularan virus Covid-19 serta gangguan pernafasan yang biasa terjadi menjelang dan saat erupsi menjadi alasan GP Ansor memperkuat barisan relawannya serta jumlah masker yang akan dibagikan. Bahkan lembaganya akan segera menambah lagi jumlah distribusi masker SHIELD. Ditargetkan hingga 350 ribu bisa GP Ansor alihkan ke momen bencana di DIY kali ini.

“Yogyakarta menjadi bagian kampanye 5 juta masker medis yang didistribusikan ke 20 kota Indonesia oleh GP Ansor dan Aice. Dobel bencana Korona dan Merapi di Yogyakarta menjadi fokus bagi kita untuk segera bantu. Kami ingin meringankan beban berat masyarakat. Insya  Allah dengan kerjasama dan sokongan logistik masker medis yang cukup dari Aice, misi ini akan mampu memperbaiki keadaan. Amin,” harap Mujib.

Dalam kesempatan yang sama, Juru Bicara Aice Group Sylvana mengatakan bahwa kampanye 5 Juta Masker Medis ini merupakan kelanjutan dari misi kemanusiaan yang dilaksanakan di awal pandemi di April lalu. Saat itu, Aice Group dan GP Ansor menjadi pihak yang cukup awal masuk membantu Tenaga Kesehatan (Nakes) di Jabodetabek dan Jawa Tengah dalam memasok berbagai Alat Pelindung Diri (APD) yang sangat langka kala itu. 14 Rumah Sakit Penangan Covid-19 mendapatkan pasokan APD seperti hazmat, masker, thermogun dan berbagai APD lainnya. Selain itu, Aice juga memasok tak kurang dari 1 juta es krim dan freezer-nya ke Nakes di berbagai instalasi penanganan Covid-19 tersebut.

“Kami melanjutkan kerjasama Aice dan GP Ansor dengan berbagai elemen Pemerintahan, masyarakat dan media massa dalam memperkuat masyarakat menghadapi pandemi ini. Kali ini kami menyentuh berbagai kalangan masyarakat bawah yang rentan penularan. Kerawanan pandemi sekaligus aktifnya Gunung Merapi di Jogja saat ini, memanggil kami dan berbagai elemen masyarakat untuk datang dan ikut mendukung langkah penanganan yang dilakukan Pemerintah Yogyakarta.” Jelas Sylvana. 

Sylvana juga menjelaskan bahwa Yogya menjadi momen keempat distribusi masker medis SHIELD produksi perusahaannya. Di Yogya, Aice ingin semaksimal mungkin menjagai masyarakat untuk dua bencana, yakni pandemi covid-19 yang belum juga usai serta potensi 

Erupsi Gunung Merapi yang menyebabkan ribuan warga diungsikan ke beberapa Posko Pengungsian di beberapa titik di DIY maupun wilayah sekitar seperti Klaten, Sleman dan Magelang. Kini bahaya pandemi virus Covid-19 ditambahi dengan bayang-bayang bahaya erupsi dan berbagai potensi gangguan pernafasan akibat debu yang menyertainya.

Sebelumnya, Gerakan pentahelix ini sudah menyambangi Jakarta, Cirebon, dan Rembang. Menurutnya, dua puluh kabupaten dan kota yang tersebar di Indonesia akan menjadi wilayah  sasaran utama kampanye ini. Kegiatan akan mengkombinasikan kebijakan Pemerintah dengan keterlibatan lima kelompok pemangku kepentingan utama di masyarakat. 
     
Kolaborasi pentahelix dari Pemerintah Pusat dan Daerah yang berbasis komunitas dengan menitikberatkan kepada peran dari tokoh di masyarakat, akademisi, dan dukungan swasta yang dikombinasikan dengan komunikasi publik lewat media massa akan dijadikan strategi GP Ansor dan Aice Group dalam mengefektifkan upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 di Indonesia. 

Sylvana berharap dukungan Aice ke masyarakat dengan produksi masker medis dalam jumlah sangat besar ini akan berhasil menekan penularan di masyarakat. Wanita yang sehari-hari menjadi Brand Manager dari Aice Group ini menjelaskan, Aice bukan hanya membagikan lima juta masker lewat Misi Kemanusiaannya dengan GP Ansor dan KSP, namun juga membagikan 15 juta masker lainnya melalui 200 ribu UMKM yang selama ini menjadi penjual es krim Aice di berbagai wilayah di Indonesia.

Sementara itu Ketua Gugus Tugas Penanganan COVID-19 DIY sekaligus Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X mengapresiasi misi kemanusiaan pembagian 5 juta masker medis yang dijalankan oleh GP Ansor, Kantor Staf Presiden (KSP) dan produsen es krim Aice Group di Yogyakarta. Pernyataan Paku Alam tersebut dibacakan Asisten Pemberdayaan dan SDM Setda Pemprov DIY, Tri Mulyono.

Dalam sambutan tertulisnya itu, Wakil Gubernur menilai kepedulian yang ditanamkan akan menuai semangat toleransi dan kebangsaan. Menurutnya, sekarang adalah momen bagi munculnya kepedulian antar sesama. GP Ansor dan AICE Group, dinilainya telah menginspirasi munculnya kepedulian dalam gotong royong di dua potensi bencana bagi Yogyakarta. Langkah dua lembaga ini membagikan 250 ribu masker akan membantu pencegahan merebaknya Pandemi Covid-19, sekaligus mengantisipasi potensi bahaya erupsi Gunung Merapi saat ini.

“Saya mewakili Pemda dan Gugus Tugas Covid-19 DIY mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas sumbangsih kemanusiaan ini. Semoga kerja bersama ini dapat terus dilanjutkan demi mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera,” jelas Paku Alam.

Seperti diketahui, dalam beberapa hari terakhir Pemerintah telah meningkatkan status Gunung Merapi dari waspada menjadi siaga. Aktifitas pengungsian yang dialami ribuan masyarakat sekitar Gunung Merapi menyebabkan adanya kebutuhan lebih tinggi atas masker medis yang berkualitas. Keterbatasan fasilitas dan banyaknya warga berusia lanjut yang mengungsi menyebabkan kebutuhan lebih besar atas masker sekali-pakai yang berkualitas.