Duet Abdul Rasid - H. Mustakim Sambangi Sungai Beras, Dapat Curhatan Warga


Abdul Rasid menghampiri warga yang sedang gotong royong membangun rumah, dan mendengarkan keluhan warga tentang kondisi warga masyarakat.

Abdul Rasid menghampiri warga yang sedang gotong royong membangun rumah, dan mendengarkan keluhan warga tentang kondisi warga masyarakat.

JAMBI - Senin siang (20/10) bakda Dhuhur paslon Abdul Rasid - H. Mustakim menyusuri sungai dengan speedboat bersama relawan. Berangkat dari dermaga kecil Simpang Kiri desa Pematang Rahim  yang berjarak sekitar 300 meter dari kediaman H. Mustakim menuju desa Sungai Beras.

Perjalanan sekitar satu Jam tersebut, kami melihat aktifitas ekonomi di dermaga-dermaga kecil, mulai dari bongkar muat sawit, kelapa dalam hingga bahan bangunan. Tidak luput dari pandangan mata kami ternyata masih banyak juga yang mendirikan jamban (BABS) disepanjang pinggiran sungai purba ini.

Hingga akhirnya tiba di Sungai beras, Abdul Rasid - H. Mustakim bergegas langsung menyusuri jalan dengan berjalan kaki, karena sudah ditunggu warga masyarakat. Sambutan yang luar biasa terhadap kedua tokoh ini, karena warga masih teringat, ada memory disaat Abdul Rasid menjadi camat Mendahara Ulu sekitar 5,5 tahun dan H. Mustakim menjadi Kades serta anggota dewan dua periode.

Al hasil pertemuan demi pertemuan seakan menjadi reuni paslon dengan warga. Tentu yang masih mengingat yang tua-tua.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Rasid, menyampaikan kewajiban kita mentaati prokes Covid 19 dengan cuci tangan hingga jaga jarak.

Rasid juga menyampaikan "hari ini kampanye tertutup dibawah 50 orang yang dihadiri Bawaslu dan terkait prokes dari pihak kepolisian," Ungkapnya.

Abdul Rasid menambahkan perjalanan kariernya  dari camat hingga jabatan  terakhir Kaban kesbangpol.
"Kami putra daerah saya dari Melayu  bang Mustakim dari Sulawesi, niat kami membangun Tanjab Timur lebih baik", jelasnya dan disambut gemuruh tepuk tangan.


BUKTI DUKUNGAN, WARGA SUKARELA MENEMPEL STIKER DAN FOTO PASLON DI PINTU-PINTU RUMAH


Begitu juga H. Mustakim dengan meneteskan air mata dan suara serak mengatakan masuk kerumah ini ada kesan tersendiri, dan mengajak mendoakan arwah Almarhum Arpah. "Saya bukan orang asing, dusun terbesar adalah Sungai Beras, waktu itu saya calon Kades yang saya lawan inchumbent,  waktu itu tekanan  dan kekuatan  yang menghadang luar biasa dan ada orang-orang hebat. Namun dengan bantuan Alm. Arpah yang saya belum begitu kenal, kami mampu sebagai pemenang.

" Melihat kondisi sekarang, saya sangat prihatin, pembangunan di Tanjab Timur tidak berdasarkan kepentingan tetapi hanya keinginan belaka, Musdus Musrenbangdes bisa  berubah karena keinginan bupati," Ungkapnya.

Beberapa warga banyak yang curhat, seperti Samingun dari dusun Teluk Bagar, desa Sungai Beras yang mengelihkan soal  infra struktur jalan akses menuju kabupaten yang terputus oleh perusahaan perkebunan.

Curhatan warga tidak sampai disitu, para ibu banyak yang mengeluhkan harga gas LPG hingga Rp. 50.000,- di Sungai Beras, kadang sangat sulit untuk mendapatkannya.