Hutan Hujan Tropis Sumatra Terancam Hilang Dari Situs Warisan Dunia UNESCO


Data ancaman  warisan situs dunia UNESCO. waktoe | grafis

Data ancaman warisan situs dunia UNESCO. waktoe | grafis

waktoe.com - Beberapa warisan dunia sudah dihapus oleh UNESCO akibat terjadinya kerusakan lingkungan, sebelum dihapus UNESCO memberikan tanda bahaya terhadap situs tersebut agar pemerintah setempat dapat melakukan upaya penyelamatan. Seperti tanda bahaya di berikan UNESCO terhadap Hutan Hujan Tropis Sumatra.

Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra adalah tempat pelestarian bagi hutan hujan tropis di Sumatra dan habitat dari beberapa spesies yang hampir punah seperti, harimau sumatra, orangutan sumatra, gajah sumatra, dan badak sumatra yang merupakan spesies badak terkecil dan memiliki dua cula.

Luas dari Hutan Hujan Tropis Sumatra seluruhnya adalah 2,5 juta hektare yang terdiri dari 3 taman nasional di Sumatra, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Tempat ini juga tempat berbagai jenis tumbuhan endemik seperti, kantong semar, bunga terbesar di dunia Rafflesia Arnoldi, dan bunga tertinggi Amorphophallus titanum. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, hutan hujan tropis Sumatra juga merupakan sumber mata pencarian bagi masyarakat yang tinggal di sana.

Beberapa suku tinggal di hutan hujan tropis Sumatra, seperti suku Mentawai dan suku Anak Dalam.

Dalam sidang Komite Warisan Dunia di Saint Petersburg, Rusia, pada 24 Juni sampai 6 Juli 2012, Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra ditetapkan sebagai salah satu dari 38 Warisan Dunia Yang Terancam. Selanjutnya, pada sidang komite yang sama pada 2017 yang diselenggarakan di Kraków, Polandia, hutan ini masih dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya mengingat masih tingginya aktivitas ilegal yang mengancam kelestariannya. 

Salah satu bagian dari Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra yang paling terancam adalah Taman Nasional Gunung Leuser. Bahkan, menurut peneliti kehutanan di WRI Indonesia, statusnya adalah paling terancam di Indonesia bersama Taman Nasional Gunung Palung di Kalimantan Barat.

Beberapa ancaman yang disebutkan antara lain adalah penebangan liar, pembangunan jalan melintasi kawasan konservasi, pertambangan, alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan perambahan hutan (perkebunan masyarakat). 

Pemerintah telah membangun jalan yang melintasi hutan tersebut dan menutupnya dengan aspal meski UNESCO telah memberikan peringatan tentang ancaman proyek infrastruktur tersebut terhadap ekosistem hutan.

Menurut data yang dihimpun oleh Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), hingga Desember 2019, tutupan hutan seluas 34.277 hektare di Taman Nasional Gunung Leuser telah dinyatakan hilang akibat pembalakan liar dan perambahan hutan. Area taman nasional yang masuk wilayah Kabupaten Aceh Tenggara menderita kerusakan terparah, mencapai 19.554 hektare dari 281.845 hektare.

Pada 2016, pemerintah Aceh sempat berencana untuk mengeksploitasi potensi energi panas bumi di zona inti Leuser sebelum akhirnya membatalkan proyek tersebut dan mengalihkannya ke tempat lain.

Selain kerusakan akibat penebangan liar, perambahan, dan beberapa faktor yang telah disebutkan di atas, hutan hujan tropis Sumatra juga berpotensi terancam oleh perubahan iklim dan pemanasan global. Salah satu efek perubahan iklim di lahan basah tropis adalah curah hujan berlebihan yang dapat mengganggu ekosistem  flora  dan  fauna di dalamnya. 

UNESCO bersama dengan pemerintah Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Wildlife Conservation Society (WCS) melakukan proyek konservasi, yang salah satunya adalah memonitor dampak perubahan iklim pada kawasan hutan hujan tropis Sumatra.

Situs Negara Lain Yang Terancan

Berbagai negara ada banyak sekali situs penting yang dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Entah itu situs alam ataupun bangunan bersejarah dan kota bernilai sejarah tinggi. Tetapi banyak pula di antara tempat menakjubkan tersebut yang kelestariannya terancam karena pencemaran lingkungan, penelantaran, atau konflik politik. Karena itu UNESCO menyusun Daftar Warisan Dunia Dalam Bahaya World Heritage Convention.

Daftar ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran internasional atas ancaman bagi kelangsungan situs-situs yang berisiko rusak itu dan mendorong tindakan-tindakan pemulihannya.

Berikut ini kami tampilkan beberapa dari sekian banyak Situs Warisan Dunia UNESCO yang statusnya berada dalam bahaya.

Kota Kuno Aleppo, Suriah

Kota Kuno Aleppo adalah pusat kota bersejarah Aleppo, Suriah. Situs-situs bersejarah dan keseluruhan tata kota di kota kuno ini relatif tidak berubah sejak pembangunannya selama abad 12 sampai abad 16. Karena menjadi sasaran invasi dan ketidakstabilan politik selama berabad-abad, penduduk kota terpaksa membangun residen layaknya sel yang mandiri secara sosial dan ekonomi. Masing-masing residen ditandai dengan karakteristik agama dan etnis penduduknya.

Kota Kuno Aleppo terdiri dari kota kuno dalam dinding-dinding dan rumah-rumah tua seperti sel di luar tembok yang memiliki luas  350 hektar. Perumahan ini tadinya dihuni lebih dari 120.000 penduduk. Tata kota Aleppo ditandai dengan rumah-rumah yang besar, gang-gang sempit, dan kuno. Berkat warisan budayanya yang masih terjaga kota Kuno Aleppo menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1986.

Tetapi kondisi kota ini sekarang sangat memprihatinkan. Banyak bagian di Al-Madina Souq dan bangunan abad pertengahan lainnya di sana hancur akibat bentrokan antara pasukan pro-pemerintah dan gerilyawan dari Tentara Pembebasan Suriah dalam Pertempuran Aleppo pada tanggal 25 September 2012. Tak hanya Aleppo, di Syria terdapat banyak situs yang tercantum dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO, dan hampir semua situs penting itu sekarang masuk dalam Daftar Warisan Dunia Dalam Bahaya karena alasan yang sama dengan Aleppo.

Biara Gelati, Georgia

Gelati adalah kompleks biara di dekat Kutaisi, Imereti, bagian barat Georgia. Situs ini meliputi Gereja Perawan yang didirikan oleh Raja Georgia, David IV yang bergelar David Sang Pembangun pada tahun 1106, berikut gereja-gereja abad 13 dari St. George dan St. Nicholas.

Biara Gelati sempat menjadi salah satu pusat budaya dan intelektual utama di Georgia. Kala itu di sana ada institut budaya yang mempekerjakan ilmuwan, teolog, dan filsuf paling terkemuka di Georgia. Biara Gelati telah menyimpan sejumlah besar mural dan manuskri66  p kuno yang berasal dari abad 12 sampai abad 17. Dalam Gelati ditengarai telah dimakamkan salah satu raja Georgia terbesar, David Sang Pembangun.

Pada tahun 1994, Biara Gelati diakui oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia . Situs ini termasuk dalam 2008 World Watch List Monumen. Sayangnya tempat ini juga termasuk 100 Situs Paling Terancam Punah. Kerusakan bangunan biara Gelati disebabkan karena penelantaran berkepanjangan.

The Belize Barrier Reef, Belize

The Belize Barrier Reef atau karang Penghalang Belize adalah serangkaian terumbu karang yang melintangi pantai Belize. Letaknya sekitar 300-kilometer (190 mil) dari Mesoamerika Barrier Reef, yang terus memanjang dari Cancún di ujung utara-timur Semenanjung Yucatan melalui Riviera Maya hingga ke Honduras. Dengan panjang yang luar biasa itu menjadikan Belize Barrier Reef sebagai salah satu sistem terumbu karang terbesar di dunia setelah Great Barrier Reef di Australia dan Karang Penghalang Kaledonia Baru. Karang penghalang ini adalah lokasi wisata terkenal di Belize. Para wisatawan suka melakukan scuba diving dan snorkling di sana. Karang penghilang ini juga penting untuk industri perikanan di negara itu. Sampai-sampai Charles Darwin sang pencetus teori evolusi menyebut karang ini sebagai 'karang yang paling luar biasa di Hindia Barat' pada tahun 1842.

Sama seperti Great Barrier Reef Australia yang kondisinya memprihatinkan, Belize Barrier Reef juga mengalami kerusakan ekosistem karena penebangan pohon-pohon baku dan arus pembangunan besar-besaran di daerah itu. Hingga pada tahun 2009 UNESCO menyatakan sistem terumbu karang ini sebagai Situs Warisan Dunia Dalam Bahaya.

Gereja Kelahiran Kristus, Palestina

Situs ini merupakan basilika yang terletak di Bethlehem, wilayah Palestina. Gereja ini awalnya dipertahankan atas perintah Konstantinus dan ibunya Helena karena dipercaya berdiri di atas gua yang menandai kelahiran Yesus dari Nazaret. Pembangunan gereja basilika itu selesai pada tahun 339 Masehi dan dihancurkan oleh api selama Pemberontakan Samaria pada abad keenam. Sebuah basilika baru kemudian dibangun pada tahun 565 Masehi oleh Justinian, Kaisar Bizantium.

Situs gereja ini telah banyak mengalami perombakan sejak renovasi yang kedua, termasuk sebuah menara lonceng menonjol. Tetapi tentu saja tempat utama di sana adalah altar kelahiran Yesus yang di bawahnya terdapat bintang perak empat belas titik yang menandai gua bawah tanah yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus oleh Santa Perawan Maria.

Tempat ini sebenarnya masih cukup terjaga jika dibandingkan dengan situs-situs mengenaskan di Suriah. Sayangnya kebocoran air yang merembesi bagian bawah gereja dikhawatirkan akan merusak kelestarian keseluruhan situs.

Kota Perdagangan Liverpool, Inggris

The Liverpool Maritime Mercantile City atau Kota Perdagangan Liverpool adalah salah satu Situs Warisan Dunia yang terletak di Liverpool, Inggris. Kompleks kota perdagangan ini terdiri dari enam lokasi di pusat kota Liverpool termasuk Pier Head, Albert Dock dan William Brown Street.

Kota pelabuhan perdagangan ini mencakup banyak ciri kota yang paling terkenal. UNESCO menerima lokasi ini sebagai salah satu situs warisan dunia sebab mereka menganggap situs ini sebagai 'contoh tertinggi dari pelabuhan komersial pada saat pengaruh global terbesar Inggris'.

Makam Askia, Mali

Makam Askia yang terletak di Gao, Mali diyakini sebagai tempat pemakaman Askia Mohammad I, salah satu raja terbesar dari Kekaisaran Songhai. Situs ini dibangun pada akhir abad kelima belas. UNESCO menggambarkan makam ini sebagai salah satu struktur dari bahan lumpur ala Sahel, Afrika Barat yang paling mengagumkan. Kompleks ini meliputi piramida makam, dua masjid, dan sebuah pemakaman. Dengan ketinggiannya yang mencapai 17 meter menjadikan situs itu sebagai pra-kolonial terbesar di wilayah tersebut. Situs ini adalah bentuk dari gaya arsitektur Islam paling tua yang kemudian menyebar di seluruh wilayah.

Askia Mohammed sendiri adalah kaisar Askia pertama yang berperan besar dalam memperluas wilayah Kekaisaran Songhai. Konon makam itu dibuat atas perintah Askia sendiri dari lumpur dan kayu dari Mekah yang ia bawa saat kembali dari ibadah haji. Bagian dalam makam memiliki struktur dan arsitektur seperti sebuah rumah, dengan beberapa kamar dan lorong-lorong yang disegel begitu jenazah Askia Mohammad disemayamkan di dalamnya. Saat ini situs tersebut sudah nyaris rusak karena dihancurkan oleh Al-Qaeda dan Ansar Dine.