Program Budidaya Bawang Dinas TPH Tanjab Timur Gagal


Salah satu persemaian bawang program budidaya bawang dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura kabupaten Tanjung Jabung Timur. Waktoe| Istimewa

Salah satu persemaian bawang program budidaya bawang dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura kabupaten Tanjung Jabung Timur. Waktoe| Istimewa

JAMBI - Program penanaman bawang merah oleh dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura lenyap ditelan bumi. Anggaran program ini digelontorkan sebesar Rp 560.000.000,- dari APBD Provinsi  tidak setara dengan hasil produksi atau budidaya bawang yang dilakukan oleh petani dadakan.

Program yang didukung dari anggaran satuan kerja penyelenggaraan program dan kegiatan bidang Tanaman Hortikultura  Dinas TPH yang dilaksanakan tahun 2020 dalam hal ini pengadaan Saprodi Bawang Merah  untuk lahan seluas 20 Ha dengan anggaran Rp. 560.000.000,- yang bersumber dari APBD Provinsi ini seperti sia sia. Termasuk saprodi yang diberikan ke Petani tidak sesuai, baik jumlah maupun jenisnya.

Dewi Karlia kabid Hortikultura dinas TPH Tanjung Jabung Timur kepada Kantor Berita Waktoe (7/4) menjelaskan program bawang ini merupakan produk baru belum pernah dapat bantuan, dan memang tidak didahului oleh analisa budidaya yang matang, namun kami hanya mendasarkan atas usaha budidaya bawang di Mendahara Ulu yang berhasil.

Pemerintah pusat dalam persoalan bawang mengkategorikan daerah Andalan Utama dan daerah perkembangan, jadi Tanjab Timur kita ajukan sebagai daerah perkembangan budidaya Bawang.

Kabid Dewi menambahkan, program bawang akhirnya disetujui oleh pusat dan kita mendapatkan hibah melalui Satker Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi di APBD sebesar Rp. 560.000.000,-.

Keberhasilan budidaya Bawang telah dilakukan oleh  Komca petani di Mendahara Ulu (Simpang Kiri) menanam bawang berhasil, dan beliau kita undang untuk memberikan informasi bahkan sebagai pendamping program ini. Jenis benih/biji Bawang dari Pana Merah, maka dari perusahaan juga sebagai pendamping.

Masih kata Kabid Hortikultura, hibah barang tersebut untuk 21 Kelompok Tani yang tersebar 8 kecamatan di Tanjab Timur terdiri dari  Bibit (Biji) 3,5 Kg/1 Ha, Mulsa 10 Roll (per Roll 500 meter). Fungisida 16 Saset dan Insektisida 18 Saset.

Bantuan kita terima September 2020, langsung ke  kelompok tani  kemudian kita lakukan checking baru dilanjutkan pelatihan budidaya yang dibagi dua wilayah di pertengahan Oktober.

"Rata-rata petani mulai melakukan persemaian di pertengahan Oktober, usia persemaian 45 hari, maka dipertengahan Nopember baru mulai tanam dilahan", ucapnya.

Tetapi Dewi Kabid Hortikultura ini juga menyampaikan petani juga ada yang menunda tanam karena menunggu lahan yang sudah terlanjur tanam lain.

Ada beberapa lokasi sudah panen, seperti di kecamatan Geragai desa Pandan Lagan. Meskipun hasilnya tidak memuaskan masih jauh dari ekspektasi.

Bawang  merah merk Sunren, kita  peroleh dari Pana Merah. Problem yang dihadapi Petani saat disemai  banyak yang gagal,  dan info tersebut terjaring  di group medsos yang kita buat.

"Setelah semai biji bawang, banyak yang mati", ungkapnya.

Ada juga yang melaporkan di saat penanaman terjadi banjir maka gagal. Sebenarnya dari segi kondisi lahan  cocok. Dan sekarang tinggal petaninya saja untuk cara mengolahnya, ungkap Dewi.

"Yang menentukan kawasan pengembangan tanaman bawang dari propinsi".

Sebetulnya program penanaman Bawang di Tanjab Timur tersebut berawal dari rapat di Provinsi dan kita mendapatkan jatah 20 Hektar dan satker  di dinas TPH kabupaten diminta untuk mengusulkan, Satker kemudian menunjuk beberapa kelompok tani penerima.

Sementara itu Fathoni ketua  kelompok tani Mekarsari desa Parit Culum II mengatakan hanya mendapatkan bantuan berupa 3 kampit benih,  10 gulung Mulsa, 3 botol pupuk cair.

"Jadi benih hanya 3 kg saja, tidak seperti yang disampaikan 3,5 kg, tidak ada Fungisida dan Insektisida. Kendala di pembibitan/persemaian banyak yang mati", ungkapnya.

Fathoni juga menambahkan, kita betul betul awam soal budidaya bawang, karena ada hibah saja kita terima.

Terpisah Rahman Petani Simbur Naik kecamatan Muara Sabak Timur menyampaikan ada program penanaman bawang dari pemerintah tetapi sekarang ini (7/4) baru menyiapkan lahan.

Lain halnya yang disampaikan Sunanto PPL pembantu kelurahan  Parit Culum 2, yang juga menjadi ketua kelompok tani SukaJaya kelurahan Teluk Dawan. Kepada kantor berita waktoe (9/4) mengatakan budidaya bawang masih coba coba, tidak ada yang didasari dengan analisa dan kajian yang matang.

"Jangan salahkan petani karena mereka hanya menerima dan menjalankan, kalau sepengetahuan saya petani untuk penanaman 1 Ha di Parit Culum 2 ini  Biji Benih Bawang 3 bungkus, Mulsa 8 roll, Pupuk Cair dan Insektisida", ungkapnya.

Semua diserahkan oleh David seksi produksi di bidang Hortikultura dan Edi Subroto selaku PPL. Yang 0,5 Ha sudah ditanam dan sudah panen hasilnya hanya 30 persen sedangkan yang 0,5 Ha baru proses semai.

Saat dipertanyakan apakah petani akan menanam bawang lagi, Sunanto berupaya terus mendorong untuk ujicoba lagi agar berhasil. "Sebetulnya bisa dikatakan lahan tidak layak untuk tanam bawang, jadi lebih ke istilah coba coba, karena belum ada ilmunya", pungkas Sunanto.

Saat dipertanyakan tentang beberapa temuan di lapangan seperti jumlah dan jenis barang yang diterima petani bawang tidak sesuai, Dan dikatakan diserahkan langsung dari pihak provinsi ternyata  diserahkan David seksi produksi bersama PPL, Tingkat keberhasilan hanya 30 persen. Dan, Banyak petani hingga kini belum melakukan penanaman Bawang, Dewi Karlia Kabid Hortikultura Dinas TPH Tanjab Timur tidak menjawab.

Uji Coba Tanam Bawang Gagal

Ditahun yang sama (2020, red) dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura bidang Hortikultura  juga melakukan penanaman bawang  yang dilakukan oleh Kelompok Tani Garuda Tumpang di Muara Sabak Barat.

Pemerintah menganggarkan Rp. 59.000.000,- untuk penanaman 1 Hektar yang dikelola oleh Sunarto Kelompok Tani GT  dengan pendampingan Saharudin dari Satker TPH.

Dewi Karlia kabid Hortikultura dinas TPH Tanjab Timur menjelaskan, jenis Saprodi yang kita hibahkan untuk budidaya Bawang seluas 1 Ha tersebut meliputi, Pupuk Kandang 400 sak (2 ton), Benih 4 kg dari Pana Merah, Mulsa 8 ball/roll, Pastik semai (sungkup) 1 roll, Pupuk NPK 4 sak (200 Kg), Herbisida 8 liter, Insektisida 4 liter dan Fungisids 4 ltr
Total senilai Rp. 59.000.000,- dengan menunjuk pihak ketiga CV. Niswa.

"Realitasnya masih jauh dari yang diharapkan.Dan, hasil bawang merah diperjual belikan oleh kelompok tani itu sendiri", pungkasnya.