Rowo Jombor Akan Dikembalikan Ke Fungsinya, Untuk Irigasi


Penataan rowo jombor sebagai areal pengendali dan irigasi pertanian. waktoe | kominfo

Penataan rowo jombor sebagai areal pengendali dan irigasi pertanian. waktoe | kominfo

KLATEN -  Klaten sebagai kawasan penyangga pangan nasional bakal disokong keberadaan air Rowo Jombor.  Melalui program revitalisasi, rowo seluas 198 hektar itu akan dikembalikan ke fungsi dasarnya sebagai infrastruktur irigasi guna menopang pasokan air lahan pertanian.

Hal itu ditandaskan Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Klaten Harjaka saat dikonfirmasi (Senin, 14/06) terkait akan berjalannya tahapan pembangunan Rowo Jombor yang terletak di Desa Krakitan, Bayat, Klaten itu.

“Kawasan Rowo Jombor direvitalisasi bertujuan untuk mengembalikan fungsi dasarnya yang sudah mengalami penurunan baik fungsi bangunan, ekonomi maupun sosial.  Di sini sangat tampak sekali penurunan fungsi bangunan dari waduk seperti yang dulu sebagai fungsi irigasi dan pengendali banjir namun kini sudah  bergeser ke kepentingan yang lain.  Sekarang Rowo Jombor menjadi  obyek peternakan ikan karamba, warung apung dan wisata. Harapan ke depan, Rowo Jombor dikembalikan ke fungsi semula dengan revitalisasi," terang Harjaka.

Terkait kondisi terkini Harjaka menerangkan kalau kondisi Rowo Jombor saat ini sudah banyak mengalami  sedimentasi.  Faktor penyebabnya sangat banyak, salah satunyamembusuknya enceng gondok.

“Kondisi rowo saat perlu perhatian serius.  Pembusukanenceng gondok,  warung apung dan karamba ditengarai menjadi faktor-faktor penting terjadinya sedimentasi dan menyebabkan elevasi atau berkurangnya cakupan luasan permuikaan air.  Tentunya juga pencemaran sampah dari air yang masuk ke rowo juga berdampak sedimen dan sampah yang luar biasa. Sehingga akan mempengaruhi volume tampungan waduk.  Hal ini yang perlu dipahami masyarakat akan pentingnya revitalisasi," ungkapnya.

Sementara penggiat sungai Arif Fuad Hidayat (38) warga Prambanan, Klaten saat ditemuai mengaku kondisi Rowo Jombor sudah sangat tercemar.  Faktor sedimentasi, sampah dan enceng gondok berkontribusi terhadap penurunan kualitas kehidupan hayati Rowo Jombor.

“Kami bersama relawan terus bergotong-royong membersihkan Rowo Jombor baik itu sampah atau enceng gondok. Gerakan kami adalah gerakan sosial saja atau kepedulian lingkungan.  Kalau revitalisasi itu dikerjakan serius saya yakin nilai lingkungan, sosial dan ekonomi akan terangkat.  Misalnya saja akan adanya taman kuliner Nyi Rakit di ujung timur Rowo Jombor. Saya yakin atas dukungan banyak pihak, rowo terbesar di Klaten ini bisa menjadi destinasi wisata andalan di Kabupaten Klaten.  Saya dan teman-teman relawan sungai sangat mendukung program revitalisasi ini, " harap Arif.

Revitalisasi Rowo Jombor Klaten tahap kedua sendiri menelan anggaran 50 milyar bersumber APBN melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo .  Proyek akan diprioritas pada pengutan bendungan, fasilitas pedistrian jogging track, penataan lingkungan termasuk warung apung dan keramba.